4

11 4 7
                                                  

[Sit and read calmly]


Aku mengedipkan mata berkali-kali, masih mencerna apa yang barusan terjadi. Kerongkonganku tercekat, kering. 

Aku haus, sangat haus.

Kulihat mata Zua menyapu seisi ruangan, seolah mencari sesuatu. Pandangannya jatuh pada sebuah benda silinder yang tergeletak tak jauh dari tempat pria itu duduk. Ia lalu mengambil botol air tersebut, dan melemparkannya padaku. "Minumlah!"

Segera kuputar tutup botol yang tadi siang diberi Aiden itu, lantas langsung menyedot habis isinya. Kurasakan air tersebut merosot jatuh mengaliri kerongkonganku. Hilang sudah dahagaku.

Zua dan Piya mulai mendekat kearahku, tetapi tidak langsung menyentuhku. Mereka duduk dalam jarak aman, seolah-olah waspada jika sesuatu masih akan terjadi padaku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya, "Tadi itu apa?"

"Kurasa sihirmu sudah sampai." Zua berspekulasi. Kupandang Piya dan Zua lekat-lekat, kuharap apa yang terjadi hingga saat ini bukanlah lelucon.

"Lalu? Bagimana aku bisa tahu sihir apa yang kudapatkan?" 

"Itu dia, mari kita segera pergi ke dunia sihir dan tanya profesor Aldora!" seru Piya.

"Sekarang juga?" 

"Sekarang juga!" tegas Zua.

Tapi. Ada banyak tapi yang berputar-putar di otakku. Aku baru saja bertemu kedua orang asing ini, lantas mereka menunjukkan hal-hal hebat padaku, dan menceritakan hal-hal hebat juga. Kemudian aku harus pergi ikut mereka ke dunia yang katanya dunia sihir?

Aku sangat ingin melawan semua ini dengan akal sehatku, tapi rasanya semua ini bukan unutuk dilawan. Semuanya sudah jelas, dan mereka membeberkan bukti. Sekarang ini otakku dipaksa berpikir tentang 'bagaimana jika semua yang mereka katakan benar?' bukan tentang 'bagaimana jika semua yang mereka katakan adalah dusta?'. 

Karena jika mereka benar dan aku menolak untuk percaya, maka aku sudah menghancurkan harapan ibuku—setidaknya begitu yang mereka bilang. 

"Jadi?" Zua berdiri, sambil tangannya bergerak membersihkan pakaian, seolah ada remah-remah roti yang menempel di sana, "Jangan menghabisakan waktu untuk berpikir nona, kami ini sedang dalam perintah," lanjutnya tanpa perasaan.

"Sabarlah, ini keputusan yang sulit baginya." Piya mendengus. 

"Ya, ya. Baiklah." Zua berjalan kearah jendela, menaikkan satu kakinya ke ambang jendela, lalu kaki satunya lagi. Lantas berjongkok disana. Sepertinya dia mengalah untuk membiarkanku berpikir sebentar.

Piya menatapku penuh harap. Kupikir tidak ada lagi alasan untuk menolak mereka, Zua benar, segalanya sudah jelas. Mereka tidak mungkin berbohong. Kutatap seisi loteng—pakaian yang berserakan di lantai, kardus kosong, empat botol air yang tiga diantaranya sudah kosong, memangnya apa lagi yang kuharapkan? 

Dengan pergi dari sini, maka aku juga akan terbebas dari Madam Elle dan Anna, 'kan?

"Baiklah, ayo," aku berdiri begitu saja. Sepersekian detik, gurat keheranan tercipta di dahi Piya, namun sedetik berikutnya wajahnya berubah cerah. "A—Aurora?" dia tersenyum senang lantas ikut berdiri bersamaku.

The AuroraWhere stories live. Discover now