Pertempuran Maut - 18 - Kakak yang Selalu Hadir

263 39 87
                                                  

Dasar dari segala perbuatan adalah niat. Ia bisa membuatmu terbang, ia juga bisa membuatmu jatuh

 Ia bisa membuatmu terbang, ia juga bisa membuatmu jatuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hawa pertarungan menguar kuat.
Dengan kekuatan penuh, Zwei melompat sembari melebarkan kakinya untuk memperkuat daya pukulan batang tombak ke kepala Alfian.

Pemuda itu memundurkan kaki kanan sebagai penyangga, ia menahan jatuh tubuhnya dan langsung menyilangkan belati kembar di atas kepala.

Suara benda keras bertubrukan terdengar keras. Bagian tengah batang tombak yang tertahan belati masih mengalami gaya lebam sehingga ujungnya bergerak menekuk jatuh ke arah punggung Alfian. Dengan sigap kaki kanan pemuda itu menendang ke belakang hingga ujung tombak tak melukai punggung dan kembali ke pemiliknya.

Nyaris saja! Serangan demi serangan terus mengimpit Alfian. Memojokkannya hingga pemuda itu beberapa kali terempas ke belakang. Alfian tak bisa berbuat banyak kecuali bertahan dan menghindar. Ia sungguh tak ingin membunuh dan kembali kehilangan satu tahun lagi kenangannya bersama Neysha.

Lagu pula, ada perasaan bersalah yang menerjang karena ia telah membuat seseorang menjadi pembunuh. Karena perbuatannya itu, Alfian merasa secara tak langsung bertanggung jawab atas kematian seluruh orang yang dibunuh oleh Zwei.

Batinnya terpuruk.

"Mau sampai kapan kau terus menghindar?" Zwei mempercepat serangannya. Satu tolakan disertai lemparan tombak ke arah leher.

Alfian berhasil menepisnya ke kiri. Namun, Zwei langsung menangkap ujung tombak yang meluncur dan melakukan putaran dengan kekuatan pergelangan tangannya untuk membalik arah gerak tombaknya menebas leher Alfian dari arah samping. Darah segar menyapa ujung tombak Zwei dan terciprat ke arah berlawanan.

Alfian terdorong ke belakang dengan kaus yang merembeskan darah. Nyeri yang menyergap luka memang tak seberapa. Ia cukup gesit untuk langsung melompat menghindar sehingga tak cedera terlalu parah. Ia terbiasa terluka lebih buruk dari ini dan masih bisa menuntaskan tugasnya.

Namun, napas Alfian mulai memburu. Sensasi dingin menyergapnya kuat. Sangat sulit bertarung dengan pengendalian diri penuh. Berusaha sekuat tenaga agar refleks tidak membuatnya melakukan serangan mematikan.

"Kak Alfian, lawan diaaa!" Neysha menjerit dari jendela kecil yang terbuka. Wajahnya terlihat kesal melihat kakak laki-laki kesayangannya sampai mengeluarkan darah.

Zwei menoleh. "Alfian? Nama apa itu, Geist?" Tawa kembali menghias wajahnya. "Kalau begitu, biar kubunuh bocah itu, sebelum melanjutkan urusanku denganmu agar kau lebih fokus melawanku."

Belum satu detik ia selesai bicara, Zwei langsung bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah pintu. Ketika nyaris ia mendobrak pintu dengan ujung tombaknya, sesuatu melayang cepat ke arah kepalanya.

Suara hantaman benda keras menembus kayu terdengar. Sarung belati Alfian menancap kuat di depan pintu menghalangi Zwei yang hendak menerobos masuk.

My POSSESSIVE DearestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang