2. Bulu Rubah & Gengsi

11.6K 1.9K 88
                                              

Seluruh kepala murid yang berada di dalam ruangan kelas XI IPA 1 mengarah pada pintu yang terbuka. Mereka sedang menebak-nebak nasib salah seorang murid di kelas itu—Jerry.

Gadis yang memakai name tag bertuliskan Nayumi Zesha, menopang dagunya di atas meja sambil menghela napas. "Tinggal dua menit lagi, gue yakin dia nggak bakalan muncul."

"Dem, mau taruhan?" bisik salah seorang murid lelaki di telinga Demi sambil tersenyum miring.

Demi menoyor pelan kepala lelaki berlesung pipi itu. "Ario idiot! Siapa yang mau taruhan pada hal yang udah diketahui jawabannya?"

"Abis gue tegang banget. Kasian Jerry kalo beneran disingkirin." Ario menghela napas berat lalu menyandarkan tubuh belakangnya di kursi.

Suara di dalam kelas kini didominasi oleh murid yang sedang ribut menerka nasib Jerry setelah berani menyinggung Scarlet.

"Kalian semua nggak bisa diam?" Suara bariton dari seorang murid lelaki berkacamata yang tadinya sibuk membaca buku, sukses mengejutkan seisi kelas.

Dia adalah siswa yang menjabat sebagai ketua kelas XI IPA 1. Tegas, tidak banyak bicara, kutu buku dan cukup tampan. Setelah semua murid terdiam dan duduk rapi, dia kembali membaca buku seperti tidak ada kejadian.

"Ini yang aku suka dari Reiza." Suara hentakan sepatu familiar berjalan masuk ke dalam kelas. Semua murid memasang tampang tak percaya.

Karena gadis kejam itu masuk lebih dulu, sepertinya Jerry memang benar-benar sudah tersingkir.

Scarlet duduk di bangku, meletakkan tas lalu menoleh ke arah Reiza yang duduk di samping kanannya.

"Satu suaramu bisa bikin puluhan lalat terdiam."

Kata 'lalat' membuat mata sebagian murid reflex mendelik. Andai saja bisa, mereka pasti akan memutilasi lidah Scarlet yang setajam silet.

"Hobby lo masih aja seputar nyingkirin orang, ya," sindir Reiza dengan tatapan terfokus pada buku Fisika.

Scarlet yang baru saja membuka buku, sedikit menaikkan sudut bibirnya. "Aku cuma bantuin dia."

Balasan dari Scarlet membuat Reiza menutup bukunya. Ia melihat ke arah gadis itu dengan alis yang naik sebelah. Bisa-bisanya menyingkirkan seseorang dianggap sebagai bantuan.

"Oh, ya. Cara ngomong kamu masih aja mirip orang biasa, ya." Sindiran Scarlet berlanjut, ia menyibak lembaran bukunya perlahan. "Aku jadi ragu kamu cocok ada di sini."

Reiza berdeham, lalu mengalihkan fokusnya ke buku yang tadi sempat ia abaikan. "Kadang kita perlu jadi biasa, biar nggak lupa kalau kita ini manusia."

"Aku ngerti. Kerikil nggak akan bisa dipoles jadi berlian," sindir Scarlet lagi, dengan nada pelan. Namun, ucapannya masih bisa didengar oleh Reiza—sangat menusuk. Pria tampan berkacamata itu sampai mengepalkan buku tangannya, menahan geram.

Reiza ingin membalas Scarlet dengan kalimat yang mungkin bisa membuatnya bungkam. Namun, kedatangan Bu Sandra—wali kelas—membuat pria itu mengurungkan niatnya.

Guru muda cantik tersebut mengambil duduk di area mejanya. Seperti biasa, Reiza yang notabene-nya ketua kelas langsung menginstruksikan greeting.

"Anak-anak, saya mempunyai berita baik dan berita buruk. Mungkin berita buruknya kalian sudah tahu," ujar Sandra begitu usai greeting. Matanya tertuju ke Scarlet yang juga sedang menyimak ucapannya dengan air muka datar.

"Hari ini kita kehilangan Jerry. Dia telah dipindahkan ke kelas XI IPA 5 berkat seseorang."

Sebagian isi kelas menurunkan bahunya, kecewa. Ini memang bukan berita baru bagi mereka semua, tapi tetap saja sangat disayangkan. Mereka kehilangan satu teman lagi, meskipun tidak ada yang benar-benar bisa dianggap teman di kelas ini.

Merapi & Benua [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang