ALI

Hari masih sangat pagi dan aku sudah mengendarai motorku menembus pagi menuju rumah Prilly. Kemarin aku berjanji akan menjemputnya untuk latihan. Sebenarnya ini hanya alibi. Aku harus membicarakan soal kecerobohannya kemarin. Ketika ia muncul di dojo saat aku masih memberinya waktu istirahat sampai benar-benar pulih.

Aku menghentikan motor trailku di depan gerbang rumah Prilly. Aku bergegas turun dari motor dan melangkah masuk melalui pintu pagar yang tak terkunci itu. Aku menekan bel dan tak lama kemudian, tante Ully membukakan pintu. Aku mencium tangan tante Ully sebelum ia berteriak memanggil Prilly sambil menjulurkan kepalanya ke dalam rumah. Aku mendengar teriakan cempreng dari lantai dua, dan langkah kaki yang amat gaduh hingga wajah cantik Prilly muncul dari balik tubuh tante Ully.

"Udah siap?", tanyaku pada Prilly.

"Udah. 'Ma, aku berangkat dulu ya?!", Prilly mencium tangan dan kedua pipi tante Ully.

"Iya sayang.", jawab tante Ully yang dihujani ciuman dari bibir mungil Prilly.

"Hati-hati ya.", tambah tante Ully saat aku mencium tangannya untuk berpamitan.

Aku melangkah mengikuti Prilly yang sudah lebih dulu berjalan menuju motorku. Aku lantas menaiku motorku dan menyodorkan sebuah helm padanya. Prilly menyelempangkan tasnya lalu menerima helm dariku dan mengenakannya. Aku sendiri lantas mengenakan helmku dan menyalakan mesin motorku.

------------------------------------------------------

PRILLY

Aku melangkahkan kakiku dan menaiki motor Ali. Sebenarnya aku sedikit curiga, Ali repot-repot menjemputku pagi ini. Tapi, kuiyakan saja mengingat Mama juga tak bisa mengantarku karena harus ke sekolah Raja. Aku sudah siap untuk latihan hari ini hingga Ali berkata padaku.

"Udah?", tanyanya padaku.

"Udah.", jawabku semangat.

"Pegangan yang bener.", kata Ali penuh perhatian tapi tetap ketus, aku menahan tawa.

Aku menggenggam sisi baju Ali kuat-kuat. Ali menggeber motornya, membuatku tersentak ke depan.

"ALIII!!!", omelku sambil menepuk bahunya.

"Loh, makanya pegangan yang bener.", omelnya, tapi aku mendengar ada tawa di sela omelannya.

"Ini udah bener kok.", sahutku sambil kembali menggenggam sisi bajunya.

"Gini yang bener.", kata Ali.

Ia mengulurkan tangannya menggapai tanganku yang masih menggenggam bajunya, dan memindahkan kedua telapak tanganku ke bagian perutnya. Aku merasakan jantungku berdegup kencang dan wajahku panas. Pasti pipiku memerah.

"Nah, lebih aman kan?!", tambahnya sambil menoleh ke belakang.

"Iya. Iya.", jawabku sambil menempelkan kepalaku yang tertutup helm ke punggungnya, menyembunyikan wajahku yang tersipu.

"Siap-siap. Perjalanan jauh nih.", katanya sambil menggeber motornya lagi.

"Loh, kita bukannya mau ke dojo?!", tanyaku panik sambil menegakkan kepalaku menatap bingung ke kepala Ali yang membelakangiku.

"Siapa bilang?! Gue kan kemaren bilang, urusan kita belom selesai. Karena kemaren lo udah ngelanggar peraturan. Lo dateng latihan di saat lo masih harus istirahat. Ini hukumannya.", jelas Ali.

"Hah? Trus ini mau kemana?", tanyaku panik.

"Udah. Pegangan aja.", kata Ali lantas melajukan motornya dengan cepat menembus pagi yang cukup ramai itu.

yellowBaca cerita ini secara GRATIS!