17-Antara mulut dan hati

401 59 596
                                    

Lucu, ketika aku harus melepaskan sesuatu yang belum pernah ku genggam.

-Nara Pramudita Nareswari

_____

Bel masuk sudah berbunyi 5 menit yang lalu, namun suasana kelas masih riuh. Bu sita menginformasikan akan telat beberapa menit masuk ke kelas.

Naufal menatap Rama heran, Rama terlihat gelisah sajak kembalinya dari  belakang gudang sekolah. Tangan Rama memang memegang buku, namun matanya menatap lurus ke depan. Bahkan, Rama tidak menyadari buku yang di pegangnya dalam keadaan terbalik.

DRGGG DRGGG.

Naufal menoleh sengit pada lelaki berambut ikal yang memutar kursi di depannya. Lelaki itu bertopang dagu seraya mengelus perutnya yang datar.

"Aduh, lega bro," Ucap Alwi yang selesai membuang hajat.

Naufal memicingkan matanya lalu mengendus-endus seperti Ros kiyoshi. "Gue mencium bau-bau yang menjijikan."

"Lo gak cuci tangan ya?" Tebak Naufal seraya menutup hidungnya dengan tangan.

Refleks, Alwi mencium aroma tangannya. "Ah, iya! Gue lupa cuci tangan gak pake sabun!"

"Tapi wangi kok!" Tambahnya.

"Hidung lu bermasalah Keknya," tukas Naufal tajam.

Alwi menyodorkan tangannya pada Naufal. "Nih, cium tangan gue kalo gak percaya."

"Jingan! Enyah lo dari hidup gue!" Seru Naufal panik, ia beringsut pindah ke bangku si Ucup. Jangan sampai dirinya terkontaminasi virus di tangan Alwi.

"Ram, lo mau cium tangan gue?" Tanya Alwi pada Rama.

Rama tidak menjawab, ia hanya menatap Alwi tajam. Setajam silet.

Rama dan Alwi memang kurang dekat, Rama baru mengenalnya setahun yang lalu saat MPLS. Kalau tidak di paksa Naufal, mungkin sampai sekarang Rama belum menganggap Alwi sebagai teman. Entahlah, Rama melihat aura negatif dalam diri Alwi.

Alwi bergidik ngeri dan cengengesan setelahnya. "Gue tahu jawaban lo, gak usah ngeliatin gitu juga kali."

"Fal, sini lo!" Panggil Alwi pada Naufal yang masih menutup hidungnya.

"Enggak! Jijik aku sama kamu mas!" Seru Naufal dengan nada di alay-alaykan.

Alwi hanya memutar bola matanya malas dan beralih menatap Rama.

"Oh iya, tadi pas gue di kamar mandi liat Nara di gendong Daffa," ucap Alwi pada Rama.

"Bukannya tadi dia nyamperin lo? Kok bisa sama Daffa?" Tanya Alwi heran.

Raut muka Rama berubah panik, ia meremas buku di tangannya tanpa sadar.

Naufal kembali mendudukkan tubuhnya di samping Rama, lalu menatap Rama tajam. "Lo nyakitin Nara lagi?" Tebak Naufal, yang seratus persen benar.

Rama hanya diam memandang mereka berdua, ia bingung harus menjawab apa. Rama tidak bisa berkata-kata, karena itu memang kenyataannya. Untuk kali ini, Rama yang terkenal pintar berubah menjadi orang bodoh.

BRAKKK.

Gebrakan di meja terdengar nyaring, membuat orang yang menggebrak meja itu menjadi pusat perhatian kelas.

"Eh, Rama! Lo ngapain pukul Nara hah?!" Tanya Ghina murka.

"Lo pukul Nara?!" Tanya Naufal dan Alwi kaget.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang