04. Unpleasant

175 32 22
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

.

(HARI KE-4 SETELAH KECELAKAAN)

Tak ia hiraukan keramian yang berada di balik punggung. Belum mengering air mata yang berlinang membasahi wajah pucat pias. Jemarinya saling tertaut melingkupi sebelah tangan Renjun. Selimut yang semula penuh dengan bercakan darah kini sudah berganti bersih. Mata sembab Ryujin enggan teralih dari paras tenang Renjun yang tak terganggu dengan kejadian menyeramkan beberapa puluh menit lalu.

Apa yang kini tengah ia lakukan membuatnya tak sadar, sejak belas menit lalu ada mata yang memandangnya lekat. Pria itu berdiri pada sisi jendela, menghadap pada keseluruhan ruangan, namun adanya Ryujin lebih menarik untuk menjadi pusat perhatian.

"Kau," suaranya terdengar ringan untuk seorag pria dewasa.

Ryujin tak sahuti sapaan tadi, atau wanita itu tak mendengarnya.

"Kau bisa mendengarku, Nona Shin Ryujin?"

Namanya yang terpanggil membuat Ryujin melepas atensi dari Renjun. Dahinya berkerut samar kala sebelah mata menyipit, adanya mengingat siapa pria yang di hadapannya saat ini. Kapan pula pria itu tiba diapun tak tahu. "Kau bicara denganku?"

"Jika namamu masih Shin Ryujin," balasan cepatnya seiring dengan tubuh yang berdiri lebih tegap. Tak lagi bersandar pada kusen jendela.

"Ya," nadanya bingung, "aku Shin Ryujin. Lalu dirimu?"

Pria itu tersenyum, dingin yang semula terasa pada dirinya kini sedikit cair menghangat. "Ini pertama kali kita bertemu?"

Ryujin bergerak untuk mengubah arah duduk, tubuhnya membungkuk singkat sebagai bentuk salam. "Aku minta maaf jika tak menyadari kehadiranmu. Kau kenalan Renjun atau salah satu pihak kepolisian?"

Tanya Ryujin tak segera berbalas, hanya sebuah tatapan yang ia berikan. Dorongan kecil dari tubuhnya membuat pria itu bergerak untuk mengambil dua langkah mendekat. "Aku kenalan Renjun," ia tatap Renjun saat menyebut nama pria tersebut. "Teman dekat," jelasnya belakangan.

Mata memerah disertai bulu mata yang masih saling merapat karena air mata, membuat Ryujin terlihat begitu menyedihkan. Wanita itu berdiri, mengulurkan tangan untuk sekedar berjabat tangan. "Aku Shin Ryujin, manajer Huang Renjun. Maaf jika aku tak mengenalimu."

Tangan Ryujin yang terulur dipandangi lebih dulu, sebelum ia balas dalam remasan lembut jabat tangan hangat. Sampai di sana, tak ada pengenalan diri dari pria itu pada Ryujin.

"Ah," ringisan kecil Ryujin menandakan dia menyadari suatu hal. Ditariknya tangan itu dari genggaman si pris asing, namun tak berhasil. "Tak masalah jika kau tak ingin mengenalkan diri. Aku sudah terbiasa dengan keunikan teman dekat Renjun," kekehan canggung Ryujin membuat suasana lebih kacau.

PANDORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang