Bagian 32 ~ Modus

34 25 10
                                                  

Bagas dan Karina sudah sampai di masjid sederhana warna putih di tengah komplek, bukan di pedesaan lagi. Sekarang jarak rumah Karina hanya tinggal beberapa meter saja.

Karina turun dari braket belakang, dan Bagas memarkirkan sepeda ontelnya.

"Kar, lo bisa bantuin gue gak?" tanya Bagas.

"Bantuin apa?"

"Ambilin sarung di dalem. Kan gue pake celana pendek, yakali gue masuk masjid pake celana pendek."

"Eum, yaudah gue ambilin dulu, gue juga mau ambil mukena. Lo nunggu sambil wudhu dulu, juga gapapa kok," suruh Karina.

"Ketemu disini lagi ya."

"Oke."

Karina masuk kedalam masjid menuju almari warna coklat, almari itu berada di tengah-tengah antara pintu masuk jamaah laki-laki yang berada di kanan, dan pintu masuk jamaah perempuan yang berada di sebelah kiri.

Terlihat sudah ada beberapa jamaah yang meninggalkan masjid, karena waktu magrib sudah lewat. Ada juga yang masih berada di dalam masjid untuk menunggu waktu isya.

Setelah mengambil mukena dan sarung, ia kembali keluar masjid menemui Bagas. Sesampainya di luar masjid, Bagas belum ada ditempat, mungkin masih wudhu pikir Karina.

Karina memilih untuk menunggu sambil duduk di tangga masjid, tak berselang lama Bagas pun tiba, "Heyo wasap geng," ujarnya.

Karina mendongak ada Bagas yang tengah tersenyum padanya dengan lesung di kedua pipinya. Walau kulitnya sawo matang, tapi tak mengurangi ketampanannya.

Bagas menyisir rambut poni pendeknya yang masih basah dengan tangan kebelakang, sungguh ia sudah seperti member GTS asal Korea Selatan yang bernama Cahyo Kumbolo.

Dah macam oppa-oppa di drakor gue, Kak Bagas ini batin Karina yang tak sadar memuji ketampanan Bagas. Karina sempat dibuat tercengang-cengang dengan apa yang dilihatnya ini, sampai-sampai matanya tak kedip dari wajah Bagas.

Bagas melihat tingkah Karina, ia tersenyum smirk, "biasa aja kali ah liatinnya, gue tau gue emang ganteng," sontak Karina gelagapan. Ia mengedipkan matanya dan memalingkan wajahnya.

"Pd! Nih!" Karina menyerahkan sarung yang ia ambil tadi ke Bagas, dan beranjak dari sana menuju tempat wudhu khusus perempuan.

"Thanks ya!" balas Bagas saat Karina sudah berjalan 3 langkah.

~~~

Setelah selesai sholat mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Karina. Langit sudah mulai gelap, tidak ada pencahayaan dari lampu sepeda, hanya lampu jalan dan sinar bulan yang remang-remang menemani mereka.

Glek

Tak sadar Bagas menerjang bebatuan di aspal. Membuat sepedanya agak oling, Karina yang tak berpegangan hampir terjatuh, "hati-hati dong kak!"

"Makanya pegangan!"

"Belum muhrim!"

"Mau di halalin, biar jadi muhrim?"

"Lo kira gue babi!?"

"Gue gak bilang ya."

"Rese amat sih," ujar Karina, lalu memukul pelan punggung Bagas.

Bagas kembali menggoes sepedanya, sedangkan Karina, ia menikmati angin malam sepoi-sepoi.

"Kar!" seru Bagas.

"Hmm," gumam Karina.

"Lo punya pacar?" pertanyaan macam apa ini? Kenapa Bagas tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti ini?

KarinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang