🎭 Rintik yang Berbisik 🎭

41 8 0
                                    

Judul : Rintik yang BerbisikOleh : sssakaladeAsrama : Sci-fi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Judul : Rintik yang Berbisik
Oleh : sssakalade
Asrama : Sci-fi

Tepat pada saat rintik-rintik itu luruh ke bumi, darah yang terselimuti nadi gadis berbalut putih abu-abu itu memaksa naik dan berkumpul di pipinya, membuat sebuah rona di sana. Tanpa instruksi apapun, dihantarkannya impuls sensor masuk ke medula spinalis, membuat gadis itu berkedip beberapa kali karena saraf motornya telah menerima impuls. Awalnya gerimis dan gadis itu tetap berjalan menunduk, seperti biasanya. Dalam hati ia tertawa miris saat melihat deretan manusia bumi yang tak pernah cukup mampu untuk mensyukuri nikmat Tuhan.

Manusia yang mengeluh karena panasnya matahari dan hujan yang enggan turun. Namun, merajuk dan menyalahkan semesta saat hujan yang rendah hati mulai mengguyur bumi. Terkadang ia heran, dengan mereka yang tak punya prinsip. Tetapi ia melupakan satu hal, bahwa dirinya sendiri juga tidak punya prinsip hidup.

Sampai titik-titik air itu berubah menjadi deras ditemani angin kencang yang menerbangkan anak-anak rambutnya... untuk pertama kalinya setelah enam bulan terakhir, ia mendongak ke atas langit. Seolah sedang menyapa hujan pertama di bulan September. Saat itu semua belenggu menyapa kalbu tanpa kejam, mengunci semua kata melalui irama menyesakkan. Dan hujan selalu menyimpan cerita dari setiap rintik yang ia turunkan. Entah itu rasa bahagia, atau luka masa lalu yang semakin membiru.

Dan bersama hujan ia mengadu, menangis sejadi-jadinya. Saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Namun apakah tetes air matanya masih bermakna jika diteteskan di bawah derasnya hujan?

🎭🎭🎭

“Hei Nak, kau sedang apa di bawah hujan?” seru seorang wanita paruh baya di depan sebuah kedai kopi. “Nona Hujan, kau bisa demam!”

Wanita yang rambutnya mulai dipenuhi uban itu berteriak cukup kencang, memanggil gadis yang daritadi terus berdiri di bawah rinai hujan, tidak beranjak sama sekali. Gadis itu adalah gadis yang sama yang selalu menarik perhatiannya semenjak enam bulan terakhir. Saat pertama kali wanita paruh baya tersebut membeli sebuah bangunan bekas di sudut kota, ia selalu melihat gadis itu berjalan menunduk melewati kedai kopinya. Itu terjadi hampir setiap sore. Namun kali ini, ia melihat pemandangan tidak biasa. Ia melihat gadis itu mendongak ke atas. Dan untuk kali pertama, ia bisa melihat wajah cantik dibalik rambut hitam legamnya.

“Nona Hujan, kau bisa demam!” teriak wanita paruh baya tersebut, mengulangi perkataannya. Namun masih sama seperti beberapa detik sebelumnya, tidak ada respon sama sekali dari gadis tersebut. Ia masih membiarkan wajah dan seluruh tubuhnya terguyur air hujan dan menjadi pusat perhatian orang yang melewatinya.

Wanita paruh baya tersebut menghela napas kasar dan bergumam, “remaja sekarang terkadang sering menutup telinga, berpura-pura tuli.” Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil sebuah payung berwarna hitam dan menerobos  hujan, memayungi gadis yang sebenarnya sudah telanjur basah kuyup.

The Mask of Falsehood (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang