PROLOG

82 17 33
                                                  

[sit and read calmly]


"Beraraklah laksana musim semi. Menerbangkan anginnya, memeluk bunga-bunga dan menghangatkan. Memasung keelokan, mekarlah kedamaian"

"Bersinarlah seterang musim panas. Melukiskan semburat jingga dilangit, mengisyaratkan istirahat. Benderang tenang, membawa kebahagiaan"

"Melangitlah layaknya musim gugur. Berpasuk pada harap, menyuarakan kerja keras. Menggugurkan kemalasan"

"Sedang, merendahlah bak musim dingin. Merengkuh keangkuhan dengan wibawa selembut salju, dan jadilah dewasa"

Wanita dengan netra hazel itu menatap lekat pada sosok dalam dekapannya—bayi mungil yang masih merah. 

Setetes air mata jatuh mengaliri pipi pucatnya. Ia menengok gusar kearah barat, tampak jelas tengah mewaspadai sesuatu. 

Kepalanya bergerak kearah sebaliknya, ufuk timur tampak indah dengan semburat merah bak pelita di penghujung cakrawala yang kelabu menggelap.

"Fajar" bisiknya parau, matanya bergerak meneliti tiap inci hamparan langit yang mulai menjingga dihadapannya. 

"Fajar.. Aurora" seulas senyum tipis terbentuk indah di bibir pucatnya. 

"Kunamai dirimu Aurora" ia mengecup lembut dahi pualam sang bayi dengan penuh kasih sayang.

Derap langkah samar-samar terdengar dari arah barat, wanita tersebut tampak panik, dengan susah payah mencoba bangkit dari posisi duduknya. 

Sakit, yang dirasakannya. Ia berusaha tetap menopang bayi dalam gendongannya dengan satu tangan, tangan lainnya dengan kuat menahan bobot dirinya agar mampu bangkit.

Derap langkah tersebut terdengar semakin jelas. Wanita tadi sudah berada pada posisi jongkok, mencoba menyembunyikan tubuh rampingnya di balik sebuah pohon lebar. Jantungnya berpacu tak karuan, air mata mulai menetes deras dari pelupuk matanya, memikirkan nasib buah hatinya.

Matanya mulai bergerak menelaah tiap sisi hutan tempatnya bersembunyi itu. Mencari sesuatu, sebuah sapu—sapu terbang. 

Sebuah suara berat memecah kesunyian hutan tersebut tepat ketika dari ujung matanya sang wanita menemukan apa yang ia cari.

"Berhenti" ucap suara berat di belakang pohon tersebut. 

Sang wanita dapat melihat bayangan besar seorang pria mengangkat tangan kanannya sebagai isayarat untuk berhenti. Dia tidak sendirian, ada beberapa orang berdiri di belakangnya, sekitar tiga atau empat orang. 

Dan, mereka memanggul senjata api.

"Aku yakin penyihir itu ada di sekitar sini. Si malang Mollis itu akan segera tamat" lanjut suara berat tadi. sang wanita semakin kalut, mereka sedang mencari dirinya.  

Semenjak dua hari yang lalu dia memang merasa diamati. Dan apapun yang sedang terjadi, Mollis yakin itu bukan hal baik. 

Mollis mengeratkan genggamannya pada kain yang menyelimuti tubuh sang bayi. Apakah mereka tau dia sudah melahirkan?

Mollis berpikir cepat. Sapu terbangnya hanya sekitar lima meter kearah jam sepuluh dari tempatnya duduk. Tapi ia tak mungkin mengambil tindakan gegabah dengan langsung berlari kesana, mereka akan langsung melihatnya. 

The AuroraWhere stories live. Discover now