2

25 11 13
                                                  

[sit and read calmly]


Fajar bersimpuh menyaksi

Cakrawala merengkuh bersimpati

Aurora, hiduplah engkau dalam inangmu yang mati


Mataku perlahan terbuka. Pupilku segera menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar di sisi loteng.

Sayup-sayup kudengar bunyi hantaman kecil dari jendela, ku posisikan tubuhku yang masih belum sepenuhnya sadar, pukul berapa ini? disini tidak ada jam. 

Bunyi hantaman itu semakin jelas terdengar di saat telingaku mulai sepenuhnya bekerja dengan baik. Aku segera bangkit hendak memeriksa jendela.

Aiden? aku segera membuka kaca jendela, separuh senang bisa melihat Aiden, yang rupanya sedari tadi melemparkan kerikil ke jendela loteng. 

Aiden yang menyadari kaca bergeser dengan cepat melambaikan sebelah tangannya. Tangan satunya merengkuh sebuah kantung hitam—yang entah apa isinya.

"Jam berapa sekarang?" satu-satunya pertanyaan yang bisa ku lontarkan.

 Aiden memberi isyarat agar aku mengecilkan suara, sambil menoleh ke kanan kiri memastikan tidak ada yang mendengar.

Dia tiba-tiba saja menghilang kearah gudang di bawah loteng tempatku berada, apa yang dia lakukan? dia bahkan belum menjawab pertanyaanku.

Aku yang tidak tahu harus berbuat apa, lantas duduk membelakangi jendela. 

Aku lapar.

 tadi malam aku tertidur setelah merombak seluruh isi kepalaku, menuang seluruh imajiku kedalam bait aksara. Dan aku belum makan malam.

Sungguh ironi.

 Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari bawah, aku memfokuskan indera pendengaranku, mencari tahu dari mana bunyi itu berasal. 

"Aurora, psst—" 

Itu suara Aiden, dari pojok loteng? aku segera menghampiri sumber suara, ada lubang kecil disana. Lalu, tampaklah sepasang mata biru familiar.

 "Aiden?" aku memicingkan mata, pojok ini gelap, aku kurang mampu melihatnya. 

Aku berbalik mengambil lentera yang kugantungkan di dekat jendela semalam, membawanya mendekat ke pojokan tadi, Aiden tampak lebih jelas. 

"Kau lewat gudang? Bagaimana kau bisa diatas situ?" tanyaku.

 "Ada tangga disini" katanya sembari menunjukkan sebuah tangga besi yang menempel ke dinding, yang tidak pernah ku sdari sebelumnya.

"Ini, kau semalam tidak turun untuk makan malam. Barusan juga aku tidak melihatmu" Aiden menyodorkan kantung hitam yang tadi sempat kulihat. 

Lubang tempatnya memasukkan kantung tersebut, tidak begitu besar—cukup untukku dapat melihat Aiden dengan jelas, tetapi tidak cukup untuk masuk keluar lewat lubang tersebut.

"Ini makanan?" aku membuka kantung berisikan dua bungkus roti dan sebotol besar minuman tersebut.

 "Dari mana kau mendapatkannya? Kita semua tahu bahwa Madam Elle sangat hemat, maksudku pelit, dalam memberikan jatah makan kan?" tanyaku lagi.

"Aiden itu pandai mengelabui, tidak hanya Aurora yang bisa melanggar peraturan" sahutnya, yang sontak membuat pipiku memerah—antara marah dan malu.

"Tunggu, kau tahu dari mana? Jangan bilang si nenek tua itu mengumumkan betapa nakal diriku di depan semua anak panti saat ceramah kemarin?" sungutku tak terima.

The AuroraWhere stories live. Discover now