2.) Second Impression?

Mulai dari awal
                                    

"Hah? Tunggu, gak salah nih?" tanya Chanhee dengan memangku kardus besar itu sambil menganga kebingungan.

"Nggak lah. Lo kan temennya Juyeon. Ini juga harusnya ganti rugi lo karena udah lempar batu ke gue waktu itu," Jelas Hyunjae, "nah udah dateng tuh mobilnya. Lo berangkat sana, udah gue bayar." Hyunjae dengan cepat memaksa Chanhee untuk berdiri dan memaksa masuk ke dalam mobil tersebut. Pintu tertutup. Terlihat wajah Hyunjae yang terang terkena sinar matahari. Dia berteriak cukup lantang, tetapi tidak cukup terdengar di dalam mobil. Terlihat gemas sambil melambaikan tangannya kepada Chanhee.

"Tiati!" Hyunjae tersenyum lebar,  memperlihatkan gigi bagian atasnya itu. Manis, lucu, dari jauh terlihat kecil mungil sembari menggaruk-garukkan rambut curly  nya yang tidak gatal. Chanhee hanya bisa diam, membeku, menahan malunya. Bingung kemudian mulai menggigiti jari-jarinya, dia yakin sekali wajahnya pasti sudah mirip kepiting rebus. "Yakin dia orang yang kemarin? Yang kemarin galak, tapi tadi baik ... Hari yang sial." Gumamnya.

Setelah memakan banyak waktu, bertemu orang tidak jelas, mungkin dia bisa mengumpat dalam hati ketika orang modelan seperti Hyunjae random akan bertemu dengannya lagi. Orang itu yang bahkan tidak dikenal baik oleh Chanhee sendiri, dia tidak menyangka akan mendapatkan sedikit benefit darinya. Karena Hyunjae, dia dengan selamat dan tepat waktu dapat sampai di perpustakaan tanpa harus menunggu lama-lama di halte, meskipun dia sudah sedikit dipermalukan karena yakin bus tidak akan datang hari ini sekaligus membawa kardus yang super besar. Sial.

Lelaki berkaki kurus dan panjang itu bergegas masuk ke ruangan tidak lupa membawa kardus besar yang telah dibawanya sedari tadi hingga menutupi wajah cantiknya itu. "Apasih isinya? Tidak terlalu berat. Kenapa harus besar sekali?" batinnya. "apa Hyunjae cuma pengen bales dendam dengan malu-maluin gue ya karena dia tau gue bakal ke perpus hari ini?" Pikirannya berkecamuk. Seperti kita semua, Chanhee pun juga bisa overthinking.

Setelah sampai, dia kesulitan membuka pintu ruangan karena ukuran kardus jumbonya.

Dug.

Dug.

Suara tersebut terdengar dari arah pintu kaca depan. Karena hanya beberapa orang di ruangan itu, Kevin dengan mudah dapat mendengar suara itu. Segera dia menghampiri sumber suara tanpa pikir panjang. Setelah menyadari seseorang di balik kardus tersebut ternyata adalah teman dekatnya sendiri, dia mengehela napasnya.

"Aku kira apa tadi, Chan."

Kepala mungil itu mencoba mengintip dari atas kardus yang dibawanya itu.

"Haaa? Nggak ngertiiii, ngga dengeeer." Ucapnya yang tidak terdengar suaranya dari luar ruangan.

Chanhee menghela napas, mendongakkan kepalanya, menggeleng-gelengkannya dengan menghadap keatas seakan mengekspresikan jika sudah sangat lelah dengan apa yang dihadapinya saat ini.

"Gemes," Kevin terkekeh.

Dia menyisakan senyumannya yang manis sembari membantu Chanhee untuk masuk dan menggotong kardusnya bersama. Sampai saat ini, Kevin adalah teman Chanhee yang paling dia percayai. Ketika bersama orang lain, Chanhee dapat menjadi jutek, tetapi ketika Kevin yang menjahilinya, Chanhee dengan sabar mengelus-elus dadanya, "Sabar, nggak apa-apa kalau Kevin."

Chanhee sedikit memperlakukan Kevin spesial karena mereka adalah teman baik sejak kelas 12 dan berakhir melanjutkan di universitas yang sama. Selain itu, Kevin adalah anak pindahan dari Kanada, dia banyak menghabiskan waktu dengan Chanhee waktu pertama kali datang ke Korea. Mereka seringkali pergi menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ketika pulang sekolah untuk mengenalkan suasana ataupun budaya dan kebiasaan masyarakat kepada Kevin. Kevin merasa beruntung dapat berteman dengannya. Begitupun Chanhee, dia merasa Kevin adalah seseorang yang benar-benar dapat dipercaya. 

"Kenapa lama banget?" Tanya Kevin.

"Macet," ucapnya sambil menatap langit-langit ruangan berlagak siap untuk mencari buku untuk bahan diskusi.

"Hmmm? Terus kardusnya? Kok tiba-tiba banget bawa gituan. Emang isinya apa pake disegel segala?" Selidik Kevin. Chanhee hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia juga sebenarnya tidak paham. Bodoh sekali dia tidak bertanya akan diserahkan siapa kardus tersebut.

Kevin hanya menghela napas sambil memandangi Chanhee dan menggelengkan kepalanya perlahan.

"Udah nyampe?"

Terdengar suara lelaki yang tidak asing bagi mereka berdua. Mereka menoleh, "Udah bang," jawab Chanhee kepada Sangyeon.

"Loh kok kamu yang bawa kardusnya, Chan? Hyunjae kemana?" Tanya Sangyeon.

"Sini, bang!"

Lelaki yang menyaut pertanyaan Sangyeon tersebut datang berlawanan dari pandangan Chanhee dan Kevin. Mereka refleks menengok, memeriksa suara siapakah itu. Chanhee terbelalak. Dia kaget? Entah, yang pasti Hyunjae sudah memakai baju rapi tetapi santai dengan sepatu abu-abu yang sesuai dengan baju yang dia pakai saat ini. Ganteng.

"Kakak juga kesini?" Tanya Chanhee.

"Iya dong," jawab Hyunjae dengan senyum manis seakan bangga dan senang. Suasana hatinya dapat dibaca, dia terlihat cukup senang hari ini.

"Kalau gitu ngapain tadi nyuruh aku bawain kardusnya kalo akhir-akhirnya tetep kesini?!?!" Chanhee dengan cepat memperotes Hyunjae. Hyunjae mengedipkan matanya berkali-kali kaget dan kebingungan.

"Nyenyenyenye" dia mengejek, mendekatkan wajahnya kearah Chanhee lalu menjelaskan, "kalau nggak gitu dari tadi lo tadi gaakan nyampe, bodoh"

Chanhee sangat geram. Jika dia berkesempatan, dia pasti sudah mencekik Hyunjae. 


Aku minta kritik dan sarannya ya teman-teman. <3

I Fell For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang