18. Regrets (2)

23 4 13
                                                  

Pukul 10 : 00 ...

Kantor Kepolisian – Bagian Kriminalitas

Seorang operator yang sedang berdiri di hadapan Kholili angkat bicara, sebelumnya ia sudah diizinkan oleh Kholili. "Beberapa CCTV sudah diperiksa, Pak."

"Hasilnya?" tanya Kholili singkat.

"Sebagian tidak terekam Pak, dan itu beberapa kilometer dari lokasi kejadian perkara. Ada kemungkinan mereka telah mensabotase CCTV itu."

"Hmm ... apakah kau yakin telah memeriksa CCTV itu?" tanya Kholili kembali.

"... Maaf, Pak?" tanya sang operator seakan tak yakin dengan kata-kata yang didengarnya.

"Apakah kau yakin CCTVnya yang disabotase ... atau CCTV itu memang tidak berfungsi?" Kini pertanyaan Kholili menjadi sebuah penjelas.

"Saya ... tidak tahu, Pak." Mendengar apa yang dilontarkan sang operator membuat Kholili geram.

"Saya tidak menerima jawaban itu. Cepat PASTIKAN!" tegasnya dengan intonasi yang tinggi dan memberi penekanan di penghujung kata.

"B-baik. Pak. Akan saya pastikan."

Kholili masih memerhatikan gelagat takut dan kebingungan dari si operator.

Kholili menatap wajah si operator yang enggan berpaling ke arahnya. "Tidak perlu. Saya akan memastikannya sendiri. Kau pergilah." Kata-kata yang Kholili lontarkan membuat operator itu tersentak. Ia merasa bersalah dengan dirinya yang tak becus melaksanakan tugas. Operator itu sekelebat memberanikan diri untuk melihat dengan ragu tatapan Kholili yang dalam dengan ekspresi datar, terukir sedikit masam di air mukanya. Operator itu sedikit menundukkan kepala sebelum meninggalkan ruangan Kholili.

Setelah operator itu menghilang dari pandangan. Kholili lesat bangun dari duduknya, berdecak, berdesis. Mengeluarkan kekesalan.

"Di mana mereka berada?"

./-././.-./ --./..

Raihan masih duduk bersimpuh, semua rasa bercampur aduk pada dirinya. Ia lelah, rasa menyesal yang dalam seakan seperti kerak yang tak mau hilang.

Lagi. Gambaran tentang masa kecil Raihan seketika menjadi butiran-butiran keemasan kemudian terbang dan menghilang. Sepersekian detik Raihan yang masih termenung menyerap apa maksud gambaran yang ditampilkan itu.

Butiran-butiran keemasan itu kembali muncul. Datang dari arah yang berbeda. Kini merajut menjadi sebuah rekaman. Mata Raihan terus fokus pada sesuatu yang ditunjukkan oleh rekaman itu.

Raihan dan teman kecilnya yang bernama Rembulan saling menyembulkan kepala dan tangannya melambai, mereka mengeluarkan seruan-seruan pada seseorang wanita renta yang berjalan laun mendekati sebuah bangunan yang Raihan dan teman kecilnya sama berada di loteng bangunan itu.

Sebuah bangunan yang sangat sederhana, tampak seperti sekolah Taman Kanak-kanak. Bangunan kecil dengan luas tak lebih dari 8 m x 10 m dengan taman kecil di bagian depan. Rumah itu memiliki tinggi dua lantai, muka bangunannya terlapisi oleh kayu yang dicat dan disusun hingga membentuk pola tertentu. Atapnya berbentuk segitiga, tampak lebih tinggi daripada bangunan di sekitarnya. Sebenarnya jika dihitung dengan loteng, bangunan itu adalah bangunan tingkat tiga. Namun, jika dilihat dari muka bangunan, yang tampak adalah rumah dengan ketinggian dua lantai.

Sebuah gambaran itu membuat Raihan tercenung. Ia mengingat ketika tak ada sanak saudara yang bisa merawatnya, pun tetangga. Akhirnya seorang guru yang membinanya mengikuti perlombaan di kota Yogyakarta dan mengantarkannya ke rumah kala kepergian ibunya, mengirim dirinya yang belum genap lima tahun ke panti milik kenalan teman guru itu. Raihan tetap melanjutkan sekolah, sebagian uang sakunya ia dapatkan dari guru pembinanya itu.

E.N.E.R.G.Y  [ON GOING]Where stories live. Discover now