O2 ↳ Tuan Bulan Sabit

254 49 38
                                              

          Agian Wilalung Salasa. Titik kurva milik Lyan meninggi kala asma pemuda yang baru-baru ini hinggap di hatinya tertera di sebuah laman sosial media. Insomnia yang ia derita ternyata ada gunanya, semesta. Hanya saja, selepas ia mengunjungi akun dengan berpuluh-puluh ribu pengikut itu, sang jemari yang sudah wira-wiri sedari tadi merasa terhianati. Akunnya direngkuh privasi. Permintaan mengikuti Lyan jua belum dikonfirmasi.

          Lyan menghela napas beberapa kali. Fokusnya terkunci pada jendela notifikasi. Hingga kantuk mulai mengelilingi. Pemudi itu menyempitkan dahi, sudah hampir pukul dua pagi. Ah benar Pertiwi, mana mungkin pemuda itu masih terjaga di jam-jam seperti ini?

          "Gian pasti udah tidur, Lyan." Lyan menyimpan gawainya di nakas. Menjejaki segala informasi mengenai Agian cukup membuat energinya terkuras. Ia lekas melajukan diri ke alam mimpi, tanpa tahu gawainya menyala kembali menampilkan sederet notifikasi.

          "Ish, kok nyala sih flashnya?!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

          "Ish, kok nyala sih flashnya?!"

          "Mampus," ujar Gadis dan Gedhis bersamaan. Kalakian, dua pemudi itu bergegas menyilihkan pandangan. Tak alang kepalang, Gadis jua membalikan badan. Sedang Gendhis tampak mendindingi durja miliknya dengan makanan ringan yang tertata dalam dipan. Tahu benar mereka akan menjadi pusat perhatian.

           Lyan menampilkan deret gigi. Agian sepertinya menyadari, kalau ada seorang paparazzi. "Hapus," pintanya seraya menghampiri Lyan yang masih menyimpan malu akan kejadian tadi.

          "Nggak mau," tolak Lyan. Dengan segera ia menyembunyikan gawainya di balik badan. Terlihat tegas memberi penolakan. Gadis dan Gendhis bertatapan. Mereka kira, Lyan akan memberi permintaan maaf kepada Gian. Halnya seorang yang telah melakukan kesalahan. Serta merta Gadis dan Gendhis memberi dukungan.

          "PERTAHANKAN FOTO GIAN, LYAN!" teriak Gendhis, berteriak histeris. Membuat Lyan meringis.

          Adegan kian menyita perhatian. Bahkan, mereka rela menjeda suapan hanya untuk melihat interaksi Gian dengan seorang perempuan. Agian yang menyadari ia dan Lyan menjadi pusat perhatian mulai menarik sebuah senyuman. Tersiarlah teriakan-teriakan yang sempat tertahan di kerongkongan.

          "GIAN SENYUM KE CEWEK WOY!"

          Bagi Lyan, tersenyumnya Gian pagi itu adalah perihal yang pelik. Cerita burung yang dengan mudah berlabuh di telinga mengenai si pemuda seperti maya yang hampir Lyan percaya. Batavia, coba percaya, Gian berbeda dari karangan cerita manusia-manusia Nawakarsa.

          Hujan deras dalam pikiran. Terlalu banyak dugaan berserakan. Membuat Agian dengan mudah membalikan keadaan. Mengesankan. Gian tampaknya paham benar akan dampak yang ditimbulkan satu senyuman untuk Lyan. Benar, hatinya membadai. Kalau boleh, Lyan ingin melihatnya sekali lagi, Pertiwi.

          "Ish, curang!" tanggapnya selepas pikirnya yang mengelana sudah kembali ke wismanya. Sejujurnya percuma. Karena Agian sudah terlantas menghapus potretnya.

Kisah Jatuh dan PatahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang