Chapter 1

677 27 5

Aku sudah lama sekali tidak ketemu Mas Alif.

Aku masih 6 tahun waktu itu. Penyebabnya ya perceraian orang tua kami. Dan sejak itu juga, Bapak bawa aku ke Semarang. Sekarang, kami kembali lagi ke Jogja karena Bapak lulus ujian CPNS di IAIN. Ya, sekarang ia dosen. Tentu saja aku bersyukur, dari dulu Bapak memang selalu ingin jadi dosen, cuma belum kesampaian saja. Dulunya Bapak guru honorer. Lumayan kan, naik jabatan?

Makanya, sekarang aku ada di kota ini lagi. Aku sih tidak ingat suasana kota ini, tapi tidak tahu kenapa sekarang rasanya lebih akrab. Apa gara-gara udaranya ya?

Yang paling bikin aku senang, aku bisa ketemu lagi dengan Mas Alif. Duh, kangennya. Selama ini kami cuma berhubungan lewat surat dan kartu pos, sih. Ah, yang namanya HP masih mahal sekali. Bapak saja tidak punya. Terlalu mahal, katanya. Jadilah kami bersurat-suratan saja.

Sekarang ini, Bapak sedang mengurus kepindahanku ke SMP 3. Aku cuma ditinggalkan di sini. Memang sih, tidak terlalu jauh dari SMP 3. Aku ada di perpustakaan kota sekarang. Letaknya bersebelahan dengan semacam auditorium, mungkin. Di seberang jalan sana ada lapangan sepak bola juga.

Aku jadi ingat, Mas Alif kan suka main bola. Dia ikut ekskul sepak bola di sekolahnya. Posisinya kiper. Aku pernah tanya, kenapa dia tidak ikut ekskul basket saja? Kan basket lebih populer. Setelah itu, aku menyesal sudah tanya. Langsung saja dia menceramahiku panjang lebar. Intinya, hobi itu tidak ada hubungannya dengan populer atau tidaknya. Yaaa ... iya juga, sih.

Lama, kuperhatikan lapangan itu. Awalnya sepi, tapi lama-lama jadi tambah penuh. Orang-orang mulai datang. Sepertinya bakal ada pertandingan.

Aku mulai bingung. Bapak sudah menyuruhku tetap di perpustakaan kota, tapi aku juga ingin lihat pertandingan di seberang sana. Ini gara-gara Mas Alif yang tiap kali kirim surat selalu cerita soal sepak bola. Aku jadi ikut-ikutan keranjingan.

Ya Tuhan, maafkan aku karena tidak menurut pada kata-kata Bapak. Sekali ini saja.

Akhirnya, aku keluar dari perpustakaan dan menyeberang ke arah lapangan. Pertandingan sudah dimulai. Di tepi lapangan, ada beberapa anak cewek seumurku teriak-teriak memberi dukungan. Memangnya yang sedang bertanding ini tim ekskul sekolah ya?

Aku lalu menghampiri salah satu anak cewek yang berdiri paling dekat denganku. Cewek itu manis banget. Hidungnya juga lebih mancung dariku. Rambutnya hitam panjang diikat kuncir kuda. Cewek itu juga lebih tinggi dariku, mungkin tingginya sekitar 150an. Aku saja cuma 139 cm.

Aku menepuk lengannya, membuatnya langsung berhenti bersorak. Aku langsung minta maaf dan bertanya soal pertandingan ini.

"Emangnya kamu anak SMP mana? Ini penyisihan turnamen sepak bola SMP se-DIY."

Eeh?! Aku langsung melotot. Kok Mas Alif tidak ngomong apa-apa soal turnamen sepak bola SMP ini?

"Aku anak SMP 3," jawabku. Yah, memang baru diurus Bapak, sih. Tapi, kan nantinya setelah libur cawu 1 berakhir, aku resmi jadi anak SMP 3.

"Kamu anak SMP 3? Nggak tahu, po? Ini pertandingan SMP 3 lawan SMP 2."

"Masa'? Ah, aku pindahan sih, jadi nggak tahu."

Fokus cewek itu benar-benar pindah dari pertandingan sekarang. Dia menatapku penuh-penuh. "Kamu pindahan? Dari mana? Kelas berapa? Ini kan baru mau masuk cawu 2."

"Dari Semarang. Aku baru kelas 1."

"Hah? Kamu baru sekolah 4 bulan di sekolah lamamu?!"

Aku cuma mengangguk.

Anak itu lalu mengulurkan tangannya. "Alya. Aku juga anak SMP 3. Kelas 1 juga. Namamu?"

"Isna," jawabku sambil meraih uluran tangannya. Kami pun sama-sama tersenyum.

The White Hat [COMPLETED]Read this story for FREE!