Beberapa hari terakhir kesehatan Sung Hwa memang sedikit terganggu. Demam yang datang tanpa diundang membuat tubuh Sung Hwa sedikit lemas. Langkah lakinya tak bisa dipaksakan untuk melangkah. Kepalanya terlalu berat untuk diangkat. Matanya terlalu malas untuk membuka.
Dayang Jo yang baru saja datang untuk memberikan makan siang, terkejut. Mulut bibir dayang Jo tak bisa untuk tidak berteriak saat melihat ratunya tergeletak di atas lantai.
“Jungjeon Mama, apa yang terjadi? Jungjeon Mama bangunlah!” Dayang Jo menyeka sudut matanya, ia dibantu oleh dayang Jeong dan Nari untuk memindahkan Ratunya ke futon.
Setelah mengirim tabib untuk memeriksa barulah Sung Hwa tersadar. Mengangkat kepalanya, ia melihat dayang Jo, dayang Jeong dan Nari duduk mengelilinginya. Tersenyum dengan samar, Sung Hwa hanya bisa menyembunyikan rasa sakit yang tiba-tiba datang.
“Jungjeon Mama sangat demam sampai tubuh Jungjeon Mama sedingin es. Jungjeon Mama, jangan lupa bahwa Mama mempunyai pelayan. Jika tubuh Mama merasa kurang sehat segera beritahu kami,” ucap dayang Jo.
Sung Hwa seakan linglung dan itu membuat dayang Jo merasa cemas.
“Jungjeon Mama, aku akan membuat obat yang diresepkan oleh tabib,” ucap Nari.
“Cepatlah Nari!” perintah dayang Jeong.
Di tempat lain, Ok Jung di layani oleh dayangnya tengah berdandan. Dengan penampilan yang mencolok, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dayang Shin yang membantunya tidak bisa lepas dari baju yang dikenakan Ok Jung. Itu baju yang terlalu berlebihan untuk dipakai oleh seorang selir bahkan Ratu memakai baju yang kalem dan terkesan elegan.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?”
“Tidak.”
Ok Jung tersenyum dan langsung menyentuh binyeo yang menghiasi rambutnya, “Aku mendengar rumor bahwa aku adalah wanita penggoda Raja, aku tidak bisa menutup mata mereka. Apa pun yang aku kenakan pasti akan dipersalahkan jadi aku hanya bisa menikmatinya saja.”
Penglihatan Ok Jung tiba-tiba buram. Ia merasa linglung untuk sesaat jadi dayang Shin memerintahkan tabib untuk memeriksa kesehatannya sebelum keberangkatan.
Di tempat yang berbeda Menteri Min menemui Ibu Suri. Ia memberitahu bahwa putrinya tidak bisa ikut dalam acara keberangkatan tradisi istana dikarenakan Ratu sedang demam. Ibu Suri sangat terkejut dan merasa cemas akan kesehatan Ratu tapi dia tidak bisa membantu. Tradisi Kerajaan bersifat mutlak dan tidak bisa diabaikan begitu saja, jadi Ibu Suri akan tetap menyelenggarakannya tanpa Ratu. Sebenarnya Ibu Suri sudah menyiapkan dua tandu untuknya dan untuk Ratu.
Yang dilakukan Sung Hwa sepanjang hari hanya berbaring sambil menikmati beberapa buah yang dayang Jo siapkan. Beberapa kali juga ia merapalkan sumpah serapah yang ditujukan oleh Lee saat tubuhnya terasa sakit saat digerakkan. Matanya dengan lihai membaca perincian perkembangan usahanya. Setelah istirahat sebentar dan meminum obat, tubuh Sung Hwa berangsur-angsur membaik. Saat buah yang berada ditangannya sudah hilang dalam mulutnya. Tangannya kembali mengambil buah lagi.
Hari ini istana begitu damai karena tidak adanya Ibu Suri, Raja dan Selir menyebabkan suasana hatinya perlahan membaik. Tak begitu lama suara gesekan pintu terdengar. Dayang Jo membawa selembar kertas. Sung Hwa tidak bisa untuk mencegah rasa penasarannya.
“Apa yang ada di tanganmu?”
“Ini adalah laporan pria asing yang Jungjeon temui.”
Sung Hwa mengambil kertas tersebut, menelisik tulisannya benar-benar membuat Sung Hwa merasa pusing. Mengerjapkan matanya, dahinya perlahan mengernyit.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANDING ON YOU (Promo Spesial 30 September- 3 Oktober 2021)
Historical FictionApa jadinya jika kamu terlempar dalam dimensi lain. Inilah yang dialami Han Sung Hwa gadis modern yang terlempar dalam serial novel bertema saeguk. Mendarat di tanah Joseon, Sung Hwa menjadi seorang Ratu yang tidak dicintai oleh suaminya. Mengingat...
