Princeton University

41 3 0
                                                  

Suhu pagi ini sekitar -10° membuatku sangat kedinginan. Karena di negara tempat ku berasal, tidak pernah mencapai suhu sedingin ini. Suhu saat pagi hari memang lah dingin. Tapi saat siang hari tidak begitu dingin, meskipun suhu di bawah 0°. Karena ada terik matahari yang membuat hangat.

Hari ini adalah hari pertama ku masuk dunia perkuliahan. Di usia ku yang genap ke 16 tahun, aku merasa gugup. Karena pastinya usia mahasiswa yang lain lebih tua dariku.

Perasaan gugup kian menyelimuti. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar, terutama lingkungan di tempat kuliah ku.

Kelas dimulai pukul 09.00 waktu New Jersey. Banyak sekali waktuku untuk belajar di pagi hari sebelum berangkat. Karena kebiasaanku setiap hari selalu bangun pukul 05.00. Biasanya, selalu ku habiskan materi pelajaran sampai pukul 08.00. Setelah selesai bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk kuliah.

Perjalanan dari apartemen ku ke kampus hanya berjarak tiga blok saja. Mungkin sekitar beberapa ratus meter. Jalan kaki adalah pilihan terbaik untuk berangkat kuliah. Karena disana serba mahal, jadi harus selalu berhemat.

Hei, apakah ada mahasiswa lain yang seumuran denganku? Atau sekecil diriku? Ya Tuhan pikiran ku benar-benar gugup. Aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana menjalin pertemanan dengan orang yang lebih dewasa dariku.

Princeton University. Nama itu terpampang dengan jelas saat kita sudah berada di depan kampus. Ya Tuhan, kampus ini sangat besar sekali. Dan bangunan nya seperti bangunan kuno. Itu yang membuatku terpesona melihatnya.

Halaman depan kampus sangat luas. Banyak pohon-pohon rendang berdiri kokoh disana. Rimput-rumput hijau menyelimuti halaman depan itu. Salju tidak tebal berada di atasnya. Terlihat semakin indah saja.

Kelas ku hari ini adalah tentang menelaah partikel atom dalam sebuah mesin. Oi, cukup menarik bukan. Di hari pertama, aku sudah di perkenalkan dengan pelajaran semenarik itu.

Ketika memasuki ruang kelas, ya Tuhan sangat luas dan megah. Ruang kelas bisa menampung sekitar enam puluh dua orang. Ruang kelasnya seperti studio di bioskop, tapi lebih megah dan luas. Semua tersedia lengkap disini. Bahkan makanan ringan pun disediakan di setiap meja. Kita bebas memilih untuk duduk dimana.

Metode belajar disini dengan di negara asalku sangat berbeda. Menurutku sudah tingkat C. Yaitu tingkatan tersulit dalam satuan pendidikan.  Bagiku tidak terlalu menegangkan, selama masih terus giat belajar.

Pembelajaran hanya berlangsung sekitar empat puluh lima menit. Kemudian diselingi istirahat selama lima belas menit. Bagiku itu sudah cukup untuk mereleksasikan otak. Itu yang akan membuat seseorang cepat paham akan materi yang disampaikan.

***

"Hai, senang bertemu denganmu." Seseorang mengulurkan tangannya di depanku.

"Oh, hai. Aku juga." Aku mengulurkan tangan, kemudian kami bersamaan.

"Siapa namamu?" Tanyanya.

"Nefor Horran, kamu bisa memanggilku Nefor. Dan kamu?"

"Emilio." Jawabnya singkat dan aku hanya menganggukan kepala. Beberapa saat hening, karena kita menyantap makanan yang kita punya.

"Mungkin kita bisa berteman." Emilio memecah keheningan.

"Oh, yaa. Kita bisa berteman." Akhirnya ada yang mengajak ku berteman. Tapi, sepertinya dia tidak satu fakultas denganku. Sebab saat kelas pagi dia tidak terlihat di ruang kelas. Atau mungkin aku tidak melihatnya.

"Kamu anak baru disini?" Tanya Emilio sambil memakan roti panggangnya.

"Ya, ini hari pertama ku masuk kampus." Jawabku.

Terjebak Di Kota Yang Hilang [ TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang