Part 1 : Golden

90 1 1
                                        

Seperti Biasanya, kurasakan hembusan angin dengan lembut menyapu kedua pipiku yang mulai terasa dingin. Kulihat sebagian dari orang-orang di pinggir jalan menikmati sore mereka, asap kedai makanan dipinggir diam-diam mulai tercium dihidungku dan juga Julian.

"Bisakah kau tutup jendelanya?" geramnya. Kulakukan seperti yang ia mau dan menatap kearahnya. "Bisakah kita mampir sebentar kesana?" tanyaku, sesaat dia menoleh padaku lalu kembali menyetir. "Kita bisa pergi ke restaurant yang lebih 'bersih' jika kau mau." mendengar penekanan pada kata bersih, aku paham bahwa ia masih membenci makanan yang dijual tanpa adanya piring putih dan bersih sebagai wadahnya.

"atau aku bisa memberikan pilihan yang bagus untukmu. Aku bisa memasak makan malam untuk kita, lalu kau bisa menyiapkan meja dan mencuci piring setelah kita makan. Bagaimana dengan itu?" ucapnya dengan lembut. Aku tidak berhak mendapatkannya.

"Baiklah kalau begitu." dan aku selalu menerima tawarannya. seperti biasa.

Ia membukakan pintu mobil sesudah kita sampai diparkiran apartement. "Jangan lupa dompetmu." dan akupun tertawa kecil. Sebuah kebiasaan yang ia selalu lakukan, mengingatkanku untuk membawa dompetku yang selalu tertinggal didalam mobil.

"Bagaimana kalau kita pesan makanan saja?" tawarku padanya sebelum jarinya menyentuh tombol lift. "kita punya banyak sayur dan daging di kulkas. Aku harap aku tidak membelinya untuk disia-siakan." Aku tidak bisa melawannya lagi dan kami pun masuk kedalam lift.

"Apakah semua baik-baik saja di kantor?"

Aku sering bertanya-tanya pada Julian apakah dia juga merasakan kekosongan yang sudah hampir 2 tahun aku rasakan. Sudah ribuan kali kucoba untuk memberitahunya tentang apa yang aku rasakan namun aku tidak bisa menyakitinya setelah semua yang ia lakukan untukku.

"Eve..." Panggilnya dengan lembut.

"Semua baik-baik saja, Berkatmu." jawabku sambil memberinya tatapan sayang. Melihatku, Julian langsung melayangkan kecupan kecil di keningku sambil berkata, "Kulakukan untukmu."

Sesampainya di apartement Julian langsung meletakan barangnya diatas sofa dan langsung menuju dapur. Aku tanpa berfikir panjang langsung melangkahkan kaki panjangku ke kamar, meletakan tasku di atas meja dan melemparkan tubuhku ke kasur.

"Kebebasanku dari Julian kembali hilang..." Kataku pelan. Setidaknya itulah yang bisa aku pikirkan sekarang. Julian tidak akan pulang ke rumahnya selain ada hal penting yang harus dia bereskan, dan aku tahu bahwa ia akan selalu menginap di apartemenku. aku tidak bisa mengusirnya begitu saja, dia adalah pahlawanku. setidaknya inilah yang bisa aku balas untuk semua pengorbanannya.

Perlahan, kubuka kancing kemejaku dengan satu tangan. Dinding yang ada diatasku untuk sementara berhasil menarik perhatianku dan telingaku mulai menangkap suara piring saling bersetuhan dari dapur.

"Apakah ka..." suara berat Julian membuyarkan lamunanku. Dengan posisi yang masih sama aku melihat Julian yang menemukanku terbaring di kasur. senyum kecilnya muncul untuk kesekian kalinya, dengan gerakan mempesona ia mendekatiku, "Lelah?" pertanyaan yang langka.

"6 dari 10." jawabku singkat. ia meletakan kedua tangannya tepat di samping wajahku. kulihat ia sudah melepaskan jasnya dan kini ia hanya terbungkus kemeja putih dan celana kainnya yang tampak sama mahalnya dengan harga sewa apartementku.

"aku bisa..." kecupan hangat terasa sangat jelas di tengkuk leherku, "meminta seseorang..." aku tertawa kecil karna rasa geli yang yang Julian berikan. "tidak perlu! Talentamu akan sia-sia jika kita menyuruh chef datang. Aku akan mengganti pakaianku dan bergabung denganmu 5 menit lagi. oke?"

Julian tersenyum, memberiku kecupan hangat di bibir lalu bangkit dari posisinya. "Aku sedang ingin makan daging. bagaimana menurutmu?" tanyanya padaku. Daripada lapar, sekarang aku lebih ingin tidur dan menikmati waktu istirahatku. Namun dengan Julian, aku tidak bisa bersuara, mulutku tidak bisa bergerak dan aku berakhir dengan menganggukan kepalaku sebagai tanda setuju.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 27, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SPACE BETWEEN USStories to obsess over. Discover now