1. PENGABAIAN

27.7K 1.9K 125
                                    

Karna banyak yang milih Mas Terang buat jadi visual Arthur, jadi deh dia yang aku jadiin visual baru Arthur😚 Cek mulmed di atas👆

✩✩✩

❝Jika harapan selalu sesuai dengan apa yang kita mau. Maka kita gak akan pernah tau kalau kecewa itu menguatkan❞

.
.
.

KERLAP-kerlip lampu disco seirama dengan musik keras yang berdentun juga sentakan tubuh setiap orang yang ada di kelab malam ini. Semua tangan terangkat seperti meminta agar musik diputar lebih keras. Aroma alkohol dan rokok bersatu membuat suasana kian menyesakkan.

Adara Tsabita adalah satu dari ratusan orang yang ada di sana. Cewek bergaun hitam ketat yang pendek itu menggerakkan tubuhnya di lantai dansa bersama tiga sahabatnya. Di kelab malam ini, Lingga Samudra--salah satu sahabat Arthur--tengah merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas tahun dengan tema bebas seperti ini.

Sebagian orang mulai mabuk. Sang pemilik pesta sendiri justru asik dengan beberapa cewek seksi yang menggelayutinya.

Arthur? Cowok itu sejak tadi hanya duduk di kursi bar sembari memperhatikan manusia-manusia di lantai dansa. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bergabung. Andai saja ini bukan ulang tahun sahabatnya, Arthur pasti tidak akan datang. Ia bukannya sok alim, hanya saja Arthur tidak begitu menyukai kebisingan. Ia lebih menyukai tempat yang damai, sunyi dan suasana yang tidak menyesakkan.

"Oi! Gabung sini dong, Thur! Entar diculik tante-tante sendirian mulu!" Itu teriakan Radit Sebastian, sahabat Arthur yang saat itu menjadi DJ di pesta Lingga. Arthur hanya menggeleng kemudian menyesap wine yang sejak tadi ia abaikan.

"Gak asik banget lo, Thur! Ayo sini gabung. Banyak yang bohai cuy!" tambah Lingga. Arthur hanya menatap sekilas cowok itu lalu memilih memainkan ponselnya saja.

"Sendirian aja, nih?"

Arthur mendengar suara itu. Namun, ia mengira bukan dirinya yang diajak bicara hingga hanya sibuk dengan ponsel. "Gila, gue dikacangin. Woi! Gue ngomong sama lo." Tepukan dibahunya membuat Arthur menoleh.

Ia nyaris mengumpat ketika orang yang mengajaknya bicara ternyata Adara. Arthur tidak membenci Adara, hanya saja ada sesuatu dari cewek itu yang membuat Arthur selalu ingin menjauh darinya.

"Lo temennya Lingga, ya? Kok, gue baru liat?" Adara duduk di kursi bar depan Arthur. Sementara cowok itu tidak menjawab dan menenggak tegukan terakhir dari wine-nya. "Lo sekolah dimana? Tumbenan Lingga ngundang orang luar."

Lagi-lagi, tidak ada jawaban untuk Adara. Arthur memperbaiki letak jaket ditubuhnya kemudian beranjak meninggalkan Adara yang terperangah. Demi Tuhan, satu pun tidak pernah ada cowok yang mampu mengabaikan Adara seperti cowok tadi.

"WOI! ORANG NANYA ITU DIJAWAB, BUKAN MALAH PERGI! GAK PUNYA ADAB LO!!" teriaknya kesal.

✩✩✩

Tegukan demi tegukan Adara habiskan. Tiga sahabatnya dibuat terheran-heran dengan kelakuan cewek itu. Apalagi ketika melihat wajah kesal Adara. Pasti, ada sesuatu yang merusak mood cewek itu.

"Lo kenapa, sih? Kayak orang kesambet. Itu udah berapa botol lo habisin, bitch?" tanya Gisel. Adara mengangkat bahu tidak peduli.

Ratu Arrabella, yang juga merupakan sahabat Adara, mengambil sisa botol yang masih terisi penuh untuk dijauhkan dari jangkauan Adara. Bisa mati cewek itu jika diberi kesempatan.

"Muka kamu udah merah banget, Ra. Udah jangan diminum lagi!" Luna Rosselia mengambil gelas yang berisi vodka ketika Adara nyaris meminumnya lagi.

"Ayo pulang, jing. Lo udah kobam." Gisel menarik tangannya, namun Adara menepis dengan cepat. Adara menunjuk cewek itu kemudian berdiri sempoyongan. "Jangan halangin gue. Gue harus ngasih pelajaran sama seseorang," racaunya tidak jelas.

ARTHURTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang