17# Ibu Sakinah

122 27 29
                                                  

"Duduk dulu, Mbak..." suara halus Titis mencabutnya dari lamunan. Ia mengikuti gadis itu duduk di bangku panjang meja warung. Rasa penasaran Titis tergambar jelas di wajahnya melihat antara dirinya dan tas pakaian yang terongok di atas meja.

"Mbak mau mie instan? Titis bikinin, ya?"

Karima menggeleng

"Kalau minum? Jahe hangat?"

Ia menolak lagi dengan senyuman yang berat.

"Ini Mbak dari mana, mau ke mana? Kok bisa sama Bang Fendra?"

Ia menggigit bibirnya gamang, "Nanti biar abang kamu yang ceritain, ya?"

Cewek itu masih tampak penasaran, tapi ia tak bertanya lagi, membuat mereka tenggelam ke dalam lengang.

"Sepi, ya.... Emang jam segini biasanya udah tutup?"

"Ini kan malam minggu. Biasanya pada touring, Mbak. Tapi sekarang nggak asyik. Cuma sebagian yang pergi. Itu aja gabung sama komunitas lain. Bang Rawak sedang sakit, soalnya." Titis kembali menyantap mie-nya.

Bang Rawak? Ia ingat Titis pernah menyebut-nyebut nama itu sebagai pemimpin komunitas motor mereka.

"Sakit?"

"Hm-mh! Ditusuk orang. Pas Bang Fendra juga hampir jatuh ke jurang waktu itu. Sstt.... tapi jangan bilang bilang ibu, ya?"

Fendra hampir jatuh ke jurang? "Kapan itu?"

"Udah dua minggu-an, apa, ya? Mungkin Selasa minggu kemarin?"

Selasa? Bertepatan dengan saat ayahnya meninggal dunia? Karima ingat sempat melihat hidung Fendra berdarah saat ia baru saja sadar di IGD. Saat itukah ia hampir jatuh ke jurang? Tapi bagaimana mungkin Fendra juga bisa berada di rumahnya dan menelpon ambulance saat ayahnya terkena serangan jantung?

"Ma..." suara panggilan itu membuat mereka berpaling. Fendra berdiri lesu di muka lorong, setengah
memaksa memasukkan kedua tangan ke saku celana, seperti mengusir resah. Cowok itu berdehem menjernihkan suara sebelum berbicara, "Ibu mau ketemu kamu."

Karima bertukar pandangan dengan Titis dan mereka serempak berdiri. Ia berjalan ke arah lorong, sementara Fendra meninggalkan tatapan penuh peringatan kepada adiknya, "Lo tunggu di sini, sampai nanti dipanggil ibu."

Karima menyempatkan diri menatap lekat wajah Fendra, menemukan sembab dan kemerahan pada bola matanya. Tapi seperti memahami pertanyaan dalam tatapannya, cowok tinggi itu menolak untuk menjawab. Ia membimbing Karima dengan meraih punggungnya dan membawanya ke ruang yang lebih dalam.

Fendra mendorong pintu kayu yang tidak sepenuhnya menutup, menampilkan seorang wanita lembut bertubuh besar yang baru saja selesai melipat mukena. Wanita itu tersenyum. Matanya sedikit berkaca kaca.

Karima menjabat dan mencium punggung tangan wanita itu. Saat ia menegakkan punggung, Sakinah justru menariknya ke dalam pelukan. Punggungnya merasakan tepukan dan belaian lembut, membuat perasaannya menghangat. Tetapi kenapa ia malah menangis?

"Ibu sudah dengar semua cerita Neng Karima dari Fendra. Ibu menyesal dan sedih sekali Eneng harus mengalami semua cobaan itu. Maaf, ya, Neng..." Sakinah menuntun Karima duduk di tepi tempat tidur bersisian dengannya, "Ibu kaget waktu dengar apa yang dilakukan Fendra. Dia menikahi Eneng?"

Kepalanya mengangguk mengiyakan. Jari-jari tangannya basah dalam genggaman tangan-tangan gemuk wanita itu.

"Sayang sekali Fendra nggak ngasih tahu ibu lebih awal. Kalau iya, ibu pasti datang ke pernikahan kalian. Tapi yang sudah ya sudah, ibu bakalan mendukung dan merestui kalau ini memang keinginan Fendra dan Neng Karima."

Lean On Me (Bersandarlah Padaku )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang