1

41 16 11
                                                  

[Sit and read calmly]


Aku janji ini kertas yang terakhir.

Baiklah.

Pena di tanganku bergerak menggores tiap sisi kertas koran usang di atas nakas. Pikiranku berkelana jauh memikirkan bait demi bait yang akan kutulis. 

Malam ini imajinasiku sedang liar-liarnya, tidak pantas rasanya untuk di sia-sia kan. 

Sebentar-sebentar ekor mataku memeriksa jarum panjang yang sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Tapi apa boleh buat, kantuk tak kunjung datang.

Lentera redup masih setia menemaniku di sisi jendela. Di luar, tampias rintik perlahan menabrak kaca jendela, menimbulkan suara kecil yang menenangkan. 

Teman-teman yang lain sudah lelap dalam mimpi masing-masing—tidak ada yang berani melanggar peraturan Madam Elle tentang 'harus sudah tidur diatas jam 9'.  

Kecuali aku tentu saja, gadis bebal yang memang senekat itu. 

Baru saja aku hendak menuliskan potongan frasa yang berputar di kepalaku, ketika aku menyadari bahwa kertas koran tempatku menuang pikiran telah kehilangan lahan kosongnya. Sudah penuh oleh berita-berita lama dan tentu saja bait-bait yang kubuat.

Baiklah, kurasa kegiatan menulisku harus kucukupkan sampai disini. Besok aku akan kembali meminta Aiden untuk menemaniku ke gudang belakang—memburu tumpukan koran lama, tentu saja tanpa di ketahui Madam Elle. 

Sembari berharap imajinasiku masih akan mengalir seperti malam ini.

Bruk—bunyi itu menghalangiku dari meletakkan tumpukan  kertas koranku kedalam kotak. 

"Aurora?" sebuah suara membuatku terpaksa berbalik, salah satu lentera di sudut lain kamar menyala—itu Anna.

"Kau belum tidur? kurasa aku punya sesuatu untuk di laporkan kepada Madam Elle besok" sebuah senyum jahil tersungging di bibirnya—senyum yang paling kubenci.

Sial.

"Laporkan saja, aku tidak peduli!" aku memasukkan kertas-kertasku kedalam kotak, lantas segera menarik selimut menutupi badanku. 

Percuma berdebat dengannya, sejujurnya aku takut dengan ancaman Anna—semua anak panti takut dengan Madam Elle. Tapi, berdebat dengan Anna juga tidak berguna.

"Tunggu saja hukuman apa yang akan kau dapatkan besok!" teriaknya—kesal karena aku menghiraukannya. 

Aku mencoba untuk tetap tidak peduli, kupaksa kelopak mataku agar tertutup. 

Dasar pengadu, umpatku dalam hati.

**

"Kalian tahu? Tadi pagi orang tua Anna datang kemari, mereka memberinya sebuah benda kotak canggih. Aku lupa namanya" Irene meletakkan nampannya di atas meja. 

"handphone"  Louisa memutar bola matanya. 

"ya, maksudku itu" tukas Irene.

"kurasa hidupnya enak sekali ya. Orang tuanya sering kemari, membawakannya makanan dan lain-lain" timpal Charlotte.

"ada apa dengan kalian? tiba-tiba iri dengan Anna" komentarku, sengaja sekali ku ucapkan dengan nada tak suka.

"Jangan pura-pura tidak iri sayang, lihatlah betapa orang tuanya memanjakannya" ujar Louisa sembari mencomot rotiku.

"Memanjakan" ulangku sarkatis, "Dengan mengirimnya ke panti asuhan maksudmu?" lanjutku.

Ketiga temanku saling tatap. 

The AuroraWhere stories live. Discover now