21-Terlanjur mencinta

382 48 419
                                    

Aku hanya membisu, bukan berarti tidak merindu. Aku hanya berhenti menyapa, bukan berarti berhenti merasa.

-Nara Pramudita Nareswari.

🎼 Terlanjur mencinta-Tiara Andini🎵

_____

Titik-titik putih menyambut Nara saat pertama kali membuka mata, matanya masih menyesuaikan cahaya lampu ruangan berbau obat-obatan ini.

Nara mengerjap, lalu menoleh pada sumber suara yang terdengar bising. Nara melihat Ghina yang sedang cekcok dengan Alya, ketua ekstrakurikuler PMI. Mereka memperdebatkan acara tv mana yang paling bagus, di antara film Bollywood kesukaan Alya dan Drama Korea kesukaan Ghina. Tidak berfaedah!

Merasa ada yang memperhatikan sedari tadi, Ghina mengubah posisinya dari duduk menjadi berdiri. Lalu mendekat pada kasur bersprei putih yang di tiduri Nara.

"Eh, Nara? Udah sadar?"

Ghina membantu menegakkan punggung Nara agar bisa bersandar di kepala kasur.

"Udah tahu sadar, pake di tanya lagi." Bukan Nara yang menyahut. Itu suara Alya, si penggemar berat Syah Rukh Khan.

Ghina memutar bola matanya. "Apaan sih lo! Nyambung aja kek tiang listrik."

"Like like gue dong, gue punya mulut untuk bicara," sahut Alya.

Ghina melotot galak pada Alya. "Bodo amat!"

"Ra, rasanya pingsan itu kayak gimana sih?" Tanya Ghina sambil cengengesan. "Sumpah ya, gue belum pernah ngerasain pingsan dari kecil."

Alya menyodorkan gelas yang berisikan teh manis pada Nara. "Minum dulu, Nara. Jangan ladenin temen lo yang banyak bacot itu."

Nara meraih gelas yang di sodorkan Alya. Karena tehnya masih panas, Nara meniupnya terlebih dahulu. Setelah mulai terasa hangat, Nara meminumnya sampai tersisa setengah.

Di satu sisi, Ghina melotot marah pada Alya. "Yang lo maksud bacot itu, gue?"

"Siapa lagi kalau bukan lo," jawab Alya tenang.

Ghina mendecih. "Diem lo, nehi nehi! Tangan gue gatel banget pengen jambak rambut lo daritadi."

Nara meringis kesakitan, tangan kanannya memijit pelipisnya . "Jangan berantem dong, gue pusing dengernya."

"Gara-gara lo tuh!" Ghina menunjuk Alya, sedangkan Alya menunjuk Ghina. Mereka berdua melengos dan memutar bola matanya ke sembarang arah.

Alya tersenyum simpul pada Nara. "Gue ke kelas duluan ya. Lo tiduran aja kalo masih pusing."

Nara membalas senyuman Alya. "Iya, makasih Alya."

"Sama-sama." Setelah berkata demikian, Alya beranjak ke kelas dengan terburu-buru.

"Pergi kek daritadi, gak guna juga di sini!" ucap Ghina sewot.

"Ghin."

Ghina menoleh pada Nara. "Apa?"

"Gue berapa lama pingsannya?" Tanya Nara yang sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Asal lo tahu, lo pingsan dari pelajaran pak Fathur sampai istirahat pertama." Ghina melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hampir satu jam-an lah."

Nara tercekat mendengarnya. "Seriusan lo?"

"Ghina yang cuantik mempesonah ini gak mungkin bohong dong."

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang