0.9 Fucking Tired

1.1K 130 42
                                    

I'm losing myself
I'm so fucking tired
Done Done Done!(?)!

;

Ah, sudah gelap, ternyata sudah hampir pukul sepuluh malam. Hari ini Seokjin merasakan lelah luar biasa. Makin hari pelanggan kafe di tempatnya bekerja makin melimpah ruah yang membuatnya harus sibuk setengah mati. Sekolah, dipukuli, diteror diri sendiri, dan bekerja. Seokjin berbangga diri sebab merasa dia merupakan salah satu manusia terkuat, punggungnya belum juga hancur walau hujan badai telah bolak-balik singgah di hari-harinya.

"Kau sudah makan, Jin?"

"Jangan bekerja terlalu keras sampai melupakan hal penting lainnya."

"Menghargai diri sendiri juga penting, kau harus tahu itu."

Siapa lagi kalau bukan Ken. Hanya dia yang berani bersuara dengan retetan kalimat menyebalkan kepada Seokjin. Perlu diingat, mengajak untuk akrab kepada Seokjin itu susah sekali, Ken sudah berpengalaman.

"Aku sudah makan. Terima kasih." Dan Ken lantas mencebik. Padahal dia mengharapkan kalimat lain keluar dari mulut Seokjin.

"Kau tidak punya tugas sekolah? Sudah hampir jam sepuluh malam. Aku bisa menggantikan pekerjaanmu supaya kau bisa mengerjakan tugas sekolah."

Adakah?

Seokjin sudah lupa tentang apa itu sekolah semenjak isi kepalanya berputar mengenai uang-uang teman-teman di sekolah, tatapan kecewa Paman dan Bibi, dan tawaran upah menggiurkan kemarin.

"Aku rasa tidak ada. Terima kasih." Lalu ia melanjutkan pekerjaannya sebaik mungkin.

"Astaga, keterlaluan sekali. Aku lebih tua darimu, Seokjin!" Ken menggeram karena bocah ingusan yang tengah mencuci piring ini seperti tak bersemangat atas kebaikan yang ia tawarkan, apalagi kalimat di akhir itu 'Terima kasih' apa-apaan ini?!

"Yaampun kekanakan sekali. Baiklah hormat gerak kepada Kak Ken yang terhormat."

Mau bagaimana lagi selain menoyor kepala Seokjin sampai anak itu mengadu kesakitan. "Sakit, tidak? Hatiku juga begitu. Sok artis sekali."

Seokjin hanya menggeleng sembari menghela napas. Makin-makin membuat Ken dongkol.

Agaknya, ya sudahlah, lagia pula Ken menyayangi teman kerjanya ini. Tabiat Seokjin memang begini, jadi dia memaklumi. "Omong-omong berapa juta jiwa yang makan disini. Banyak sekali piringnya. Mau aku bantu? Oke aku bantu." Tanpa melalui persetujuan Seokjin, Ken mengambil singgasana Seokjin semula dan meletakkan anak itu di depan segelas susu dan roti.

"Ken, sungguh aku berterima kasih. Nanti antar aku ke rumah, ya?"

Kenapa Ken jadi ingin memukul tengkuk Seokjin? Ah, karena Ken memang baik hati, "dengan senang hati, Seokjin."

"Tidak perlu, aku hanya bercanda. Aku pulang dulu. Terima kasih bantuannya!" Seokjin pergi meninggalkan kafe, mengucap salam pada semua karyawan dan mengatakan kepada majikannya jangan memotong upahnya karena Ken menawarkan diri secara cuma-cuma.

___

Malam tadi Seokjin kembali ke rumah paman dan bibi yang terhias lampu remang sebab sudah hampir memasuki pagi. Dan teramat berucap syukur kala menyadari pintu masi terbuka lebar menerima dirinya. Seokjin pikir memang seharusnya begitu, mereka semua masih menyayangi Seokjin. Yang berbeda hanya karena dirinya yang diharuskan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Dengan kata lain semacam hukuman.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 17, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CalamityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang