8. Elegi Tentang Kita

76.6K 15.4K 6.1K
                                    

Inginku sederhana, ada kamu di sini
Selama yang kau bisa, selama yang ku bisa
Mungkin benar, kita adalah orang-orang yang tak mampu menghentikan waktu
Tapi kita adalah sepasang elegi yang mampu menghentikan rasa
Kita berhenti pada satu sama lain

***

Di sebuah sore yang temaram, aroma kopi panas menguar bersama sisa-sisa gerimis yang jatuh sejak jam 2 siang. Meski nampak redup, matahari kembali muncul di langit sore. Langit berubah warna, tapi dingin hari itu masih terasa sama.

Ditemani sendu, Nana memainkan sebuah lagu yang dulunya sering ia dengar setiap sore. Nada petikan gitarnya bahkan terdengar sama-sama getir.

"Jangan jadi manusia galau."

Lagu itu berhenti. Karena tahu-tahu, Kak Ros muncul dengan penampilan yang jauh lebih segar. Tak lama kemudian ia duduk di kursi seberang, mencomot satu potong pisang goreng dan mengunyahnya dengan gerak lamat.

Rambutnya dibiarkan setengah basah. Seakan-akan membiarkan waktu untuk membuatnya kering dengan sendirinya. Celana pendek dengan kaos polos sedikit kebesaran membuat Kak Ros sering kali disalah pahami. Dia sering dikira adik Nana alih-alih kakaknya.

"Emang manusia nggak boleh sedih?"

Eros terkikik. "Boleh, siapa yang bilang manusia nggak boleh sedih? Kita boleh menangis, kita boleh terluka, kita boleh jatuh lalu gagal. Tapi jangan lupa, kita juga boleh bahagia."

Nana menoleh tanpa suara saat kakaknya itu terkekeh sebentar, sebelum akhirnya dia menelan habis pisang gorengnya dan menenggak satu-satunya cangkir kopi yang ada di sana.

"Sedihmu sudah terlalu lama." sambungnya. "Sama kayak kaktus yang juga butuh air, manusia juga butuh sedih. Tapi kamu itu kayak kaktus yang kebanyakan disiram. Bukannya hidup, akhirnya malah membusuk."

Lagi-lagi Nana hanya bisa menghela napas panjang. Eros hanya bisa tersenyum kecut setiap kali Nana duduk terpekur seperti ini.

Sendu di antara keduanya sore itu lantas menepi saat Cetta muncul entah dari mana. Sepedanya dikayuh dengan kecepatan paling tinggi. Hingga tepat di depan teras, bocah itu memanuver sepedanya bak pembalap motor handal.

"Wreeeeng. Brum, brum!! Ciiiiiiiiit."

Kemudian sepedanya diletakkan begitu saja, membuat Eros dan Nana praktis geleng-geleng kepala.

Tubuh anak itu basah kuyup. Sekujur tubuhnya bahkan nyaris dipenuhi lumpur. Rambutnya yang hampir menyentuh telinga kelihatan seperti tidak pernah dikeramasi selama berminggu-minggu.

"EEEIIIIT!! Muter lo. Lewat garasi!" Nana tahu-tahu melotot saat Cetta hendak melangkah memasuki rumah.

"Yaaaah..." lenguh anak itu.

"Nggak pakai yaaah-yaaah, lo nggak tahu aja perjuangan Jaya ngepel lantai dari pulang sekolah. Muter lo."

Alhasil Cetta menghela napas panjang dan mengambil langkah lebar menjauhi teras rumah. Anak itu melangkah gontai memasuki garasi. Hingga dengan begitu saja, Eros tertawa.

"Gimana kampus?"

"Hah? Baik. Cuma belakangan emang lagi sibuk-sibuknya sih, mau ada acara tahunan. Jadi kayaknya minggu ini bakalan pulang malam terus."

"Tadi Sahara ke sini." Eros menoleh, hanya untuk menemukan Nana mencebik tidak suka.

"Bodo amat." cibirnya.

"Gitu-gitu Sahara itu cinta matinya Abangmu." Eros tergelak, nyaris membuat Nana menyemburkan kopi yang diminumnya.

"Apa yang layak dicintai sampai mati dari orang yang bahkan nggak pernah menghargai dia selama bertahun-tahun? Itu goblok namanya."

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang