Malam yang Panjang

27K 2.7K 20
                                        

🌌


Lee dan Ok Jung terkejut melihat kedatangan Ratu In Hyeon. Ok Jung segera melepas rengkuhannya dan menatap Ratu In. Sung Hwa melihat Ok Jung dengan nyalang. Selain merayu pria, Selir ini tidak memiliki keahlian lain. Sung Hwa belum benar-benar mampu mengendalikan emosinya atas kejadian yang menimpanya beberapa menit yang lalu dan sekarang matanya harus ternoda dengan adegan yang menurutnya menjijikkan.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku mencari pacarku dan tidak sengaja melihat suamiku bersama wanita penggoda.”

“Pacar?”

“Oh, memangnya hanya kamu yang mempunyai selingkuhan. Kalau kamu bisa selingkuh kenapa aku tidak?”

“Min In Hyeon!”

“Apa?”

“Kamu ingin mengetahui wajah pacarku? Yang jelas dia lebih tampan, kaya, bermartabat dan juga baik. Ah jangan lupakan, dia juga setia.” Sung Hwa memalingkan wajahnya dan tidak sengaja menemukan pria cabul yang ia temui di pagar perbatasan.

Sikap serius yang ditampilkan Sung Hwa sukses membuat Ok Jung dan Lee terkejut. Lee awalnya berpikir Ratunya hanya bercanda tetapi kenyataannya berbeda. Mata elang itu menangkap sosok pria lain di gerbang paviliun. Para dayang yang berada di sekitarnya menyaksikan Rajanya tampak dingin. Mengikuti arah pandang Lee, Ok Jung menemukan sosok lain.

“Apakah dia selingkuhan yang dimaksud Ratu In?” gumam Ok Jung.

Merasa diawasi, pria yang berada di depan gerbang tersebut minggir. Pria tersebut merasa ada yang salah. Ia dengan canggung membungkuk dan memberi hormat setelah itu pergi dengan terburu-buru. Melihat betapa tidak jantannya pria itu. Lee mengejek.

“Apakah itu pria yang kamu banggakan?”

“Aku tidak mengatakan dia adalah orangnya.”

Lee seakan mempunyai dorongan untuk marah. Ia melangkah mendekati Ratunya dan mendorong tubuhnya untuk lebih mendekat. Tangan Lee mencengkeram kuat pergelangan tangannya. Sung Hwa tidak mempunyai pilihan selain membiarkannya bertindak. Mungkin dimata orang yang memotret dari sudut pandang berbeda. Mereka tampak sangat mencintai. Namun kenyataannya hanya mereka yang terlibat yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jantung Lee benar-benar berantakan sekarang ini dan tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami Sung Hwa.

Tatapan dingin Lee mendarat pada Sung Hwa, “Aku menikahimu karena terpaksa dan aku tidak menyukaimu. Tapi selama kamu menjadi milikku, aku tidak akan suka barangku diambil orang lain. Aku tidak akan pernah membiarkan barangku disentuh orang lain sekalipun aku membenci barang itu.”

“Aku takut kamu akan kecewa.”

Dengan itu Sung Hwa langsung berbalik sedangkan Lee masih terpaku di tempatnya.

Sung Hwa kembali ke paviliun dan langsung memasuki kamarnya. Dia duduk di sana. Pikirannya sungguh berantakan.

“Jungjeon Mama, apakah Jungjeon sudah tidur?” tanya dayang Jo dari luar.

“Belum, ada apa?”

“Ibu Suri mengantarkan teh untuk Mama."

“Masuklah.”

Seorang pelayan datang dengan seteko teh lengkap dengan cawan kecil. Di sana juga ada beberapa camilan manis.

“Dayang Jo, bisakah kamu membuatkan aku segelas susu.”

“Susu?”

“Iya, susu hangat.

“Baik Jungjeon Mama.” Dayang Jo meninggalkan kamar itu, menyisakan Sung Hwa yang masih terdiam di sana.

Brak, suara pintu dibuka dengan paksa menampilkan sosok yang angkuh dan tak tersentuh. Sebelum Sung Hwa mampu bereaksi dengan apa yang terjadi. Lee langsung menariknya dan menekannya di bawah kungkungannya. Ia menekannya di bawah kendalinya.

“Bukankah kita memiliki malam hae-ssi.”

Lee berbicara dengan lancar dan fasih. Sung Hwa belum mengetahui apa yang sedang terjadi tapi hidungnya mencium bau yang seperti arak beras. Ujung jari Lee menyapu wajah Sung Hwa yang halus. Tatapannya yang tajam tertuju pada wajah Sung Hwa dan matanya sedingin es di kutub.

“Kamu mabuk. Apakah wanita itu membiarkanmu mabuk?”
Sung Hwa diam-diam menggertakkan giginya. Ia tanpa ekspresi menatap pria tampan yang menekan tubuhnya. Pada saat yang sama dia juga dipanggil suami oleh orang lain. Lee tersenyum. Tangan besarnya membuka sampul tali baju Sung Hwa.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Apakah kamu akan menolak?”

“Kamu bilang tidak suka barang sepertiku. Ingat kamu membenciku!”

Senyum lucu itu langsung digantikan dengan kegelapan lalu berganti lagi menjadi senyuman mengejek. Matanya berkedip sejalan dengan tangan besarnya yang menarik bajunya hingga setengah terbuka.

“Aku memang tidak menyukaimu tapi bukan berarti aku tidak akan menyentuhmu.”

“Bukankah Ibu Suri menyuruhmu untuk segera memberikan keturunan.” Tambah Lee.

“Bukankah kamu menginginkan keturunan dari selirmu. Kamu sudah melanggar perjanjian kita sedari awal. Raja, takhta yang kamu pegang sekarang bahkan tidak cocok untukmu.”

Wajah Lee dipenuhi dengan amarah yang ditekan. Api dimatanya sudah cukup untuk membakar Sung Hwa. Ratusan panah bahkan sudah muncul dari setiap jarinya yang siap menghunjam epidermis Sung Hwa. Sung Hwa berusaha melepaskan diri dari pria yang bernama Lee namun usahanya sia-sia. Tidak punya pilihan lain, Sung Hwa menggunakan kepalanya untuk dibenturkan di kepala Lee.  Lee mengerang kesakitan.

Sung Hwa menggunakan  kesempatan ini untuk bangkit berdiri namun sebelum dia bisa berdiri dengan sempurna. Tamparan keras mendarat di pipi Sung Hwa. Sung Hwa yang tidak siap merasakan kesakitan terlempar kembali dalam posisinya. Ia menutup matanya dengan rasa sakit. Dua garis yang dijejakkan oleh air mata mengalir indah di pipinya.

Cahaya di dalam ruangan itu tiba-tiba padam. Suara hening terasa menyesakkan. Malam ini adalah malam yang panjang yang pernah ia lalui. Sung Hwa memegang pipinya yang terasa terbakar, berusaha menatap pria yang berada didepanya dengan tanang. Seumur hidupnya ia tidak pernah dipukul bahkan ditampar. Di dunia modern, Sung Hwa terlahir dengan sendok emas yang selalu dimanjakan.


Kamarnya sebelumnya sudah dihiasi dengan bunga-bunga oleh dayang Jo. Lilin-lilin putih yang sudah dipadamkan masih mengeluarkan aroma sedap. Dalam kegelapan malam hanya ada geraman yang rendah. Sung Hwa hanya bisa menerima nasibnya. Air mata dan keringat meluncur di tubuhnya bercampur dengan warna merah seperti bunga sakura. Malam itu benar-benar panjang. Sung Hwa terdiam, otaknya seakan mati. Berhenti sejenak. Semua saraf seakan lambat untuk menghantarkan impuls sehingga antara otak dan tubuhnya saling menghianati.

Sung Hwa tertidur pulas. Ketika ia bangun matahari sudah membumbung tinggi. Sung Hwa memegang kepalanya yang seakan benar-benar tertimpa reruntuhan. Tubuhnya kaku dan sakit dimana-mana, bahkan ketika ia duduk tubuhnya bergetar.

“Jungjeon Mama, apakah anda sudah bangun?”

“Ya, dayang Jo tolong siapkan air untuk mandi.”

“Ya Jungjeon Mama.”

Di tempat lain dua anak manusia saling berpelukan sepertinya mereka enggan untuk beranjak dari tempatnya. Yang satu dengan yang lainya saling berbisik. Keintiman mereka jelas menggambarkan betapa mereka saling mencintai. Entah itu cinta tulus atau cinta kepalsuan, hanya masing-masing dari mereka yang tahu karena sejatinya kedalaman hati manusia tidak ada yang tahu.

“Apa kamu merasa sedih di sampingku?”

“Jeonha, aku selalu bahagia bersamamu. Tapi aku sedikit kecewa karena Jeonha kemarin berada di istana Ratu.”

“Apa kamu cemburu?”

“Saya tidak berhak untuk cemburu. Saya hanya selir.”

“Tapi kamu menduduki hatiku.”

“Tapi alangkah baiknya jika aku menduduki kursi Ratu.” Gumam Ok Jung.

“Saya ingat jika Jeonha menginginkan anak dariku. Apa Jeonha menginginkan seorang putri? Bagaimana jika seorang putra?”

“Ya, bisa saja laki-laki.”

Jantung Ok Jung langsung berdebar hanya mendengar rencana tersebut. Anak sulung Raja harus darinya dan haruslah laki-laki agar dapat mendapatkan posisi putra mahkota. Meskipun perjalanannya masih jauh selama Raja tidak meninggalkannya, ia masih punya kesabaran untuk menanti.


LANDING ON YOU (Promo Spesial  30 September- 3 Oktober 2021)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang