自殺

546 59 4
                                    

Kepalaku sakit hingga rasanya ingin meledak.

Di kananku, Odasaku sedang tertidur dengan pulas. Dengkuran pelan terdengar di telinga kananku, seolah memberitahu bahwa si pendengkur tidak mau diganggu. Wajah tidurnya membuatku tersenyum tipis.

Di kiriku, Ango sedang tidur dengan mulut terbuka. Air liur yang sebentar lagi akan jatuh ke lehernya, membuatku ingin memalingkan muka. Ango kelihatannya lelah sekali, kudengar tadi Shisho menyuruhnya bekerja terlalu keras.

Tempatku sempit, tapi rasanya nyaman bisa tidur diantara teman-teman yang kusayangi. Aku perlahan bangun dari tempatku, kemudian mengibaskan selimut pelan.

"Dazai-kun?"

Sepertinya aku membangunkan seseorang. "Maaf, Odasaku. Apa aku membangunkanmu?"

"Ngg. Yaa, begitulah." Odasaku mengucek matanya. "Ingin ke toilet? Ngg, jam berapa sekarang?"

"Masih pukul 1 malam. Tidurlah."

"Kau mau ngapain?" Odasaku bertanya dengan mata terpejam. Aku tertawa pelan.

"Toilet."

"Hati-hati...."

Odasaku kembali terlelap. Ango mengubah posisi mencuri bagian tengahku. Tidak ada tempatku untuk tidur lagi kasur ini sekarang.

Aku mengambil mantel. Udara di luar sangat dingin atau aku terlalu berkeringat karena ditimpa dua manusia tadi. Aku melangkahkan kaki ke koridor, memfokuskan tujuanku ke Dining Hall untuk mencari air.

Mataku menangkap sesosok pria di ujung sana. Berpakaian serba hitam dengan sesuatu di tangannya.

Aku tidak tahu itu senjata atau apa, tapi aku yakin itu berbahaya.

"...siapa?"

Sosok itu tidak menjawab. Aku tidak mungkin lari untuk melaporkannya kepada Kanchou ataupun Shishou. Aku memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi.

"Sia...pa?"

Suaraku terlalu rendah, kurasa dia tidak akan mendengarkanku.

Aku melangkahkan kaki maju. Memperhatikan sosok itu sambil mengeluarkan bukuku.

"Musuh? Di saat seperti ini? Penyusup?" begitu banyak hal yamg terlintas di benakku.

"Hei-"

"Uwah!"

Aku sudah mengeluarkan setengah sabitku dari buku, dikejutkan oleh sosok itu yang juga terkejut akan kehadiranku.

"Shiga...?!"

"Dazai?!"

Aku merutuk seketika, "Dimana kepalamu?! Kenapa jam segini belum tidur!"

"Hah? Cerewet, memangnya kau Shisho? Tidak tuh."

"Kau mengagetkan orang yang mau lewat disini!"

"Aku juga mau lewat, Dazai Osamu. Menyingkir dari hadapanku, ah, sebelum itu simpan sabitmu itu."

Aku menghela napas. Aku menyimpan sabitku kemudian menatapnya lagi. Tajam.

"Untuk apa kau membawa...apa itu? Palu?"

"Pasak di dekat tempat tidurku keluar. Aku mau memperbaikinya."

Aku mengangguk paham, "Kalau begitu pergilah!"

"Kau mau kemana?"

"Dining Hall, minum."

"Ikut."

Aku mendengus, "Tidak boleh!"

"Jangan geer. Aku mau mengambilkan palunya!"

"Ish!"

Bungou To Alchemist -Drabble-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang