2.) Second Impression?

138 24 11
                                    

Hari yang sial, pecahan kaca membuat mood  seorang lelaki bernama Chanhee menjadi kacau. Dia memijat kepalanya perlahan, pikirannya berkecamuk.

Dia berlari kesana kemari mencari sapu dan segera membersihkan pecahan gelas kaca tersebut yang akan dipindahkan ke dalam plastik sampah. Ya, lelaki itu tampak sekali tergesa-gesa. Dia memiliki janji bersama temannya untuk datang ke perpustakaan kota hari ini. Dia tidak punya banyak waktu. Karena tergesa-gesa dan sifat cerobohnya, dia melukai tangannya sendiri.

"Ah!"

"Sakit... " setelah menotis salah satu jarinya terkena serpihan kaca, dia segera membasuh darah segar yang keluar dari telunjuknya perlahan.

Dia meniup jarinya dan menyudutkan bibirnya. Saat membuka kotak P3K, dia lekas mengambil obat antibiotik untuk diteteskan ke luka nya, mencari plester lucu bermotif penguin untuk menutupi luka kecilnya itu.

"Sebel banget, kenapa kamu ceroboh banget sih..." ucap Chanhee kepada dirinya sendiri.

Setelah dirasa selesai untuk mengurus luka dan serpihan kaca itu, Chanhee segera mengambil sepatu dari rak di depan ruang tamu, kemudian memilih yang berwarna putih bersih. Dia segera menali ikat sepatunya dan berdiri. Sebelum dia membuka pintu untuk meninggalkan rumahnya, tidak lupa dia mengetuk-ketuk ujung sepatunya ke lantai.

Tetapi dia memiliki kebiasaan buruk ketika memakai sepatu. Tentu saja dia tidak memasukkan seluruh kakinya ke dalam sepatu. Dia selalu menginjak sepatu bagian belakangnya dan membiarkan kakinya setengah masuk. "Lebih simpel" katanya.

Setelah berjalan kaki kurang lebih 500 meter menuju halte, dia berhenti. Sangat risau pikirannya karena bus tidak kunjung datang padahal dia datang tepat waktu seperti jadwal biasanya. Dia mengeluh. Dan memutuskan untuk duduk sejenak memberikan chat kepada Kevin, guna memberi kabar tampaknya dia sedikit lebih terlambat untuk berdiskusi bersama.

Chanhee terbelalak setelah dia melihat seseorang yang tidak asing di depannya melintas begitu saja. Dia tampak membawa kotak besar yang tidak terlalu berat di depan dadanya. Pria itu mendekat, mendekatkan wajahnya kepada Chanhee seakan mencoba untuk mengenali wajah yang tertutup oleh buku.

"Heh?!" Hyunjae berseru.

Chanhee terbelalak kaget. Dia dengan cepar meringis meletakkan buku tadi jauh wajahnya. Dia merasa sangat malu dan terganggu. Kenapa orang ini harus ada disini?

"Lo nunggu bis yang mana? Bis yang lo tunggu barusan pergi." Hyunjae masih berdiri di depannya dan menunduk untuk tetap berkomunikasi dengan Chanhee. Wajahnya terlihat terang. Dia menyipitkan matanya. Chanhee membuang muka jauh agar Hyunjae tidak tampak curiga.

"Gue tau lo anak klub literasi. Lo mau ke perpus kota?" Hyunjae tetap melontarkan beberapa pertanyaan kepada Chanhee. Sedangkan Chanhee hanya diam disana berlagak menunggu sebuah bis yang datang.

"Woi!" Hyunjae menendang kaki bagian bawah Chanhee, "kok diem aja? Mau gueㅡ"

"Nggak kak, ngga perlu. Makasih banget nanti jadi ngerepotin," Chanhee tersenyum. Dia sudah tau, sangat tau ini seperti adegan Kdrama yang akan berakhir dengan dia akan dibonceng bersama dengan Hyunjae. Geli, dia segera menghapus pikiran itu, "lagian kakak bawa kotak segede itu gimana aku mau bawanya? Maaf banget. Gabisa kak." Jelas Chanhee.

Hyunjae bingung menunjukkan wajah kebingungannya. "Enggak lah gue nggak bakal bonceng lu."

Chanhee terdiam menatap Hyunjae dengan tatapan kosong.

"Lagian gue gak bawa motor."

"Terus???"

"Gue mau nitip kardus ini kalau lo jadi ke perpus. Gue pesenin taksi," jelas Hyunjae segera menyerahkan kardus tersebut kepada Chanhee, "lagian gue juga tau lo bakal ke perpus. Sering gue liat lo kesana."

I Fell For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang