Kematian Sia-Sia - 12 - Dendam dalam Diam

426 46 78
                                                  

KISAH SEBELUMNYA

Keberadaan Neysha menghilang, seiring kehangatan yang menyelimuti hati Alfian. Lagi-lagi ia gagal melindungi adiknya.

----------------------------------------------

Berulang kali Alfian membisikkan kata maaf yang seolah tak akan pernah berakhir. Pedihnya kehilangan membuat pemuda itu kembali menelaah semua hal yang pernah ia lakukan.

Apakah ia harus terus mengikuti kata-kata Bunda? Haruskah ia selalu berlari melintasi dimensi meski dengan begitu entah berapa kali Neysha akan mati? Lalu ketika delapan kematian terlewati, ia akan melupakan keberadaan Neysha seutuhnya. Apa yang akan terjadi padanya jika kenangan Neysha tak hadir di benaknya?

Atau memang Phönixkralle tak akan pernah mau berhenti menyiksa mereka? Namun, sampai kapan? Apa tujuannya? Bukankah ia sudah menjauh seperti yang diminta Bunda?

Mengapa setiap rasa pedih yang menusuk jiwa, tetap saja menyisakan tanya? Apa sebenarnya tujuan ini semua?

Apa dirinya sudah boleh mulai melawan? Apa belati kembar di kedua sisi tubuh sudah diizinkan dicabut dari sarungnya?

Alfian tak melihat kala Samurai itu mengangkat pedang untuk menunjuk ke arahnya yang masih berlutut dan gemetar. Kegamangan mematikan segenap gerakan. Segala pemikiran masih berkecamuk hebat di kepala pemuda itu.

Tato burung phoenix yang tersemat di punggung tangan kanan pria berkucir itu seolah berdenyut. Ia tersenyum sinis. "Kali ini kau akan kubunuh, meski Pimpinan tak ingin kau mati dan hanya ingin membunuh gadis dungu itu berulang agar kau tersiksa." Ia tertawa. "Yah, ternyata kalian sama-sama bodoh! Jadi bocah dungu itu memang layak dibunuh berulang kali sampai puas."

Seluruh gerakan Alfian terhenti sesaat. Napas yang tadinya memburu tiba-tiba menjadi begitu tenang. Seluruh getaran di tubuhnya memudar. Ada hawa dingin menguar jelas di sekitar tubuh pemuda itu. Wajahnya tanpa ekspresi ketika mendongak ke arah Samurai yang masih mencebik meremehkan.

Sejenak Alfian menelengkan kepalanya sedikit. Kemudian dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, pemuda itu mencabut dua belati dari sarungnya. Belum satu detik berikutnya, Alfian sudah berputar dan meluncur melakukan tusukan lurus ke arah leher.

Refleks terlatih Samurai mampu memutar pedangnya untuk menangkis serangan itu meski matanya kini terbelalak lebar. Tubuhnya terdorong ke belakang beberapa meter dan ia langsung memasang kuda-kuda bertempur. Kakinya masih bisa merasakan beratnya tahanan yang harus dilakukan agar tidak terdesak lebih jauh.

Serangan mematikan langsung menuju leher lawan, lompatan berputar ke depan yang bisa dilakukan bahkan dari posisi berlutut. Samurai seolah menyadari sesuatu.

"Serangan ini?! Mungkinkah kau?!"

Alfian tak memberinya kesempatan bicara. Ia memutar belatinya dan melakukan tebasan ke arah leher bagian samping.

Susah payah Samurai menangkis serangan Alfian yang jauh lebih cepat dari perkiraan. Semua gerakan ada untuk mengincar lehernya. Bahkan cedera di bahu kanan pemuda itu seolah tak memberikan pengaruh apa-apa. Gerakannya begitu halus, ringan, sekaligus mematikan.

Napas Samurai tersengal. Dirinya yang merupakan pembunuh ketiga terbaik di Phönixkralle saja, bisa dibuat kerepotan oleh cecunguk yang bahkan tidak diketahui namanya. Wajar kalau Vier sampai tewas jika memang kemampuan pemuda itu seperti ini.

Serangan demi serangan ditepisnya dengan susah payah. Beberapa kali ia harus tersudut ke tepian ruangan. Bahkan katana berlistriknya nyaris tak mampu menahan derasnya tikaman yang selalu mengarah ke leher.

My POSSESSIVE DearestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang