23- Ada apa dengan Rama?

363 37 308
                                    

Penyesalan tanpa adanya tindakan hanya akan membuatmu menambah penyesalan.

-Naufal hakim Arsenio

______

"Jangan terima Daffa!"

Sontak, Nara terdiam mematung di tempat, jantungnya berdetak lebih cepat dan memburu. Mata Nara mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa ini bukan halusinasi. Semakin di pandang, pria dengan senyuman tipis itu semakin nyata. Sangat tampan.

"Ramaa?" Ucap Nara dengan mulut bergetar hebat.

"Iya, gue."

Nara maupun penonton menelan salivanya susah payah, masih tidak menyangka bahwa pria itu adalah Rama. Rasanya sangat mustahil, mengingat sikap buruk Rama pada Nara selama ini.

Sedangkan di satu sisi, Rama sibuk merutuki kebodohannya dalam hati. Setelah membatin panjang dengan logika dan perasaan, ternyata perasaan yang memenangkan perdebatan batinnya. Entah pelet apa yang Nara berikan padanya, sampai mulut dan kakinya mengkhianati logika.

"NENG NARA, KALO KATA RAMA JANGAN TERIMA, JANGAN TERIMA YA!" Teriak Naufal kencang dengan di iringi tabuhan meja dari Alwi. "TOLAK, TOLAK!"
 
Senyum Nara merekah, tubuhnya sangat ingin meloncat-loncat kegirangan saat ini. Detik berikutnya, Nara menarik kembali sudut bibirnya menjadi segaris lurus. Menatap Rama datar.

"Kenapa? Bukannya Rama gak suka sama Nara? Bukannya Rama benci?" Tanya Nara sengit. "Bukannya Rama seneng kalo si parasit ini punya pacar?"

Tidak ada jawaban dari pria di hadapannya, membuat Nara kesal setengah mati. "Kenapa? Jangan diam aja. Nara butuh kejelasan."

"JAWAB DONG! KEK BISU LO," teriak Ghina ikut memojokkan.

"Just kidding. Lupain aja." Sial, malah kalimat itu yang keluar dari mulut Rama.

Hanya kalimat singkat, namun damagenya bukan main. Dada Nara terasa sesak dan menghimpit,  air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Rama hebat mempermainkan hatinya, sangat hebat.

Daffa menatap Nara sendu, ia tahu betul rasanya sakitnya Nara. Daffa maju satu langkah pada Nara,  kedua ibu jarinya menghapus air mata Nara yang terbuang sia-sia.

"Jangan nangis, Ra. Gue lebih baik lihat lo bahagia di atas penderitaan gue, daripada lihat lo bersedih di atas kebahagiaan gue."

"Wiiih, gila! Boleh juga tuh si Daffa!" Komentar Alwi.

"Alay lo, Wi! Masih jagoan gue orang," Sahut Naufal yang melempar bekas susu kotaknya pada Alwi. Naufal mempunyai rutinitas mengkonsumsi susu kotak 1 hari 3 kali, sudah seperti minum obat.

"Rama, Mau kemana lo?" Tanya Daffa yang menghentikan langkah Rama.

"Panggil guru."

Tanpa di duga, Daffa menarik baju Rama dari belakang lalu melayangkan pukulan kecil di wajahnya. "Setelah lo ngerusak acara gue, lo mau lari dari masalah gitu aja?!"

Rama sedikit meringis, tangannya mengusap kasar bekas pukulan Daffa. "Mau lo apa?"

"Harusnya gue yang tanya, mau lo apa?!"

"Mau panggil guru," sahut Rama tenang.

Daffa menghela napas, berusaha sabar dengan pria menyebalkan semacam Rama.  "Gue mohon. Kalau gak bisa bikin Nara bahagia, seenggaknya jangan bikin dia sedih."

"Hmm," sahut Rama sebelum melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Baru satu langkah, baju Rama kembali di tarik oleh Daffa. "Ketinggalan satu pelajaran gak bikin lo bego kali! Gue belum selesai bicara."

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang