Kondisinya sekarang terlalu lemah untuk sekedar memberi mantra agar sapu itu bergerak kearahnya, atau  untuk berlari dengan cukup gesit dan terbang dengan cepat—ia tentu tidak bisa.

"Apakah kau yakin dia di sekitar sini? tidakkah seharusnya kita kembali kearah tadi, ini dekat dengan pemukiman manusia, tidak mungkin dia disini" sebuah suara lain terdengar, sedikit lebih serak dan basah. 

Pemukiman manusia? Mollis menatap bayinya. Ia selalu ingat salah satu tetuanya mengatakan, bahwa bayi berdarah campuran manusia dan penyihir tidak akan menjumpai sihirnya hingga ia berusia empat belas tahun. Binar harapan mulai tumbuh di mata hazel Mollis.

"Aku sangat yakin" suara berat tadi kembali terdengar. Mollis bisa mendengar pria tersebut maju beberapa langkah kedepan, hanya sekitar lima belas meter dari pohon tempatnya bersembunyi. 

"Firasat scafn ku tidak pernah salah" lanjut suara itu. degup jantung Mollis semakin kencang, mereka adalah scafn—musuh terbesar bangsa penyihir. 

Bagaimana bisa mereka mencapai dunia manusia? bahkan hanya beberapa penyihir yang mampu menembus portal menuju dunia manusia.

Dirinya benar-benar tidak punya waktu sekarang. Mollis tidak peduli apakah dia mampu kembali ke klan penyihir, yang penting putrinya selamat. 

Mollis membenamkan tubuh bayi tersebut kedalam jubahnya—mereka, para scafn tidak boleh mengetahui ia sudah melahirkan.

Mollis menarik nafas, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangkit, tangan kirinya sekuat tenaga ia sembunyikan di dalam jubah bersama dengan putri tercintanya. 

Mollis memejamkan mata sesaat, sesaat yang amat menakutkan baginya. Ia mencoba menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang diluar kendalinya.

Tepat ketika para scafn akan maju beberapa langkah lagi, Mollis berlari cepat kearah sapu terbang miliknya, sembari terus berharap sapu itu masih bekerja dengan baik. 

"Itu dia!" pekik beberapa scafn bersamaan. 

Tanpa pikir panjang Mollis meraih gagang sapu tersebut dan segera menungganginya. Ia rapalkan mantra dalam hati, selang sedetik kemudian, sapu tersebut telah terbang tinggi mengangkasa menjauhi empat orang scafn yang berteriak marah. 

Dua diantara mereka mengarahkan moncong senjata apinya kepada Mollis, Satu peluru menggeser lengan Mollis, perih, tapi tak membuatnya lengah mengendalikan sapu terbangnya.

"Sial! penyihir kurang ajar!" umpat salah satu dari mereka—yang bersuara berat. 

Mollis menghembuskan nafas lega, setidaknya para scafn tidak bisa terbang, mereka takkan mampu mengejarnya selagi ia terbang tinggi di angkasa. 

Dan sepertinya, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka melihat bayi kecilnya, tidak boleh.

Ia menatap hamparan langit yang masih gelap di depannya. Lalu memutar kepalanya kearah timur, matahari masih malu-malu bersembunyi, belum menampakkan dirinya secara utuh, hanya memperlihatkan horizon merah keemasan, Mollis selalu menyukai fajar. 

Ketika harapan-harapan baru muncul, dan ketika ada satu hari baru yang menunggu untuk dijalani. Dia bahkan kini punya putrinya, malaikat kecilnya.

The AuroraWhere stories live. Discover now