06. Unsure

151 29 5
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

.

(HARI KE-7 SETELAH KECELAKAAN)

Ketika ia membuka mata kembali, langit-langit ruangan bewarna putih yang tak asing mengisi penglihatan. Lama pandangannya terpaku pada satu titik hilang di atas sana. Kemudian kepalanya menoleh ke kanan, menikmati cahaya berlebihan dari pancaran sinar matahari pagi. Cuaca seakan tak berada di sisinya yang kelabu. Ryujin menarik diri dari berbaring untuk duduk, lebih tinggi mencari pemandangan akan cerahnya hari. Wanita itu termenung tak berjiwa, terpaku tak berkedip.

Ryujin berkedip, lalu menurunkan pandangan pada kaki yang terbungkus selimut rumah sakit. "Satu minggu lalu aku juga berada di sini dengan pakaian yang sama," lirih ucapanya sembari menurunkan kaki.

Ia ambil sebuah langkah untuk menjauhi ranjang, mendekati pintu kamar inapnya. Dibukanya tanpa ragu pintu berlapis kayu laminate tersebut. Ryujin temukan dua orang berseragam berdiri tegap di depan pintu kamarnya.

"Selamat pagi, Nona Shin. Anda sudah sadar? Apa perlu kupanggilkan dokter?"

Ryujin tatap pria yang bertanya tersebut, "tak perlu, aku baik-baik saja. Kalian berjaga semalaman?"

Kaku anggukkan kepala yang keduanya berikan sebagai jawaban. "Ya," ucap yang lain.

Ryujin sedikit meringis meski sudut bibir tertarik ke atas, "terima kasih."

Keduanya tersenyum tulus, seakan menjaga Ryujin bukanlah sebuah keterpaksaan. "Tentu, kami akan menjaga Nona Shin Ryujin dengan baik!" dia yang pertama lebih pintar bermain kata.

Kali ini Ryujin tersenyum, "terima kasih. Aku akan kembali beristirahat."

Ryujin tutup pintu kamar inapnya. Bergerak menuju kamar mandi, tanpa menutup pintu. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajahnya. Ada perban yang melilit kepala, memar pada pipi dan sudut bibir, jejak merah yang menodai leher. Tangannya terangkat menyentuh kepala belakang yang diperban lebih tebal.

Sudut bibirya berkedut, mencoba memisah belah bibir yang seakan melekat kuat. "Aku tampak menyedihkan," ucapnya dengan nada rendah. Matanya terpejam bersamaan dengan ia membasahi bibir. "Bajingan sialan!" umpatnya keras.

Ia cengkram tepian wastafel sebelum mata kembali terbuka untuk lebih dekat menatap pantulan diri di dalam cermin. Telunjuknya bergerak menyentuh luka pada bibir, "kau melukai bibirku. Membuatku kembali masuk ke tempat sialan ini sebagai pasien."

Ryujin menyeringai, "aku akan mencarimu. Aku bukan orang yang kau pikirkan akan menyerah begitu saja. Aku tak hanya mengambil daging telingamu, melainkan seluruh tubuh dan kehidupanmu."

Tangan yang terayun memukulkan pada cermin hingga mengeluarkan darah. Sontak hal itu mengundang dua penjaga Minhyung untuk melihat apa kiranya yang terjadi.

PANDORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang