3. Rasa dan Karsa

109K 19.6K 13.7K
                                    

Kalau membersamaimu adalah sebuah dosa
Maka aku adalah seorang pendosa
Tapi tidak peduli mau surga atau neraka
Terjun bersamamu aku akan rela
Sebuah bodoh yang nyata

***

Gayatri pernah mendengar sebuah elegi klasik tentang cinta. Katanya, sebuah rasa itu tak layak dipaksa. Biarkan saja ia menemukan tempatnya berlabuh. Biar seribu kilo jauhnya, biar hanya sejengkal dekatnya. Sebab rasa akan tetap utuh menjadi rasa. Berhak jatuh padanya yang gagu, berhak tumbuh padanya yang tak rungu, berhak mekar padanya yang layu.

Sebuah rasa tidak memiliki definisi. Securam dan sedalam apapun bentuk jatuhnya, sebuah rasa tak layak disalahkan eksistensinya. Namun, ada satu aturan: jangan merusak kemurnian sebuah rasa. Jangan. Sebab pahit akibatnya.

Dua hari yang lalu seusai makan malam, Ibu berkata seperti ini, "Ibram itu baik, Tri.." dia memang terbiasa dipanggil Tri di rumah. Mungkin karena ia juga anak ketiga. "Kamu kan juga udah pernah ketemu sama anaknya. Tahu sendiri toh gimana baiknya dia."

Ingat kan, siapa itu Ibram? Laki-laki yang pertama kali ditemui oleh Gayatri di sebuah toko buku di daerah Matraman setahun yang lalu. Itu sebuah pertemuan tidak sengaja tepat di hari yang sama ketika Nana menyatakan cinta padanya. Tapi siapa yang menyangka bahwa pertemuan tidak sengaja itu membawa kebetulan-kebetulan lainnya? Rupanya jauh sebelum Gayatri dikenal banyak orang, Ibram sudah pernah datang ke rumah sebagai anak dari salah seorang teman Ibu semasa SMA. Lucu ya, bagaimana orang-orang mulai dengan semena-mena menyebutnya sebagai takdir.

Ibram memang baik. Tapi apa artinya baik kalau Gayatri tidak tertarik? Boro-boro cinta, dijadikan teman saja Gayatri enggan. Dan seakan itu belum cukup, Ibram tiba-tiba saja muncul di kantor tempatnya bekerja sebagai ketua tim devisi pengembangan bisnis yang baru.

"Ya? Lo sakit?" lamunan Gayatri seketika buyar saat Alisa berjalan ke arah biliknya dengan raut wajah khawatir.

"Hah? Enggak. Gue fine-fine aja."

"Tapi muka lo pucat tuh."

"Masa sih?" Gayatri lantas menilik wajahnya dalam sebuah cermin lipat yang sengaja ia letakkan di sudut kubikel. Benar saja, dia seperti mayat hidup. "Nggak pa-pa, cuma lagi datang bulan aja. Udah biasa kok."

"Ada apa?"

Nah, baru saja dibicarakan, orangnya langsung datang.

"Ini, Pak, Aya lagi nggak enak badan." Alisa menyahuti.

"Kamu sakit?" Ibram ini sebenarnya layak disebut sebagai lelaki idaman, tapi bukan lelaki idaman versi Gayatri Mandanu. Versi yang sesuai sudah ia temukan dalam diri laki-laki lain, Adinata namanya.

Saat Ibram menggerakan tangannya secara impulsif ke kening Gayatri, perempuan itu praktis mundur dengan cepat. "I'm fine, thank you." jawabnya, persis seperti dialog klasik yang kerap ditemui pada salah satu bab buku Bahasa Inggris.

"Aku antar kamu pulang ya?"

"Iya, Ya, pulang sama Pak Ibram aja gimana?" wah, sembarangan sekali Alisa ini.

"Nggak pa-pa, aku pulang sendiri aja." meski senyum yang terbit saat itu susah payah Gayatri ciptakan. Sungguh, sungkan sekali menolak sebuah kebaikan. Tapi Gayatri betulan tidak nyaman untuk menghabiskan waktu hanya berdua dengan Ibram di dalam mobil.

"Udah mau gelap loh, Ya." tutur Alisa. Kali ini Gayatri melotot pada gadis itu. Seakan-akan dalam sorot mata tajam itu ia berkata, "bisa nggak sih kamu nggak usah ngomong aja?!"

"Mending kamu beres-beres sekarang, saya ambil jaket sama kunci dulu. Saya antar kamu pulang. Tolong jangan menolak, ini demi kebaikan kamu."

Demi kebaikan, katanya. Dan belum sempat Gayatri protes, laki-laki itu sudah lebih dulu berlalu dengan terburu-buru. Gayatri memejamkan matanya dengan hela napas panjang. Detik berikutnya, ia menoleh pada Alisa dengan sorot mata tajam.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang