18-Will you be my girlfriend?

450 58 534
                                    


Happy reading!

Semesta puas menertawakan, ada hati yang di terkam rasa takut kehilangan padahal bukan pasangan.

_____

"Eh, Daffa? ngapain di sini?"

Daffa mendongak ke atas, matanya bertatapan dengan Nara. Selang beberapa detik, Daffa memutuskan pandangannya secara sepihak. Daffa segera mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk.

"Nungguin lo," jawab Daffa seraya tersenyum.

Rama menghentikan aktivitas merangkumnya, suara itu tidak asing lagi baginya. Rama menoleh ke samping kanannya, dan mendapati Nara yang di susul oleh Ghina serta Daffa yang duduk manis di kursi Nara.

Eh, wait!

Mulut Rama setengah terbuka. "Sejak kapan Daffa ada di situ? Perasaan, tadi gak ada."

"Kenapa gak ke ruangan UKS aja?" Tanya Nara pada Daffa.

Daffa menyengir, sampai matanya terlihat segaris. "Gue pikir, bentar lagi lo ke kelas. Jadi, gue nunggu lo sambil tiduran."

Rama menelan salivanya susah payah, keringat dingin sudah membasahi tangannya. Rama dapat menyimpulkan, Daffa sudah berada di kelas ini sebelum dirinya masuk ke kelas. Dan itu itu artinya, Daffa mendengar ucapannya dari awal sampai akhir. Oh, tidaaak!

Nara menatap Daffa sendu, menyiratkan rasa bersalah. "Maaf Daffa, udah nunggu lama."

"Gak apa-apa kali, justru gue seneng di sini." Daffa menoleh pada Rama yang juga sedang menatapnya, tak lupa tersenyum smirk padanya.

Rama melengos, ia memutar bola matanya ke sembarang arah. "Sialan! Keciduk lagi ngeliatin lagi."

Nara tersenyum lega. "Ya bagus deh, kalo lo seneng. Takut ngerepotin."

"Emang mau ngapain lo nunggu Nara?" Tanya Ghina yang sejak tadi diam.

Daffa meraih tangan Nara, ia menaruh gantungan bayi panda pada telapak tangannya. "Mau ngasih ini."

Mata Nara berbinar, gantungan itu sangat lucu dan imut. Seperti dirinya. "Makasih Daffa! Gantungan kuncinya gemoy banget, gue sukaaa."

"Sama-sama. Kalo lo suka, nanti gue beliin lagi."

Jika kalian berpikir, Nara akan menggelengkan kepalanya dan berkata "tidak", Itu salah besar!

Nara menyengir dan tersenyum malu-malu kucing setelahnya. Tipikal orang yang ada maunya. "Beliin 5 ya Daf, gue mau ngoleksi gantungan panda."

Daffa terkekeh pelan. "Iya, the queen of panda."

"Lo kok tau sih? gue suka panda," tanya Nara heran.

"Siapa yang gak tahu coba. Tas, casing hp, tempat pensil, sampul buku, gelang, sampai jepitan yang lo pake, itu semua panda."

Nara membenarkan ucapan Daffa, ia memang maniak panda sejak kecil. Tidak ada alasan menyukai panda, yang jelas, Nara selalu senang ketika melihat panda.

"Pulang sekolah jangan dulu pulang ya, gue mau ngomong sama lo."

"Gue tunggu di rooftop sekolah."

Nara mengangkat kedua ibu jarinya ke atas. "Oke, siap."

"Gue ke kelas dulu." Daffa berdiri, ia melenggang  pergi ke kelasnya.

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi tiga menit yang lalu, namun Nara belum juga mengemasi barang-barangnya yang tergeletak di meja. Nara malah memijit pelipisnya pelan, berusaha menghilangkan rasa pusingnya.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang