SECARIK KERTAS BARU

Mulai dari awal
                                                  

Bayu tak menjawab pertanyaan orang misterius itu, ia memandang dengan sorot mata ngeri karena Bayu baru menyadari bahwa tepat di belakangnya ada seorang wanita tua yang tinggi, ia bersembunyi di balik kursi kayu tersebut, melihat Bayu dengan sorot mata mengancam, melihat hal ini Bayu yang masih tak lebih dari anak-anak berusia 7 tahun, ia melangkah keluar berlari, namun didepan tenda tak lagi di temukan kerumunan orang yang tadi ia lihat, aneh, kemana perginya orang-orang.

Bayu sontak mulai berteriak memanggil-manggil nama bapak namun suara hujan serta gemuruh guntur memudarkan suaranya,

Sampai di satu titik Bayu mendengar seseorang berbicara satu sama lain, Bayu melihat sebuah jalan setapak yang sengaja di babat tak lama, Bayu berpikir mungkin disanalah bapak berada dengan yang lain, Bayu mulai menelusuri jalan kecil setapak itu melupakan sosok wanita tua jangkung yang bersembunyi di belakang orang misterius itu.

Semakin lama semakin jauh Bayu melangkah mulai terdengar suara orang-orang yang berbicara satu sama lain, Bayu akhirnya melihat siluet orang-orang sedang berkumpul memutari sesuatu dengan palang besi besar yang menjulur keatas dengan rantai-rantai berkarat yang diguyur oleh hujan, Bayu bersembunyi dalam semak belukar, mengamati apa yang sedang terjadi, orang-orang itu semuanya memandang ke sebuah lubang di bawah palang besi, tepat di atasnya terdapat tiang runcing dengan geligi, apa yang sebenarnya mereka semua lakukan di sini,

Di dalam pengintaian itu Bayu tak sengaja akhirnya menemukan keberadaan bapak, ia masih menggendong Dayu adiknya, anak itu lebih kecil dari dirinya dan hanya terpaut 2 tahun, Dayu terlihat bingung ia tak henti melihat ke wajah orang-orang, Bayu sendiri bingung untuk apa bapak mengajak Dayu serta dirinya ke tempat ini, belum terjawab pertanyaan Bayu tiba-tiba sesuatu terjadi, sesuatu saat dimana bapak tiba-tiba melemparkan Dayu tepat ke dalam lubang itu dan kejadian itu berlangsung sangat cepat karena belum Bayu sadar apa yang sedang terjadi di sini, Bayu melihat besi runcing dengan geligi itu jatuh melesat masuk ke dalam lubang, desing suara mesin terdengar, besi bergeligi itu berputar hebat seperti mengebor apa yang ada di dalam labung termasuk keberadaan adiknya di sana, karena setelahnya percikan darah memuncrat—diikuti wajah kosong orang-orang itu, Bayu mendengar pekik suara adiknya, ia meminta tolong—meminta tolong kepada dirinya.

***

Bayu tersentak dari tidurnya, sudah lebih dari dua puluh tahun kejadian itu terjadi namun ingatan itu seperti tak pernah bisa lenyap dari dalam pikirannya. Bayu terduduk di atas ranjang bersprei putih itu, ia meringkuk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menahan tangis yang begitu hebat, ia tak akan melupakan semua ini, mimpi buruk ini, mimpi buruk ini adalah karena kesalahannya, kesalahan bapak dan SONGKOR yang terikat dengan dirinya.

Bayu berdiri dari tempatnya, ia menatap kearah cermin di meja rias, melihat wajah serta bentuk tubuhnya bertelanjang dada di tutupi oleh seperca celana pendek, ia melirik kearah ranjang tempat seorang wanita sedang tertidur di balik selimut, Bayu meraih pakaian serta tas kain yang ada di atas kursi sebelum melangkah pergi.

**
di lorong Hotel, setelah melewati pintu lift Bayu berajalan melangkah keluar, ia menuju ke meja resepsionis menyerahkan kunci kamar, seorang resepsionis wanita sontak menatap Bayu dengan sorot mata heran, "bukankah anda menyewa kamar untuk tujuh hari kedepan, anda tidak harus menyerahkannya sekarang"

Bayu tersenyum lalu berkata, "saya harus pergi ada pekerjaan lain" katanya, meski begitu si wanita mencoba untuk berbicara namun sorot mata Bayu yang begitu tajam menghentikan dirinya, belum pernah ia melihat seorang lelaki setampan ini, Bayu meninggalkan meja resepsinonis saat dirinya teringat sesuatu, "oh, saya lupa, mungkin kamar yang saya gunakan lebih baik baru di bersihkan saat jam menunjukkan pukul 12, karena di dalamnya masih ada orang" kata Bayu meninggalkan tempat tersebut, sementara wanita di meja resepsionis hanya diam memandang punggung Bayu yang kekar.

KUDROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang