05. Kue Untuk Davian

71 68 14
                                              

Rachel berdiri dari kursi yang di dudukinya setelah ia selesai mengikat tali di kedua sepatunya. "Pa, Rachel udah siap. Cus, ayok berangkat!"

"Panggil Mama kamu, pamit dulu," peringat Galih, pria paruh baya dengan setelan kantor rapi yang merupakan Papa Rachel.

Rachel mengangguk, ia lalu berseru. "MA, RACHEL SAMA PAPA MAU BERANGKAT NIH!"

Tak lama Tias keluar dari dapur, wanita berbalut celemek masak itu terlihat langsung berjalan menghampiri ke arah anak perempuannya.

"Iya, tapi ini sekalian bawain kue buat Davian ya, sebagai ucapan tanda terima kasih." kata Tias sambil menyerahkan sekotak bungkusan pada Rachel.

"Davian, siapa Ma?" Galih bertanya keheranan.

"Ada deh," Tias memeletkan lidahnya.

Galih mendengus. "Awas ya kamu kalau ada rahasia-rahasiaan sama aku,"

Rachel mengernyit geli melihat tingkah keduanya. "Iih apaan sih Mama sama Papa. Udah pada tua juga kelakuannya kayak masih abg aja!"

Tias hanya cekikikan menanggapinya. "Udah ah sana kalian buruan berangkat. Udah jam setengah enam lebih ini, nanti pada terlambat. Dan buat Rachel, itu kue nya jangan lupa di kasihin ke Davian ya, jangan malah di makan sendiri nanti!"

Rachel merengut. "Hmm, iya-iya Mama bawel," ucapnya yang langsung di berikan pelototan oleh Tias. Kontan Rachel meringis dan mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.

Setelahnya Ayah dan anak itu pun lantas berpamitan kepada sang nyonya rumah lalu menuju keluar dan masuk ke dalam mobil.

"Emang Davian siapa sih Hel?" tanya Galih yang ternyata masih berada dalam mode ingin tahunya setelah mereka berada di tengah-tengah perjalanan.

"Kakak kelas Rachel di sekolah," jawab Rachel sambil memainkan ponselnya.

"Terus kenapa tuh Mama kamu sampai bela-belain bawain dia kue segala?" 

Rachel menyimpan ponselnya, lalu beralih fokus ke arah Papanya. Ia pun mulai menceritakan kisahnya kemarin yang di antar pulang oleh Davian.

"Jadi gitu Pa ceritanya. Mungkin karena Mama terkesan sama sikapnya kak Davi dan juga sebagai rasa terimakasih karena anaknya yang cantik ini sudah di antar pulang sampai tujuan dengan selamat, Mama jadi ngasih kue ini deh." jelas Rachel setelah selesai bercerita panjang lebar.

Galih manggut-manggut dan ber-oh ria. Hingga akhirnya mobil pun sampai di depan gerbang SMA Jaya.

Rachel melepas setbealt yang melingkari badannya lalu mengulurkan tangannya untuk salim kepada sang Papa.

"Belajar yang bener ya Hel, jangan malah sibuk pacaran!" peringat Galih.

"Yee pacar aja nggak punya, mau sibuk pacaran darimana coba?" balas Rachel.

"Nah, bagus itu. Belajar sampai pinter aja dulu, pacaran mah belakangan,"

"Kalau sekarang sih Rachel masih bisa bilang siap Pa. Tapi nggak tau nanti kalau misalnya tiba-tiba ada cowok ganteng yang khilaf mau jadiin Rachel pacar."

"Yee kamu ini," Galih menjitak jidat anaknya pelan. Sementara yang di jitak hanya tertawa-tawa saja. "Udah sana keluar, cepetan masuk ke sekolah dan belajar yang rajin!"

Rachel mengacungkan jempolnya dan keluar dari dalam mobil, ia lalu segera memasuki gerbang sekolahnya yang sudah ramai di lalui oleh para murid-murid lain.

•••

Saat Rachel sedang santai-santainya berjalan menyusuri koridor, beberapa meter di depan sana dengan jelas dan sangat hafal betul, Rachel dapat melihat sosok sang pujaan hatinya dengan masih mencangklong tas tengah berbincang-bincang dengan salah satu guru olahraga di sekolah ini.

Kebetulan, jadi Rachel bisa langsung menyerahkan kue pemberian Mamanya kepada Davian sekarang. Tapi ia akan menunggu dari sini sampai gebetan terkasihnya itu menyelesaikan perbincangannya terlebih dahulu dengan sang guru.

Setelah beberapa menit menunggu, tak lama guru itupun berlalu setelah beberapa kali memberikan tepukan di pundak Davian. Rachel pun kontan langsung berlari menghampiri sambil berseru menyebut-nyebut nama Davian sebelum cowok itu melangkahkan kakinya.

"Kak Davi, kak, tunggu kak!"

Davian menoleh dan mengerutkan kedua alisnya keheranan melihat Rachel yang berlarian menuju ke arahnya. "Eh, Rachel? Lo ngapain lari-larian gitu?" tanya Davian setelah Rachel berhenti tepat di hadapannya.

Rachel nyengir. "Gue mau kasih sesuatu buat lo kak," Ucap Rachel lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sekotak bungkusan kue yang tadi di titipi oleh sang Mama, setelah itu langsung di angsurkannya ke arah Davian.

"Apaan nih?" Davian mengerutkan kedua alisnya.

"Kue dari nyokap, katanya sebagai ucapan terimakasih karena kakak udah nganterin gue pulang kemarin,"

Davian terkekeh merasa takjub. "Waduh...baik banget sih nyokap lo, perasaan kemarin itu bukan apa-apa deh, gue cuma nganterin lo pulang doang padahal, tapi sampek segininya repot-repot di bawain kue segala,"

"Mungkin ini tebusan buat kakak yang kemarin nolak di suruh mampir,"

Davian tertawa. Di terimanya bungkusan itu dari tangan Rachel lalu di dekatkannya ke arah wajahnya. "Wuih, harum banget baunya, enak banget nih pasti," tukas Davian.

"Hehehe, itu nyokap gue sendiri loh yang buat," kata Rachel di tengah langkah mereka berdua.

Davian menunjukkan raut wajah kepada Rachel yang seolah mengatakan 'Oh ya?'.

Rachel mengangguk. "Iya. Btw nyokap gue di rumah juga buka katering makanan sama kue-kue. Jadi kalau misalnya lo atau orang-orang terdekat lo ada yang mau ngadain acara bisa pesen di gue ya." ucap Rachel berpromosi.

"Ooh, jadi gue di kasih ini sebagai bahan endorsan ternyata?" Davian memicingkan sebelah alisnya.

Rachel membulatkan matanya. "Eh, bukan-bukan. Jangan salah sangka. Itu nyokap gue ngasih, murni sebagai tanda terimakasih buat lo kok,"

Sontak Davian langsung tertawa terbahak-bahak di buatnya. "Gue bercanda kali Hel. Ya ampun... Muka lo lucu banget sih, kayak orang panik gitu." ucap Davian yang masih belum menghentikan tawanya.

Rachel memerah malu sekaligus terpana dengan Davian. "Ish, elo mah kak," reflek Rachel meninju lengan Davian keras.

Davian terperanjat dan kontan menghentikan tawanya saat merasakan pukulan Rachel yang terasa lumayan di lengannya. "Duh, kuat juga lo Hel mukulnya," ucap Davian sambil mengusap-usap lengannya.

Rachel meringis. "Eh, Sorry-sorry kak, reflek gue. Sakit ya?" tanyanya tak enak hati.

Davian terkekeh. "Yah, lumayan lah untuk seukuran cewek mungil kayak lo, tapi it's okey,"

Rachel menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal dengan salah tingkah. Duh, kak Davi, gue kan jadi tambah baper sama lo. Batin Rachel memelas.

Hingga tak terasa di tengah-tengah langkah mereka sambil berbincang ringan, mereka sudah sampai berada di dekat kelas Rachel dan tangga menuju kelas Davian.

"Btw, thank's ya Hel kuenya. Sampein salam gue buat nyokap lo juga. Kalau gitu gue naik duluan ya, daah." ucap Davian yang langsung melanjutkan langkahnya naik ke tangga.

Sementara itu Rachel masih berdiri di tempatnya sambil senyum-senyum memandang langkah Davian sampai hilang di belokan.

Setelahnya, barulah dia memasuki kelasnya. Namun Rachel di buat terlonjak saat mendapati Alda dan Chika yang berdiri tepat di depan pintu dengan mata yang menyorot tajam ke arahnya bak Suzana.

"Lo harus ceritain semuanya ke kita!" kata Alda dan keduanya pun lantas menyeret Rachel masuk ke dalam kelas.

Senior I'm In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang