22- Jangan terima!

372 43 358
                                    

Kadang manusia harus kehilangan terlebih dahulu untuk mengerti arti dari sebuah kehadiran dan kesetiaan

______

CLEK.

"kok lo berdua bisa masuk sih?" Kaget Rama dengan kemunculan Naufal dan Alwi di kamarnya malam-malam. Dengan cepat, Foto dirinya dan seseorang di selipkan di bawah bantal.

"Enggak di kunci pintunya, bro," jawab Alwi sebelum melompat ke atas kasur bersama Naufal. Keduanya segera mengambil posisi ternyaman, Naufal ikut bersandar di kepala ranjang seperti Rama sedangkan Alwi merebahkan tubuhnya.

"Aneh. Padahal kemarin gue tempel ayat kursi di depan pintu," gumam Rama.

"Enak aja lo mikir kita berdua setan," protes Naufal yang mendengar gumaman Rama.

"Gue gak ngomong, lo sendiri yang merasa ya!" timpal Rama yang tidak seperti biasanya. Lebih banyak bicara dan sensian.

"Iyain aja, Fal, patah hati efeknya emang gitu." Alwi merubah posisinya dari tiduran menjadi bersandar ke kepala ranjang, lalu memandang Rama prihatin.

"Gue sebagai senior sadboy, mengucapkan selamat bergabung menjadi junior sadboy. Nanti gue bimbing supaya bisa tegar menghadapi kenyataan."

"Sadboy? Gue gak sadboy ya!" Tegas Rama.

"Cowok yang enggak di anggap, di cuekin, dan di jutekin sama cewek itu termasuk sadboy menurut orang yang sadar diri. Berhubung teman kita gak sadar diri dan gak mau di panggil sadboy, harus di panggil apa tuh, Wi?" Bisik Naufal yang sayangnya terlalu keras, membuat Rama mendengarnya dengan jelas.

"Boboboy pantas tuh," jawab Alwi yang langsung di anggukkan oleh Naufal.

"Lo ambil makanan di dapur gih. Kayaknya butuh asupan gizi, makanya mulutnya penuh hujatan," Seloroh Rama yang malas menanggapi keduanya.

"Aw, baik banget kaamuuu. Tahu aja niatan kita kesini," ucap Alwi dengan cengiran khas-nya.

"Ambil yang banyak, Wi. Sekalian bawa kue kering dan buatin gue jus alpukat," pinta Naufal yang di angguki oleh Alwi dengan semangat. Alwi memang punya bakat alami menjadi babu.

Melihat Alwi sudah beranjak ke dapur, Naufal beralih menatap Rama serius. Tidak ada tampang tengil di wajahnya, di gantikan dengan tatapan mengintimidasi. "Gak ada Alwi, sekarang jujur sama gue. Siapa foto yang lo pandang tadi?"

"Fo-foto? Foto apa sih?" Tanya Rama yang sedikit gelagapan.

Naufal membalikkan bantal, foto Rama dan seseorang terpampang  jelas di sana. Dengan cepat, Naufal ambil sebelum Rama yang lebih dahulu mengambilnya. Naufal mengerutkan alis, pertanda mengingat-ingat sosok anak kecil di foto itu. Tidak salah lagi, itu Nara.

"Lo udah suka sama Nara kan? Ngaku lo! Jangan jadi pecundang!"

"Enggak, mandangi foto belum tentu suka," sanggah Rama seraya mengambil paksa foto itu dari tangan Naufal.

"Bahkan, lo masih sempet-sempetnya ngelak? Cowok macam apa lo ini? Ragu gue kalo lo cowok!" Cibir Naufal yang kesal setengah mati.

"Gue kenal lo bukan setahun dua tahun, Ram. Gue kenal lo sejak SD, gue tahu persis sikap lo. Mulut bisa aja berkata enggak, tapi mata gak bisa bohong," cerocos Naufal.

Detik berikutnya, hening. Rama sibuk menata bantal gulingnya yang berserakan ke tempat semula, tanpa melirik Naufal sama sekali.

"Lo tau sendiri, gue belum pernah merasa jatuh cinta. Gue takut untuk mengartikan rasa," celetuk Rama tiba-tiba.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang