20-Awal perubahan

456 59 434
                                    

Tak terdengar sapa yang membahana
Tak ada lagi senyuman yang memesona
Ego dan duka larut dalam euforia
Merayakan kemenangan atas kepergiannya

-Rama Aditya Pratama

🎼Without you- Halsey🎵

Mau tanya, kalian tim vote sebelum baca atau vote setelah baca?

_____

Di pagi hari, kelas 11 MIPA 1 sudah sangat rusuh sekali. Ada yang sibuk memasukkan bajunya ke dalam celana, meminjam topi dan dasi, merencanakan akting pingsan, sampai harus kabur-kaburan karena di tagih uang kas oleh bendahara alias preman kelas dadakan.

MIPA berasa IPS!

"ALWIII!" Teriakan Siska, si bendahara kelas terdengar nyaring di kelas.

Mulut alwi setengah terbuka. Refleks, kedua tangan Alwi memukul bahu Naufal dan Rama yang berada di sisi kanan dan kirinya.

"Woy! Lo lihat tuh! Siska nyamperin gue, oyyy!!" Heboh Alwi.

Tangan Naufal mengusap bekas pukulan Alwi. "Sakit, bego!"

Sedangkan Rama hanya membersihkan bekas pukulan Alwi dengan tisu. Seolah-olah, Alwi adalah kuman yang menjijikkan.

"Ke warung bu tuti
Cuma beli mie
Hai ukhti
Will you marry me?"

Siska mengepalkan tangan kanannya ke udara. "Lo mau gue pukul?"

Respon Siska memicu tawa seluruh murid kelas 11 MIPA 1, terkecuali Siska yang marah dan Rama yang acuh.

Alih-alih merasa malu, Alwi malah terkekeh pelan. Tangan kanannya menopang dagu. "Bep! Kenapa kalo marah-marah gini, nambah cantik sih?"

"JADI MAKIN CINTAAAAH KAN." Alwi memberikan finger heartnya pada Siska.

"CIE CIEEEE!" sorak Naufal yang kemudian di susul oleh yang lainnya.

Bagi mereka, Alwi dan Siska sudah menjadi tontonan gratis setiap harinya. Jika ada salah satu dari mereka yang tidak masuk kelas, di pastikan tidak akan seheboh sekarang.

Siska berkacak pinggang, matanya menatap Alwi tajam. "Jangan sok cinta-cintaan dulu lo! Bayar uang kas lo yang nunggak dua bulan!"

Sontak, kedua tangan Alwi menutup telinganya rapat-rapat. "Nweng, lo ngomong apa? Kok gak denger ya?"

"Coba sini, gue bisikin," sahut Siska dengan suara melembut.

Alwi merasa curiga, Siska tidak pernah selembut ini sebelumnya. Namun, Alwi tetap memajukan tubuhnya pada Siska.

Siska tersenyum smirk, lalu menjewer telinga Alwi sekuat tenaga. "Gak usah pura-pura gak denger lo! Giliran di tagih uang kas, selalu punya seribu alasan!"

Penonton kembali tertawa terbahak-bahak di buatnya. Pertunjukan seperti ini selalu mereka nanti-nantikan setiap harinya.

Walupun meringis kesakitan, Alwi masih sempat-sempatnya berucap, "Kalo mencintai kamu gak butuh alasan kok."

Siska mendesis, ia menjewer telinga Alwi lebih kencang. "Gak usah ngalihin pembicaraan lo!"

"Cepet bayar! Cuma lo doang yang hobi bermasalah sama gue!" Tambahnya.

"Karena dengan cara itu, gue bisa deket sama lo." Batin Alwi.

"Aduh, aduh! Ampun! gue bayar!" Seru Alwi yang sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya. "Lepasin dulu dong."

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang