prologue.

572 118 106
                                                  

ivory means; Taehyung's favorite color.


















Puncak, Cisarua Bogor.

Udara pagi ini sangat rendah, tentu kondisi didaerah Puncak sudah terbiasa dengan dingin dan kabut yang tiap waktu selalu menyelimuti desa.

Samping kanan-kiri dihiasi oleh kebun teh yang tersebar luas nan hijau benderang.

Jalanan pun tidak semulus yang jalan tol punya, batu kerikil terpapar diatas tanah menjadi pijakan.

Seorang wanita paruh baya memakai baju berupa daster panjang sedang menyeruput teh hangat diruang tengah,

“Kie, bangun antar susu!” teriaknya lumayan terdengar dari ujung keujung ruangan rumah minimalis bertema putih salju.

Sang anak yang sedang menggapai mimpi menjadi gitaris sukses pun mengernyit kesal akibat teriakan Ibundanya begitu membahana.

Mimpinya lebur menjadi kerutan tajam didua alisnya yang lumayan tebal, “Ck, Bunda ganggu aja.” gumamnya berdecak kecil.

Menyibak selimut bergambar ironman kesayangannya seraya mengusap dua mata bulatnya sedikit kasar.

Kedua tungkai beningnya memakai sendal rumahan berbulu,

“Jungkookie! ayo nak nanti kesiangan sayang!” lagi-lagi suara cempreng khas Ibu-ibu selalu menjadi alarm alami rumah itu.

Pemilik nama menyembulkan kepalanya diantara daun pintu kamar, “Iya Bunda ini mau mandi gak usah teriak begitu!”

Mendengar omelan anaknya, sosok Ibu itu terkekeh geli.





••



Bukan lagi yang pertama kali jikalau setiap tahun selalu dipindah tugaskan. Terhitung sudah kali ini adalah yang ke-8 bagi Taehyung ditugaskan diluar Kota.

Tubuhnya dipaksa untuk selalu beradaptasi dengan udara yang berbeda-beda. Dan kalau disuruh memilih, ia tidak akan mau ditempatkan disini.

Karena suhu udara yang menusuk tajam diantara pori-pori kulitnya justru membuatnya malas bergerak, enggan menjauh dari kasur dan selimut.

Kenyataan memaksanya jauh dari ekspetasi, pagi ini bahkan sosok gagah berkulit sedikit gelap itu sudah rapi dengan pakaian kandidatnya.

Seorang tentara angkatan darat, sekiranya pangkatnya lumayan tinggi dibanding dengan yang lain. Tapi, tidak ada yang tau selain dirinya dan keluarga.

Intinya, Taehyung adalah seorang Kapten.

“Permisi!!”

Satu teriakan kencang dipagi hari dingin itu cukup membuat si Kim mengernyit keheranan dihari pertamanya menjadi pemuda desa.

Langkah kakinya berjalan menuju pintu utama rumah sementaranya, dengan kedua tangan sibuk membetulkan perintilan pangkat jabatan yang tertera dibahu maupun dadanya.

Saat mencapai halaman rumah, Taehyung disuguhi oleh senyum manis bergigi kelinci seorang pemuda.

Tampilannya memakai modern hanbok berwarna abu, dan sepeda hitam berkeranjang disampingnya.

“Selamat pagi, Kapten Mas Taehyung.” pemuda itu membungkuk sedikit kearah empunya nama yang dipanggil olehnya.

Taehyung hanya diam menatap pemuda tersebut dengan heran,

ivoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang