📍Part 1 {Hari Pertama}

144 42 7
                                    

"Bahkan diriku terlalu lemah untuk sekedar memiliki teman laki-laki."
~Zayna Falenta~

==================

Pagi yang cerah dengan sinar mentari di ufuk timur. Suara cuitan burung yang saling bersahutan bagai nyanyian pagi. Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan ujung kerudung berwarna putih dan menerpa wajah sang pemilik raga. Gadis tersebut segera menyibak kerudung yang menghalangi wajah cantiknya. Kemudian dia segera melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Siapa lagi jika bukan Zayna Falenta. Seorang gadis dengan paras cantik dan kepala yang terbalut oleh hijab. Gadis yang kerap disapa Zayna itu merupakan seorang anak yang dibesarkan oleh wanita single parent. Dia adalah Airin Puspitasari, seorang wanita paruh baya yang telah berusaha membesarkan kedua anak perempuannya seorang diri.

Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMK Triwarsana. Mungkin ini adalah hari ke empat bagi siswa lainnya, namun ini adalah kali pertama bagi Zayna. Karena saat kegiatan MPLS, dirinya berhalangan untuk hadir.

SMK Triwarsana merupakan sekolah swasta yang berdiri kokoh di tengah ramainya pusat kota. Letaknya masih satu gerbang dengan SMP dan SMA Triwarsana. Tentu saja Sekolah ini memiliki lapangan upacara yang sangat luas. Beberapa gedung sekolah tampak berjejer rapi mengelilingi lapangan tersebut. Tidak lupa dengan berbagai fasilitas lainnya.

"Syukurlah gak telat," ucapku sembari melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kiriku.

Aku bergegas menuju kelas supaya tidak terlambat. Mengingat ini adalah hari pertama memulai pelajaran.

Saat menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba langkahku terhenti.

"Ah sial. Kenapa harus ada cowo sih?" Ucapku menggerutu sembari memutar balikan badan dan mencari jalan lain menuju kelas yaitu X Akuntansi 4.

Ya, diriku memang memiliki ketakutan berlebih terhadap pria. Bahkan untuk sekedar berhadapan pun tidak mampu. Mungkin bisa dikatakan bahwa diriku mengidap androphobia, yaitu phobia terhadap lelaki. Hal ini tentu sangat mengganggu kehidupanku. Bagaimana tidak? Apabila ada seorang laki-laki di hadapanku saja, jantungku akan berdebar-debar dan badanku melemas.

Oleh karena itu, diriku sengaja memilih sekolah ini khususnya jurusan akuntansi yang siswa laki-lakinya tidak terlalu banyak. Namun bukan berarti tidak ada satupun siswa laki-laki di dalamnya. Mereka ada tetapi jumlahnya hanya sekitar 15 persen dari total keseluruhan siswa SMK Triwarsana.

Sesampainya di kelas, aku kebingungan dalam memilih bangku yang hendak diduduki.

"Lo bisa duduk sama gue," ucap seorang siswi yang kini tengah duduk di bangku kedua.

Segera kuhampiri sumber suara dan menduduki kursi kosong di sebelahnya.

"Terima kasih. Oiya nama gue Zayna, nama lo siapa?" Sapaku sembari mengulurkan tangan.

"Nama gue Berliana Febrianti, panggil saja Liana." Jawabnya dan membalas jabatan tanganku.

Lalu kami mengobrol ringan hingga tak terasa bel masuk berbunyi.

"Selamat pagi anak-anak?" Sapa seorang guru yang baru saja masuk ke kelas.

"Pagi Bu," jawab seisi kelas.

"Perkenalkan nama saya Hana Olivia dan biasa dipanggil Bu Hana dan di sini saya sebagai wali kelas kalian selama tiga tahun kedepan. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kepada kalian semua karena sudah diterima di sekolah ini. Semoga kedepannya bisa betah dan mendapat banyak ilmu di sekolah ini." Lanjutnya.

ZAYFA STORY {On Going}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang