Peran Masa Lalu

924 107 46
                                                  

Italic for flashback
.
.
.
.

Terbangun dengan tubuh pegal di atas karet bukan ranjang empuknya bersama Yoongi di sebelahnya adalah hal yang tak pernah Jimin bayangkan. Begitu matanya terbuka, yang ia dapati adalah layar televisi. Lengkap dengan karpet serta sofanya, bahkan ada remote control di atas meja. Satu hal yang pasti–Jimin ada di ruang tengah.

Seingatnya ia tak mempunyai kebiasaan tidur sambil berjalan dan tak pernah sekalipun Jimin si pemilik kantor tampan ini tidur di sembarang tempat. Jimin pria berkelas, man. Tempat tidurnya di atas ranjang bukan di atas karpet.

Satu opsi yang jelas Jimin pastikan keakuratannya sebagai tersangka adalah Min Yoongi yang menyeretnya ke sini tadi malam, mentang mentang cara tidurnya seperti mayat. Yoongi itu bar bar–dan tak terduga. Ingat, kan, bartender itu pernah menghindarinya lalu tiba tiba datang membawa pizza? Atau ketika ia menerobos kondominium Jimin karena di usir dan tidur di atas punggungnya? Oke, Jimin rasa itu sudah cukup menjelaskan.

Inginnya mengamuk, ini terlalu merendahkan dirinya. Tapi, dasarnya Jimin itu bucin tingkat dewa, begitu Yoongi muncul di hadapannya, ia justru terpaku menatapnya. Bahkan hampir mimisan karenanya. Sialan–bathrobe sialan.

"Kenapa kau?" Yoongi yang membuka percakapan setelah ia duduk di sofa, karena hell–Jimin bahkan tak berkedip sejak ia keluar dari pintu kamar.

Jimin mendecih. Pandangannya di palingkan enggan menatap Yoongi sambil mengusap wajah, "kau yang kenapa?"

"Aku?" Yoongi menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung, "aku kenapa?"

"Kau ini minta di setubuhi, ya?"

Yoongi jelas mendelik. Apa apaan Park Jimin ini. Bangun bangun sudah ngelantur ingin menyetubuhi orang. Dasar pria kaya gila. "Bangsat!"

"Yang bangsat–" Jimin tiba tiba saja bangkit berdiri, membungkuk sedikit hingga wajahnya sejajar dengan Yoongi. Jarinya menunjuk apa yang Yoongi gunakan. Bathrobe berwarna putih –dengan bagian bawahnya yang terbuka di pertengahan paha, serta bagian pundaknya yang turun memperlihatkan bahu pucatnya–tambahkan itu. Mata Jimin menyipit, "itu kau."

"Kenapa aku?" Yoongi menaikkan oktaf suaranya, memandang Jimin balik dengan mata melotot, menampilkan kebengisan yang nyata. Meski di mata Jimin, itu sangat menggemaskan.

"Kau makin bangsat jika begini," tangannya turun. Menyentak bathrobe yang Yoongi gunakan hingga menutupi pahanya yang mulus. Tangannya berpindah menarik kain putih itu hingga menutup bahu Yoongi yang mengundangnya untuk di beri gigitan klaim. Keparat kecil ini, "pakai bajumu."

"Malaaas."

Jimin mendelik. Apa itu barusan? Suara siapa itu? Yoongi baru saja merengek? Otak paginya masih bekerja tolong, dan itu lebih terdengar seperti desahan.

"Min Yoongi," baiklah, Jimin rasa ia tak punya pilihan lain sekarang, "pakai bajumu atau kau kucium seperti saat kita SMA."

Ganti Yoongi yang mendelik. Kakinya melesat cepat menuju kamar, jelas untuk ganti baju. Tidak tau saja 'ciuman masa SMA' yang di berikan Jimin itu seperti apa. Yoongi tak ingin ingat dan merasakannya lagi. Yang ia ingat hanya ia ingin sekali mengecuhi wajah Jimin saat itu–tapi tidak bisa.

"Cepat masak sarapan!"

"Berisik!"

.
.
.
.

Jimin pergi ke kantor hari ini. Meskipun ia pemiliknya, ia tak bisa seenaknya mengambil cuti. Walau dulu begundal, ia adalah pria bertanggung jawab. Ia akan menumpuk pekerjaan jika terus terusan cuti.

Seperti saat ia mencium Yoongi dulu dan malah tidak bertanggung jawab. Walaupun Yoongi jelas tidak mau dengan Jimin–dulunya. Dan ia jadi menumpuk cinta membara yang menggelora seperti genderang perang. Oke, lupakan. Definisi gila.

00:00 [MinYoon]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang