2

80 24 8
                                                  

Vote ok











Renjun yang sedang memainkan ponselnya berhenti. Dia melihat jam, dan ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan.

Dia mengangguk lalu menaruh ponselnya di meja yang berada di depannya.

Renjun beranjak dari duduknya kemudian pergi mandi. Ia harus cepat bersiap-siap, setengah jam lagi acara yang diadakan di rubah Chenle akan dimulai.

Selang sepuluh menit Renjun selesai berkemas. Dan sebelum pergi ia memasang cctv terlebih dahulu yang tersambung langsung ke handphone nya.

Tiin!!

Tiin!!

Terdengar suara klakson motor dari luar. Renjun yang telah selesai memasukkan ponselnya ke kantong celana mengintip dari balik jendela siapa yang menglakson nya malam-malam begini.

Dan tampak disana Haechan sedang nyengir tak berdosa melambaikan tangan kearah Renjun yang sedang mengintipnya.

Renjun mengerutkan keningnya heran. Pasalnya ia tidak minta di jemput oleh Haechan.

Tiin!!

Tiin!!

Haechan kembali menglakson motornya lebih kencang. Renjun menggelengkan kepalanya pelan karena melamun.

Ceklek.

"Oi! Gua nunggu dari tadi lho, kenapa baru dibuka pintunya?" Tanya Haechan turun dari motornya berjalan kearah Renjun yang sedang berdiri di teras rumahnya.

"Ngapain lu kesini?" Tanya Renjun seperti sedang mengintimidasi.

Haechan langsung memasang ekspresi seperti orang bodoh. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Kan dah janjian mau di jemput. Berangkat bareng gimana seh?!" Heran Haechan sedikit geram.

"Gua bisa berangkat sendiri. Motor gua kan ada--"

"Lagi di bengkel. Lu amnesia ya?" Renjun menggeleng. Kalau dia amnesia mana mungkin ia akan tau bahwa orang di depannya sekarang adalah Haechan.

"Mungkin cuma kecapean." Gumam Renjun pelan.

Haechan memiringkan kepalanya. Memegang pundak Renjun.

"Kalau kecapean mending nggak usah pergi istirahat aja." Haechan memandang Renjun sambil mengangguk pelan.

Renjun hanya diam. Dia menggeleng. "nggak lah. Yang ada kalau gua di rumah mungkin tambah capek. Mending ikutan aja. Tapi ya.... jangan lasak kali."

Haechan memanyunkan bibirnya. Terserah Renjun lah.

"Ya udah ayo." Ajak Haechan akhirnya. Dan Renjun pun mengunci pintu rumahnya.

"Pegangan yang erat. Dah telat ni." Ujar Haechan memberi tau.

Renjun yang notabene badannya paling kecil diantara teman-temannya yang lain langsung memeluk Haechan erat. Tentu saja demi keselamatan, karena dia tau. Sekali Haechan ngebut bisa membuat dirinya terbang jika tidak pegangan.
_
_
_
_

"Haahh!" Haechan turun dari motornya sambil merenggangkan badan, sesekali berteriak untuk menghilangkan rasa penat.

Sedangkan Renjun jalan terhuyung seperti orang sedang mabuk. Jangan tak main-main dengan laju kecepatan motornya. Untungnya jalan sepi, kalau tidak?

"Heeii!" Sapa Chenle heboh. Dia melakukan tos dengan Haechan lalu tertawa ngakak melihat Renjun yang sedang menyandar pada mobil orang yang sedang terparkir sambil mengurut lehernya.

"Mabuk bro?" Heboh Chenle masih dengan sisa tawanya.

Renjun menggeleng. "tanya aja Haechan."

Dan Haechan hanya tertawa atas ucapan Renjun. Mereka bertiga pun akhirnya masuk kedalam rumah Chenle yang besar nan megah.

_
_

Dua jam waktu berlalu. Renjun yang sudah letih bersenang-senang duduk di sofa empuk yang berada di sudut ruangan.

Ia pun mengeluarkan ponselnya dari kantong celana untuk mengecek keadaan rumah.

Dan betapa terkejutnya dia saat melihat cctv nya menampakkan, seseorang yang benar-benar mirip dengannya berdiri dengan wajah kosong tanpa ekspresi.

"Ei!" Haechan tiba-tiba menepuk pundak Renjun hingga membuat si empu kaget.

Jangan tanya keadaan jantungnya saat ini. Seperti ingin lepas, belum lagi dengan musik jedag jedug yang meramaikan.

Haechan mengintip isi ponsel Renjun. Ia pun juga terkejut sambil menutup mulutnya.

Pasalnya Haechan tau, bahwa Renjun tinggal sendiri tanpa pembantu dan sudah mengunci pintu rumah sebelum pergi.





















Jadi..... Orang yang ada di sana siapa?





















Dan sesaat sebelum Renjun mematikan ponselnya. Orang yang menyerupai nya tersebut melihat cctv yang berada di depannya, sambil tersenyum.... Menyeramkan.

Short horror storyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang