3

26 5 10
                                                  

[Sit and read calmly]

Bruk

Tubuhku serasa ambruk menghantam sesuatu yang keras.

Eh bukan, memang menghantam sesuatu yang keras.

Ku raba punggunggku yang barusan jatuh menghantam lantai, kuharap tidak ada tulang yang patah. Apa yang baru saja terjadi? aku mimpi?

Atau

"Kenapa kau harus menjatuhkannya dengan sekeras itu Zua? Profesor Aldora akan marah melihatmu menyakiti cucunya!" itu suara gadis tadi, yang seingatku bernama Piya. Sebentar, cucu? memangnya aku punya kakek?

"Memang begitu cara kerjanya jika kau memasukkan ingatan ke kepala orang. Tubuhnya akan melayang-layang seperti tadi"

"Memangnya tidak bisa kau turunkan pelan-pelan? jika punggungnya patah bagaimana?"

"Coba tunjukkan bagaimana menurunkan pelan-pelan? Terserah kau saja dasar—"

"Cukup cukup! Apa yang kalian ingin lakukan sebenarnya?" Tanyaku akhirnya, telingaku kebas mendengar perdebatan mereka.

"Kau sudah melihat semua ingatan tadi?" tanya lelaki yang disebut Piya sebagai Zua.

"Ingatan? Maksudmu, eum mimpiku barusan?" aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. 

"Itu bukan mimpi Aurora, tadi itu ingatan" Piya yang bersuara, sejak kapan pula mereka mengetahui namaku.

"Diamlah Piya, tidak ada orang waras manapun yang mengerti jika di jelaskan olehmu" belum sempat aku menjawab, Zua sudah berbicara.

"Baiklah, biar ku jelaskan padamu dari awal. Jadi, kami adalah penyihir. Sebenarnya kau juga—mungkin nanti malam"

"Tunggu, apa yang kau bicarakan? Penyihir?" Aku langsung menyela kalimat pertama yang diucapkannya. 

"Diam dulu, dengarkan aku dulu, jangan menyela! Setelah itu kau boleh bertanya sebanyak yang kau mau"  setengah marah Zua memberitahuku, aku mengangguk cepat-cepat. Biarkan saja dua orang aneh ini menjelaskan siapa diri mereka dan apa maksud mereka datang kemari terlebih dahulu.

"Jadi, kami-adalah-penyihir. Kami ke sini datang untuk menjemputmu ke dunia penyihir, karena kau juga adalah penyihir, dunia tempatmu tinggal sekarang ini tidak lagi layak untuk kau tempati, karena ini milik manusia. Kau akan mendapatkan sihirmu nanti malam, tepat ketika kau berulang tahun yang ke empat belas.

"Lalu, Apa yang tadi kau sebut sebagai mimpi, itu adalah manifestasi dari potongan ingatan yang di berikan kak Raven kepadaku, lalu ku masukkan kedalam kepalamu. Kak Raven, dia adalah pria yang tadi kau lihat di dalam ingatan tersebut. Dia adalah orang yang di amanahkan ibumu untuk menitipkanmu pada seorang manusia yang tepat, dan ya, akhirnya kau tinggal di panti ini.

"Sedangkan ayahmu adalah seorang manusia. Jadi, kau terlahir sebagai seorang anak dengan darah campuran. Itu sebabnya kau baru akan menjumpai sihirmu saat berusia empat belas tahun"

"kau menyuruhku mendengarkan, tetapi apa yang kau sampaikan benar-benar tidak masuk akal" potongku setengah jengkel.

"Ta—tapi, lanjutkan saja" tambahku cepat-cepat setelah melihat tatapan membunuh dari Zua.

"Ibumu. Dia meninggal saat kau masih bayi, dia dibunuh oleh kawanan scafn di sini, di dunia manusia. Sebelum kawanan scafn itu membunuhnya, ibumu bertemu dengan kak Raven yang saat itu terperangkap di dunia manusia,  lalu ibumu  menyuruh kak Raven membawamu untuk dititipkan kepada manusia"

Aku sedikit tersentak ketika pria di depanku ini mulai membahas ibuku, yang katanya meninggal di bunuh oleh apa tadi? Scafn? Walaupun aku belum sepenuhnya percaya oleh apa yang dia ucapkan, namun ada sedikit getaran aneh saat dia berbicara tentang ibuku, sedikit eum kesedihan mungkin?

The AuroraWhere stories live. Discover now