O1 ↳ Gaduh, Jatuh, dan Berlabuh

641 73 55
                                              

          Namanya Naremang Rimbi Lyandari, makhluk yang telah semesta cipta dari usapan-usapan telapak bahagia dan seribu budi pekerti. Mempunyai senyum seceria mentari jua sesejuk embun pagi. Manusia paling baik hati yang pernah Gadis suai.

          "Hati-hati Lyan, nanti jatuh!" peringat Gadis kala Lyan mencoba turun kembali dari pohon di tepi lapangan terbuka milik Nawakarsa.

          "Gadis awas. Jangan di situ. Nanti kalau aku jatuh kamu ikutan jatuh," ucapnya seraya mencari dahan untuk dipijak sang suku.

          Gadis sedikit murka kala penghuni 11 MIPA dua hanya melihat Lyan tanpa berniat mengambil sebuah tangga. Padahal saja, Lyan tengah membantu mereka. Pada akhirnya, harus Gendhis yang bersuka rela.

          "Turunnya nanti dulu deh. Nungguin Gendhis ngambil tangga. Lagian lo ngapain sih ngambilin kok punya kelas lain? Kita di suruh ngumpulin tugas ke Bu Pri loh."

          "Kan kasihan mereka Dis. Udah, nggak usah ambil tangga. Kalau aku nungguin Gendhis kelamaan. Aku turun—"

          Kata yang sudah di penghujung pigura tertahan kala dahan yang ia gunakan untuk pijakan tak sanggup menyangga badan. Pita suara Lyan bahkan tak sanggup melontar teriakan.

          "LYAN!" jerit Gadis yang tampak mengambil posisi untuk menangkap raga Lyan. Secepat kilat raga milik Gadis kena dorongan. Seseorang telah menyelamatkan Lyan disusul beberapa seruan kesal tak beraturan.

          Nawakarsa, kuberitahu ya. Lyan sudah pasrah. Tadinya, ia sudah mengira beberapa tulangnya akan patah. Tetapi ketika telinganya mendegar seru gemerah, netra yang tengah terpejam indah tersibak mengalah.

          Dan pada saat itu Batavia, Lyan merasa ribuan perahu rasa yang tak bernakhoda itu telah menemukan dermaganya. Di dalamnya, seraya terguncang gaduh, kemudian membumi jatuh. Tetapi Lyan jua merasa ada kilat yang tumbuh. Ah tidak semesta, bahkan menurut Lyan, serangkaian narasi ini tidak cukup jauh untuk mencitrakan perasaan yang baru-baru ini ia rasakan. Tuhan, ini menyenangkan.

          "GIAN, SKATEBOARD LO MASUK SELOKAN. GARA-GARA NEHAN NIH. PARAH BANGET," gembor Mada seraya merujuk tersangka yang hendak menutup rapat bibirnya yang sayangnya sudah sia-sia.

          Sepasang netra milik Gian bergegas membola. Raga yang tadi sempat dijeda supaya tak memeluk bentala dilepas segera. Singkatnya, pertolongan dari Gian tadi hanya menunda waktu jatuhnya saja.

          "Woy Gian, kalau nolongin yang benar dong!" teriak Gadis tak terima. Sedang Lyan meringis merasa sedikit lara pada raganya. Meski demikian, netranya masih setia menatap punggung pemuda yang kini teramat tergesa-gesa menghampiri kawannya.

          "Lyan, lo nggak papa 'kan? Hey!" tanya Gadis sembari menepuk pelan sang bahu. Pasalnya, Lyan masih tetap membisu. Sedang pandangan pemudi itu berpaku pada sosok yang sudah lalu.

          "Loh, Lyan udah turun? Sia-sia dong gue ambil tangga di kantin Pak Toro," ujar Gendhis yang baru tiba seraya membawa tangga dibantu beberapa teman kelasnya.

          Gadis lekas menyinggung lengan Gendhis selepas pemudi itu meminta teman-temannya untuk menyimpan tangga kembali. Dan tanpa tau segala kronologi yang telah terjadi, Gendhis menanyai. "Lyan kenapa diam aja? Duh, jangan-jangan Lyan kesurupan Dis? Lo ingat nggak kalau katanya pohon di Nawakarsa ada penghuninya—"

          Gadis merotasikan netra. "Nggak usah ngada-ngada ya. Lyan, lo nggak papa kan?"

          Sirah milik Lyan menggeleng kuat-kuat, sedang napasnya masih tercekat. "Enggak. Nggak baik," jawab Lyan yang membuat Gendhis dan Gadis terheran.

Kisah Jatuh dan PatahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang