Raja, Kamu Melanggar Perjanjian

31K 3.5K 48
                                        

🌺


Otak Sung Hwa berpikir keras. Jika bisa digambarkan mungkin ada kepulan asap yang keluar dari ubun-ubunnya. Sung Hwa terus memaksakan untuk mengingat alur dari cerita novel yang menjebaknya saat ini. Namun nihil semua seakan putih abu-abu. Dia hanya mengingat bahwa selirnya akan memberikan keturunan dan perebutan takhta tidak bisa dihindari lagi. Di akhir novel Ratu In akan mati dengan tragis.  Jika dia merombak kisahnya apa yang akan terjadi? Risiko apa yang akan ia terima. Jalan satu-satunya adalah bermain aman, jika mendesak baru tunjukkan taring.

“Jadi apa kesepakatannya?”

“Pertama, jangan memperlihatkan kemesraanmu dengan selir di depanku.”

“Baiklah.”

“Kedua, berikan aku wajahmu. Tunjukkan kasih sayangmu di depan semua orang saat melihatku meskipun itu hanya pura-pura. Bagaimana?”

“Baiklah akan aku lakukan."

“Ketiga, penerus takhta haruslah dari keturunanku.”

“Kamu.”

“Jika Jeonha menghadapi masalah lagi, datanglah padaku. Aku akan menyelesaikannya tapi tentunya ada harga yang harus dibayar. Sebaiknya Jeonha kembali sekarang, ini sudah malam.”

Setelah kepergian Lee, Sung Hwa masih di tempatnya. Memikirkan sesuatu. Di zaman modern dia adalah gadis dengan karir cemerlang. Pebisnis muda di bawah naungan ayahnya. Setelah melintasi dimensi dan menjadi Ratu, kegiatannya hanya seputar urusan Istana dalam dan itu membuat Sung Hwa bosan.

“Jungjeon Mama, apakah ingin tidur sekarang?”

“Tidak, aku ingin keluar. Aku ingin mencari inspirasi.”

“Biar saya dan dayang akan menemani Jungjeon.”

“Jangan! Aku akan keluar sendiri. Aku tak akan jauh dari paviliunku. Aku akan segera kembali setelah aku menemukan inspirasi.”

“Tapi Jungjeon Mama, saya merasa khawatir. Apalagi belakangan ini ada rumor yang mengatakan ada api hantu.”

“Api hantu?”

“Iya Jungjeon Mama. Banyak dayang yang melihat bola api yang melayang-layang di malam hari.”

“Aku tidak akan percaya seperti itu. Jadi jangan halangi aku.”

Terpaan angin malam langsung menyambutnya. Kakinya dengan mantap melangkah. Dengan penerawangan di bawah bulan, hanya sedikit yang bisa dilihat oleh visus. Sung Hwa berjalan tidak terburu-buru ataupun lambat. Langkahnya tenang seperti air yang mengalir. Sung Hwa berjalan tanpa arah. Dia hanya mengikuti intuisinya. Langkahnya terhenti saat matanya ternoda oleh pasangan yang sedang berpelukan. Lee dan Ok Jung.

“Kamu baru saja berjanji padaku beberapa menit yang lalu dan kamu sudah melanggarnya. Aku benar-banar bodoh mempercayai omonganmu.”

Sung Hwa langsung berbalik, mengganti arahnya. Tujuannya keluar di malam hari adalah untuk mendapatkan inspirasi atau ide. Jika kamu mendekati sumber masalah yang kamu dapatkan hanya kesia-siaan. Sung Hwa menendang-nendang kerikil yang terlintas di depannya.

Sepanjang perjalanan dia berpikir kegiatan apa yang membuatnya senang dan mendapatkan keuntungan besar di dalam istana yang sesak ini. Berjalan-jalan berputar-putar di bawah sinar rembulan meski tak tahu sekarang berada di mana. Langkah Sung Hwa kembali terhenti saat mendapati jalan buntu. Di depannya ada sebuah pagar.

Penasaran dengan dunia luar Istana. Sung Hwa mendapati sebuah ide. Berjalan-jalan di luar Istana sepertinya menyenangkan. Sung Hwa bersusah payah untuk memanjat tembok. Percobaan pertama gagal, percobaan yang kedua gagal. Jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi hingga membuat tangan dan kakinya lecet.

“Aku pernah kabur dari rumah saat ayah mengurungku di kamar. Hanya sebuah pagar seperti ini, itu akan mudah bagiku.”

Sung Hwa mencoba memanjat yang ke sekian kalinya dan akhirnya dia berhasil. Tiba-tiba angin bertiup membawa musim panas dengan irama yang begitu berenergi. Karena kurang hati-hati, gadis itu kehilangan keseimbangan membuatnya terjatuh berdebum ke tanah yang kasar.

“Ah.” Sung Hwa menahan rasa sakit di pergelangan kakinya .

Sung Hwa dengan lembut memijat pergelangan kakinya. Sepatunya dia buang. Meskipun itu sepatu baru tetapi rasanya sungguh menyakitkan, tidak ada sol yang empuk di dalamnya. Matanya dengan liar mengamati sekitar, tidak ada orang di sana kecuali semak belukar di sampingnya. Sung Hwa perlahan bergerak mundur saat seekor ular muncul dari semak-semak.

Matanya menyipit dengan kebingungan, ia merasa takut dan cemas.  Dengan rakus tangannya menggapai apa pun yang berada di sekitar untuk memukul ular. Tidak mendapatkan sesuatu, sepatu yang masih menempel di salah satu kakinya dia lempar tepat mengenai kepala ular. Namun ular itu semakin marah dan menggigit betisnya.

Jeritan kesakitan langsung mendesis dari bibirnya. Darah putih merembes dari sudut matanya. Ular itu melepaskan diri saat racun benar-benar sudah dia tancapkan. Tubuh pemilih asli sungguh lemah , berbeda dengan tubuhnya yang sebelumnya sangat kuat. Sung Hwa langsung ambruk di tempatnya. Keringat dingin mulai muncul dari pori-porinya. Dengan bayangan yang sedikit kabur, dia melihat siluet merah. Matanya masih terpaku, pikirannya menjadi kosong.

“Je-“

Bagaimana dia bisa di sini bukankah dia bersama Ok Jung. Ya, orang itu adalah Raja Lee. Penampilannya tidak tertandingi, sekali lirik orang akan mudah tahu bahwa dia adalah matahari Joseon. Lee melepaskan jubahnya dan memakaikannya pada tubuh Sung Hwa. Lee mengangkat rok Sung Hwa sedikit ke atas.

“Apa yang kamu lakukan?”

Lee membungkuk dan sedikit mencubit area yang terluka, menyedot racun yang dia bisa. Sung Hwa sudah tidak bisa merasakan apa-apalagi selain matanya yang perlahan mengabur dan perlahan gelap.

Lee duduk di samping Ratu In yang tertidur. Menatapnya dengan lamat, wajah itu penuh dengan ketidakberdayaan. Berbeda jika mata itu membuka. Semburan mata api dan suara yang muncul akan penuh dengan kalimat yang menohok namun sekarang dia tergeletak lemah tak berdaya. Lee merasa bingung tetapi pria itu tidak terlalu memikirkannya karena ia tidak pernah bisa memahami hati Ratunya.

“Jeonha, Jungjeon Mama sudah melewati masa kritisnya. Racun sudah dikeluarkan semuanya, hanya butuh istirahat sebentar Jungjeon Mama akan segera kembali sehat,” ucap tabib Ma.

“Kalian semua bisa keluar!”

Kini hanya tertinggal Lee dan Sung Hwa. Tangan Lee terulur untuk memegang tangan Sung Hwa mencoba untuk meresapi keadaan hatinya. Ia baru saja mengutuknya tadi siang dan sekarang dia terbaring lemah, sungguh tidak tahu begitu cepat perguliran kehidupan seseorang.

Di sebuah restoran mahal, keluarga Han tengah berbincang dengan keluar Kim. Sung Hwa yang sedari tadi hanya terdiam, tidak terlalu menanggapi obrolan yang mereka bicarakan. Di sisi lain seorang pria muda tengah melihat Sung Hwa tanpa berkedip. Pria muda itu adalah pewaris satu-satunya dari Kim Corp. Matanya dengan santai mengagumi calon istrinya. Dia sangat cantik dengan rambut hitamnya yang diikat tinggi. Merasa diperhatikan, Sung Hwa langsung menatap balik mata itu.

Bibir Sung Hwa terus bergumam tak jelas. Lee yang berada di sisinya merasa bingung melihat kenyitan di dahi Sung Hwa.

“Apa yang kamu lihat dalam mimpimu sehingga membuatmu tak nyaman?”


LANDING ON YOU (Promo Spesial  30 September- 3 Oktober 2021)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang