Terkadang dunia mimpi jauh lebih indah dari kenyataannya membuat insan merasa bimbang. Tetap tenggelam dalam mimpi tersebut atau bangun, menerima kepahitan hidup.
Ada yang lebih sulit dari rumus fisika, yaitu merubah mimpi menjadi nyata.
Ada yang l...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Arghh ...," geram gadis berparas cantik ini, memainkan gawai nya. Sesekali dia melihat tugas matematika yang masih bersih.
Besar harapannya ada salah satu teman berkenan mengirim jawaban. Namun, semua teman-temannya mendadak pelit dan egois.
Terutama siswa-siswi pandai di kelas. Mereka dermawan untuk segala hal, namun perihal jawaban tugas dan ujian mereka spesies paling pelit.
Tak perduli seberapa besar rupiah yang diberikan padanya. Mereka tak akan sudi mengganti dengan jawaban milik mereka. Pernah dapetin temen kek gitu?
Di ruangan yang relatif kecil. Tepatnyadi meja belajar. Dengan gawai yang masih digenggam gadis itu, terdapat chatting masuk.
|Ke atas sekarang!
Males!|
|Waktu lo satu menit.
Maksa.| Chatting aja, kenapa, sih?|
|Gak dateng gue anggap tolakan.
Otw.|
"Daebak! Malam-malam disuruh ke atas. Sendirian," ketusnya, beranjak dari kursi yang entah sejak kapan membuatnya nyaman.
Dia berjalan dengan buku bersampul klasik di genggaman. Dia hendak mengembalikan pada pemiliknya.
Di dapur, kakinya menaiki anak tangga menuju tempat yang dimaksud oleh pengirim pesan.
Dengan ragu gadis itu menaiki anak tangga yang gelap lantaran tiada penerangan di sepanjang anak tangga. Pada anak tangga satu sampai tiga dia masih mantap. Semakin ke atas dirinya semakin gemetar.
Sesekali dia menoleh ke belakang. Seolah-olah ada yang mengikuti langkahnya, ternyata tidak ada. Hanya ada dirinya di tempat itu.
Bulu kuduknya mendadak berdiri. Telapak tangannya tiba-tiba dingin dan berair. Entah angin dari mana meniup tengkuk lehernya.
"Sial! Jika bukan garagara dia, gue enggak sudi ke atas sendirian," gerutu gadis itu seraya meremas baju tidur yang dia pakai.
Konon katanya, dapur di rumah kakaknya terdapat penghuni tak kasat mata.
Sampai di rooftop yang gelap.
"Aaa ...."
Dia dikejutkan oleh bayangan hitam yang besar. Berdiri tepat di hadapannya. Teriakan gadis itu terhenti karena mulutnya dibungkam oleh tangan kekar.
"Vio, " panggilnya dengan napas terengah-engah.
"Kenapa?" tanya lelaki yang dipanggil Vio.
"Bodoh! Lo yang kenapa nyuruh gue ke sini?"
"Apa siswa yang berhasil meraih peringkat satu pararel layak dipanggil si bodoh?" tanya Vio, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Lelaki itu tengah menyombongkan kepandaiannya.
"Nih." Lelaki itu menyodorkan buku tulis bersampul cokelat.
"Apa ini?" tanya gadis itu.
"Baca!"
Gadis itu mulai mengeja. "Buku tugas matematika." Kemudian dia menyipitkan matanya. "Tumben, ada udang di balik batu, nih," tuduh gadis itu, menyipitkan matanya, menyelidik. Tak lama kemudian, dia mengubah raut muka menjadi kesal.
"Kenapa gak langsung kirim lewat WattsApp?"
"Zaman sudah modern, tapi pemikiran masih kuno," lanjutnya meledek.
"Gue gak punya nomer lo," jawab Vio enteng.
"Lo pikir gue bego? Boong lo ketebak."
"Maybe."
Lelaki itu berjalan menuju kamar yang kebetulan bersebelahan dengan rooftop milik gadis itu. Gadis itu kembali memanggil nama Vio, namun si empu hanya menoleh tak berniat menghampiri. Tatapan tajam dan muka datar yang selalu mendominasi. Menambah aura ketampanannya.
"Kalau belajar bareng, boleh?" Gadis itu memohon sembari menunjukkan puppy eyes-nya.
"Sudah malam, balik lalu salin tugasnya!" titah Vio tanpa memunggungi lawan bicara. Suara beratnya terdengar dingin, sedingin angin malam ini.
Kenapa satu tahun ini lo tetap sama? Tetap sedingin udara malam ini. Tidak bisa, ya, semesta menjadikan lo sehangat mentari pagi dan semanis arumanis?
Gadis itu tersenyum kecut pada langit malam. Sungguh miris hidup tetangganya. Bagaikan foto hitam putih yang monoton.
"Vio," panggil gadis itu berteriak.
Vio yang sudah di depan pintu kamar menjawab sedikit berteriak, "Apa?"
"Antar gue sampai ke bawah!"
"Enggak!"
"Iya!"
"Enggak!"
"Vio!" serunya, mengerucutkan bibirnya dan tangan menyilang di dada.
Dengan malas, Vio berjalan lalu memanjat dinding setinggi seratus senti. Dinding pembatas antara balkon kamarnya dengan rooftop milik gadis itu.
Gadis itu tersenyum manis di antara gelap malam. Ada rasa bahagia yang bergejolak di lubuk hatinya.
Vio telah tepat di depannya membuatnya salah tingkah. Zara memukul kepalanya untuk mengeyahkan pikiran gila yang sempat terlintas.
"Ayo!"
Mereka berjalan menuju tangga rumah gadis itu. Vio terdiam melihat tetangganya semakin turun menjauh. Tiba-tiba dia memanggil "Zara."
Pemilik nama itu menoleh. Menatap manik mata lelaki itu seperti ada harapan untuk dirinya.
"Hati-hati," ujar Vio berhasil mengukir senyum manis di bibir Zara.
"Ada sesuatu yang tak terlihat," imbuhnya disertai senyum mengejek. Kemudian dia berlari meninggalkan Zara.
"Vio!" teriak Zara. Dia menggeram kesal. Tak pernah sehari saja Vio bertingkah manis kepadanya.
Kemudian Zara melanjutkan langkahnya seraya berpikir. Dia baru menyadari bahwa Vio benar-benar tampan dengan senyuman yang terukir di bibir.
"Selama satu tahun menjadi tetangga manusia kutub. Baru kali ini gue melihat dia tersenyum," ujarnya lirih seraya tersenyum-senyum.
Pikirannya berkecamuk. Memikirkan tetangganya yang tak pernah tersenyum serta memikirkan bagaimana mengembalikan senyum tersebut.
Otaknya berpikir keras, sementara tangannya menggegam erat buku ditangan. Kemudian, dia baru menyadari bahwa buku bersampul klasik ini masih di tangannya.
"Eh, kenapa bukunya masih di tangan gue?"
"Sebenarnya isinya apa, sih?"
Rasa penasaran telah menumpuk, membuat tangannya gatal untuk membuka. Meski pernah mendapat larangan dari Vio. Dengan lihai tangan mulus itu membuka sampul berukuran tebal. Seketika keluar cahaya terang yang menyilaukan mata.
Dirinya merasa terhisap dalam buku tersebut. Suara teriakan yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak membantu.
***
Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Entah kalian membaca atau sekadar meng-klik. Sungguh saya merasa senang. Tapi besar harapan saya kalian benar-benar membaca cerita ini dan memberikan apresiasi. Seperti vote dan comment.