Sung Hwa sibuk meneliti kain yang baru saja didatangkan oleh dayang Jo. Sesekali dia mengernyit dan tersenyum saat tangannya bersentuhan dengan kain kualitas tinggi itu. Tangannya dengan lihai mengukur dan memotong menjadi berbentuk segi empat.
“Dayang Jo.”
“Iya Mama.”
“Suruh para dayang untuk memotongnya sesuai contoh yang aku beri. Setelah selesai berikan padaku.”
“Iya Jungjeon Mama.”
Dayang Jo masih terdiam di tempatnya, menatap takut pada Ratu In. Antara ingin memberitahukan sebuah berita tapi bibir tidak berani berucap. Sung Hwa yang mengetahui gelagat aneh dari dayangnya merasa terheran.
“Ada apa? Kenapa masih berdiri di situ?”
“Maaf Mama. Hamba ingin memberitahu mengenai Jang Sukwon.”
“Aku tidak mau tahu mengenai dia. Dia bukanlah urusanku.”
“Saya mengerti Mama. Maafkan saya. Saya akan segera menyuruh dayang untuk segera memotong kainnya.”
“Dayang Jo berhenti. Memang ada apa dengan Selir itu?” tanya Sung Hwa pelan.
“Menjawab Mama. Jang Sukwon saat ini sedang berlutut di depan Paviliun Ibu Suri untuk memohon pengampunan.”
“Oh. Baiklah kamu boleh pergi.”
Sementara dayangnya sibuk memotong kain, Sung Hwa tengah sibuk mencampurkan beberapa bahan untuk dijadikan sebagai pewarna. Sung Hwa tidak memedulikan pakaiannya yang kotor karena terkena noda. Dia berkonsentrasi penuh pada kegiatannya. Setelah beberapa menit dihabiskannya, pewarnanya sudah siap dalam beberapa mangkuk.
“Apakah dayang Jo sudah selesai?” tanya Sung Hwa saat telinganya mendengar suara pintu terbuka.
Tak kunjung dapat jawaban dari dayang Jo, Sung Hwa mendongakkan kepalanya dan mendapati Lee yang tengah berdiri tegak. Mendapat kunjungan mendadak dari Lee membuat Sung Hwa bertanya-tanya. Apakah dia butuh bantuannya lagi atau dia ingin memarahinya karena insiden pesta kemarin? Sung Hwa mengerjapkan matanya dengan cantik menatap Lee.
“Apa yang membuat Jeonha berkunjung di paviliunku yang kecil ini?” Tanya Sung Hwa.
“Aku hanya ingin berkunjung.” Mata Lee tertarik untuk melihat beberapa mangkuk yang berisi cairan pewarna.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” pertanyaan itu muncul dari bibir Lee yang terkesan sangat dingin.
“Ya ampun, orang ini kenapa kepo sekali,” gumam Sung Hwa.
“Saya sedang menyiapkan beberapa pewarna.” Bibir Sung Hwa melengkung berbentuk senyuman yang sempurna.
Lee memandang Ratunya dengan aneh, “Untuk apa?”
“Aku pikir Jeonha tidak akan tertarik dengan apa yang aku lakukan. Jeonha lebih tergerak hatinya dengan simpanan, Jang.”
“Jungjeon perhatikan katamu.”
“Jangan memperhatikan ucapanku tapi perhatikan tindakan dari simpananmu.” Sung Hwa mencoba mencibirnya.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang Dia.”
“Aku memang tidak tahu tentang dia. Dia juga tidak terlalu penting bagiku.”
“Apa kamu ikut berkonspirasi dengan Ibu Suri?”
“Apa maksud Jeonha?”
Lee memperhatikan ekspresi Ratunya yang terlihat kebingungan. Lee berpikir bahwa Ratunya tidak ikut terseret dalam kasus bahwa Ibu Suri telah memberikan obat infertilitas. Menyadari kebodohannya Lee tertawa kecil. Sung Hwa mengernyit saat mendengar tawa kecil pria itu. Suara itu menyenangkan bagi telinganya. Jika dia mampu merekamnya dia akan senang hati untuk merekamnya dan menjadikan sebagai lagu pengantar tidur.
“Apa yang Jeonha tertawakan? Apa Jeonha salah minum obat?”
“Tidak. Aku akan pergi sekarang.”
Sung Hwa merapatkan tangannya untuk memberikan sensasi hangat. Di malam yang dingin ini, ia harus berkunjung di kediaman Ibu Suri. Tentunya atas perintah ibu mertuanya itu. Sung Hwa dan para dayangnya berjalan melewati beberapa bangunan istana. Setiap penjaga yang melihatnya pasti akan memberi hormat.
“Apakah Ibu Suri dalam keadaan sakit?”
“Saya rasa tidak Jungjeon.”
“Tapi kenapa tiba-tiba ingin bertemu?”
Langkah Sung Hwa semakin lambat. Ia sudah kelelahan. Seharian ia mengajari para dayangnya untuk membuat sapu tangan dengan lukisan yang disebut dengan batik. Di era Joseon sulaman sudah menjadi hal yang biasa jadi Sung Hwa ingin memberikan sentuhan baru untuk produknya.
“In Hyeon, kamu datang.” Ibu Suri terlihat senang melihat menantunya.
“Ibu Suri, apakah Ibu Suri sakit? Ibunda terlihat tidak sehat.” Sung Hwa memegang tangan Ibu Suri, tangannya sedingin es batu.
“In Hyeon, ini bukan waktunya mengkhawatirkanku.”
“Ibu Suri.”
“Kita harus mendapatkan hati Lee Suk Jong yang sudah jatuh dalam perangkap siluman rubah itu.”
Sung Hwa melepaskan genggamannya, “Hati Jeonha sudah jatuh bagaimana bisa membuatnya berbalik?”
“Jungjeon, ada satu cara yaitu melahirkan seorang anak laki-laki untuknya.”
Sung Hwa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Melihat kembali wajah mertuanya, Sung Hwa memaksakan senyumannya.
“Aku sudah memanggil cenayang dan kamu hanya menuruti perkataanku saja.”
Sung Hwa kembali dalam keterkejutannya. Gadis itu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya.
“Cenayang? Bukankah itu sebangsa dengan dukun,” gumam Sung Hwa.
Suara pintu terbuka dan dari balik pintu sudah ada cenayang. Sung Hwa meremas roknya dengan gemetar saat Cenayang itu mengamatinya dengan lekat. Sung Hwa ingin segera lari dari tempat itu tapi mengingat perannya sebagai Ratu, ia menekan keinginannya. Sung Hwa terus berpikir apakah dia akan ketahuan kali ini? Mengingat bahwa ia bukanlah Ratu yang asli. Sung Hwa memperhatikan bayangan yang timbul dari lantai.
“Saya sudah melihatnya Ibu Suri dan akan mengatakan hasilnya secara pribadi kepada Ibu Suri.”
“Baiklah. Jungjeon kamu bisa tunggu di luar.”
“Baik Ibu Suri.”
Sung Hwa menunggu dengan perasaan waswas. Bagaimana jika cenayang itu mengetahui identitas aslinya. Apakah dia akan dipenggal? Memikirkan hal yang paling buruk membuat keringat dingin muncul di sekitar pelipisnya. Mata ketakutan Sung Hwa tampak seperti terselubung. Sung Hwa terjungkat kaget saat pintu terbuka. Cenayang itu memperhatikan matanya.
“Aku tahu kamu bukanlah Ratu In.”
“Apa yang kamu maksud?”
“Aku tidak akan memberitahukan kepada Ibu Suri karena kita dalam kapal yang sama.”
♡♡♡
Sung Hwa menatap dayang Jeong, dayangnya terdahulu. Pagi-pagi Sung Hwa dikejutkan oleh kedatangan tamunya. Sung Hwa benar-benar tidak mempunyai ingatan dari pemilik tubuh asli sama sekali tapi mendengar cerita dari dayang Jeong, ia sungguh terkejut.
“Saya diminta untuk bersembunyi oleh Menteri Min untuk beberapa waktu karena selir Jang kembali ke istana. Tapi saya diculik dan saya dibebaskan kembali sehingga saya bisa melayani Jungjeon Mama kembali.”
“Jang itu apa mengancam Menteri Min? Ayah Ratu In? Mertua Jeonha?”
“Iya Mama.”
“Aku benar-benar tidak suka dengannya dari awal! Aku akan pergi ke Istananya. Tidak! Ah kakiku bahkan tidak suka menginjakkan ke sana.”
“Jungjeon Mama tidak perlu repot-repot ke sana.”
“Kamu benar! Dayang Jeong panggilan dayang Jo.”
“Baik Mama.”
Sung Hwa akan melabrak selir itu setelah ia menyelesaikan urusannya. Urusan yang dimaksud adalah urusan bisnisnya. Ya, Sung Hwa berencana untuk menjual sapu tangan. Sapu tangan ini berbeda dengan sapu tangan yang sudah beredar di Joseon dengan hiasan sulaman melainkan sapu tangan Sung Hwa menggunakan hiasan dengan teknik painting.
“Dayang Jo, apakah semuanya sudah selesai?”
“Menjawab Mama, semuanya sudah selesai. Sapu tangan buatan Mama akan diedarkan tiga hari lagi di perayaan pasar malam.”
“Itu bagus pastikan semuanya terjual. Untuk saat ini kita lakukan promosi terlebih dahulu. Apakah kamu sudah membuat brosur.”
“Iya Mama sesuai perintah Jungjeon Mama.”
“Oh iya sekarang apa jadwalku?”
“Jungjeon Mama hari ini melakukan inspeksi di Biro Penyelidik.”
“Hanya itu saja?”
“Masih ada lima tempat yang harus Jungjeon Mama kunjungi.”
“Buatkan aku jadwal terperinci dan buang pertemuan yang tidak terlalu penting.”
“Baik Jungjeon Mama.”
Sung Hwa dan para dayangnya pergi ke Biro Penyelidik. Sejujurnya Sung Hwa juga tidak tahu apa yang akan ia lakukan di sana. Ia hanya ingin memerankan perannya dengan apik. Di tengah perjalanan saat melewati paviliun Chwi Seon Dang, Sung Hwa melihat seseorang yang baru keluar dari tempat itu. Seseorang itu menatapnya dengan pandangan meremehkan. Sung Hwa terlalu lelah untuk memperhatikan orang itu, siapa lagi kalau bukan selir Jang Sukwon. Tapi melewatkannya juga akan tidak baik, ia punya urusan dengannya. Sung Hwa meliriknya sedikit sebelum tersenyum anggun pada Jang Sukwon.
“Apa yang membuat Jungjeon Mama datang ke tempat sederhanaku ini?”
“Aku rasa kamu terlalu percaya diri. Aku tidak bermaksud untuk berkunjung tapi melihatmu, aku teringat sesuatu.”
“Apa itu Jungjeon Mama?”
“Apa kamu menyuruh seseorang untuk menculik dayangku? Dan bahkan mengancam ayah Ratu In?”
“Dayangmulah yang memancing dulu dan Menteri Min yang memberikan sesuatu kepada saya untuk digunakan mengancam.”
“Ayahku memberikan alasan untuk mengancam?”
“Jungjeon Mama, apa kamu tahu? Kursi yang kamu duduki sekarang itu adalah hasil dari tangisan dan jeritan saya.” Ok Jung tampak menantang Sung Hwa.
“Aku bahkan tidak sudi untuk menduduki kursi dari hasil tangisan dan jeritanmu. Jadi jangan bersikap tidak sopan.”
“Jungjeon Mama sebelum anda bertanya apa yang saya lakukan pada Menteri Min lebih baik mencari tahu apa yang dilakukan Menteri Min agar anda duduk di kursi Ratu.”
“Beraninya kamu mengkritikku dan memintaku untuk menyelidik ayahku sendiri! Kamu hanyalah selir Sukwon tingkat empat, jadi jaga sopan santunmu.”
“Jungjeon Mama tolong tanya sendiri kepada Menteri Min. Dan tolong katakan, Kami sudah mencapai kesepakatan jadi dia bisa tenang.
“Jika kamu bersikap kasar aku akan lebih kasar lagi. Jadi tutup mulutmu jika kamu tidak mau ditampar.”
“Untuk apa Jungjeon datang kemari?” pertanyaan Lee yang mendadak membuat Sung Hwa terkejut.
“Kapan dia datang kemari?” gumam Sung Hwa.
“Jungjeon Mama datang begitu saya selesai meminta pengampunan atas insiden pesta kemarin.”
“Astaga Jungjeon benar-benar baik,” ucap Lee sarkastis.
“Tidak! Aku tidak sengaja mengunjunginya. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat paviliun yang dibangun oleh suamiku untuk gundiknya. Tidak buruk rupanya.”
Lee menatapnya dengan tajam. Sung Hwa cukup dekat merasakan emosi kuat yang terpancar dari Lee. Sung Hwa diam-diam mengamatinya dan mengambil langkah untuk menantang.
“Apa Jeonha marah padaku?”
KAMU SEDANG MEMBACA
LANDING ON YOU (Promo Spesial 30 September- 3 Oktober 2021)
Historical FictionApa jadinya jika kamu terlempar dalam dimensi lain. Inilah yang dialami Han Sung Hwa gadis modern yang terlempar dalam serial novel bertema saeguk. Mendarat di tanah Joseon, Sung Hwa menjadi seorang Ratu yang tidak dicintai oleh suaminya. Mengingat...
