O3 ↳ Dua Hal untuk Gian

154 28 16
                                              

          "Lyan pulang, Eyang!"

          Suara gapura terbuka mengusik telinga tujuh pemuda. Berbagai macam air muka terlukis di durja. Ada yang merotasikan netra, ada yang mendengus murka, ada pula yang diam-diam lega.

          "Tuh, cucu kesayangan Eyang pulang." Arkael melipat hasta di depan dada. Netranya bersilih malas ke arah Lyan yang masih setia memasang lengkungan kurva di bibirnya.

          "Loh, kalian di sini? Kakak nggak tau kalau kalian lagi main di rumah Eyang. Kalau tau kalian di sini Kakak tadi beliin kue balok sekalian-"

          "Atres mau pulang Eyang. Kak Lyan udah ketemu kan," potong Satresna. Pemuda itu lantas melampirkan jaket biru tua ke pundaknya. Yang lain pun sama. Tampak tak mau lagi berlama-lama.

          "Nyusahin aja bisanya," gumam Segara, dengan sengaja.

          Lyan bersegera mengikuti langkah tujuh pemuda yang kini sudah keluar dari wisma. Pemudi itu tak enak hati rupanya, Batavia. "Hati-hati ya pulangnya. Maaf, kalian jadi repot gara-gara Kakak," ujarnya yang sampai di telinga, namun seperti tak ada.

          Semesta, kalau Lyan boleh memilih- dulu, sebelum ia diperintahkan oleh sang pencipta tinggal di bumi Batavia untuk menunaikan misinya, ia mau berkata; "Tuhan, Lyan maunya lahir jadi laki-laki saja."

          Ya, mendapat perlakuan berbeda dari Eyang memang menjadi hadiah yang indah dari tuhan. Hanya saja, ia merasa tidak nyaman. Di satu sisi teramat diperhatikan. Di sisi lain ada begitu banyak kebencian dan bayangan kekecewaan. Ada harapan, yang tidak bisa ditentukan sesuai dengan keinginan Lyan.

          Lyan menatap bulan yang kini terhalang awan, bintang pun demikian. Ia menghirup beberapa helai udara ketenangan. Kemudian, diambilnya gawai untuk mengirim beberapa pesan.

Ayah

Ayah.|

Tadi di sekolah, Lyan
dapat nilai 100! Ayah
bangga nggak?|

          "Selamat beristirahat teruntuk penghuni Nawakarsa! Kembali lagi di Dermarasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

          "Selamat beristirahat teruntuk penghuni Nawakarsa! Kembali lagi di Dermarasa. Dermaga Suara Nawakarsa. Bersama saya Naremang Rimbi Lyandari, yang akan menemani kalian hingga 15 menit ke depan."

          Lyan menduduki kursi ruang siar kembali dengan senyum secerah mentari. Waktu paling membahagiakan datang semiggu sekali. Tugasnya menyampaikan mengenai berita terkini, menjadi perantara isi hati, serta memutar lagu rekomendasi muda-mudi. Dan kali ini, Lyan membawa satu misi, yang sudah dibenahi nyali malam tadi.

          "Salam yang terakhir dari Lyan, untuk pemain basket nomor punggung 09 yang sekarang lagi jalan tepat di depan ruang siaran. Gian, jangan lupa senyum, ya!" ujarnya, dua menit sebelum usainya Dermarasa, dengan izin semesta dan seolah-olah waktu jua turut serta mengirim soraknya untuk mereka.

Kisah Jatuh dan PatahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang