4. Bahagia yang Sederhana

98.5K 17.9K 6.8K
                                    

Ijinkan aku mencintaimu dengan istimewa
Seperti dua tusuk sate usus kepada sepiring gulai
Yang menjadikannya nikmat tiada tara

Biarkan aku mencintaimu dengan biasa saja
Tidak usah semuluk Raffi Ahmad dan Nagita Slavina
Cukup aku dan kamu, di sini, menikmati senja berdua

***

Seperti halnya jalan Mahakam yang mencintai keramaian. Seperti penduduk Jakarta yang mencintai nikmatnya berpiring-piring gule yang ada di sana, Nana teringat bagaimana Sastra begitu mencintai tempat ini. Tidak ada yang lebih menarik bagi laki-laki itu selain gurihnya aroma gule dan sate usus sepanjang jalan. Setiap laki-laki itu minta diantar membeli beberapa buku di Blok M, Sastra selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat ini.

"Padahal setiap dia ke sini, dia nggak pernah makan gule. Tapi dia bilang, dia selalu suka gule dan sate usus di sini." kata Nana, laki-laki tersenyum sampai ke mata dengan mulut yang terisi penuh.

Semenjak hari itu, Gayatri menyadari satu hal: dia tidak pernah mendengar nama Sastra keluar secara terang-terangan dari bibir Nana. Laki-laki itu selalu menyebutnya dengan kata "dia". Dia yang memiliki bayangan begitu besar dalam hati dan kepalanya.

Sejak Nana menyendok nasi gulenya untuk pertama kalinya, sampai piringnya kemudian kosong dan berganti piring kedua, Nana selalu membicarakan tentang dia.

Setiap Nana mengajaknya untuk makan di gule tikungan, tidak cukup satu piring. Setidaknya harus empat piring, dua tusuk sate jeroan dan dua tusuk sate usus untuk masing-masing orang.

Tempat ini begitu sederhana. Di sepanjang trotoar jalan Mahakam, hanya dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang hanya menjual satu menu: gule. Tapi yang menarik, tempat ini selalu ramai di kunjungi. Tidak hanya orang-orang dari Jakarta dan sekitarnya saja, tapi dari luar Jakarta yang kebetulan melintas di daerah ini juga selalu menyempatkan diri untuk mampir.

Berkawan dengan peliknya jalanan yang padat. Dimana asap-asap kendaraan menjadi sambutan yang khas. Keramaian tempat ini menyamarkan segalanya, termasuk luka.

"Katanya, makan di sini mendefinisikan nilai hidup yang selalu dia cari."

"Definisi hidup?"

Nana mengangguk. "Untuk bahagia, nggak butuh yang mahal-mahal. Cukup 50 ribu untuk 4 porsi gule dan 2 tusuk sate jeroan."

"Tapi dia kan nggak ikutan makan, Na."

"Aku. Bahagianya dia yang nggak mahal itu aku katanya. Soalnya setelah dia memperkenalkan tempat ini ke aku, aku jadi jatuh cinta sama tempat ini. Gulenya gurih banget, nggak ada tandingan. Nih, kamu lihat, 3 piring aja rasanya masih kurang!"

Gayatri tergelak. Memang, karena setelah Nana memperkenalkan tempat ini padanya, dia juga dibuat jatuh cinta. Deretan sate-sate seharga 5 ribuan yang mereka jual selalu membuatnya bahagia.

"Tahu, apa yang menarik dari tempat ini?"

Setelah menenggak air mineral miliknya--karena Nana selalu melarangnya minum teh saat datang bulang, Gayatri menggeleng.

"Dari ujung jalan sampai ujung lagi, semuanya jualan gule. Tapi nggak ada yang mengeluh, soalnya mereka selalu percaya--rejeki itu selalu dibagi sama rata."

Bisakah seseorang jatuh cinta untuk selamanya? Tanpa batas waktu. Menikmati hari-hari yang berganti hanya dengan mencintai segala yang ada dalam dirinya. Tidak peduli meski apa yang ia miliki terlampau biasa-biasa saja.

Senyumannya yang lebar selalu membuat Gayatri lupa bahwasanya itu hanya senyuman biasa yang kerap ia lihat sehari-hari. Tapi setiap senyum itu ada, Gayatri selalu merasa... dia ingin berada di titik ini selamanya. Kalau benar selamanya memang tidak pernah ada, maka selama waktu yang ia miliki untuk hidup di dunia ini. Selama itu.. untuk jatuh cinta berulang-ulang kali pada senyuman yang dimiliki oleh orang yang sama.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang