1 -- Gara-gara Dawet Ayu

143K 3.7K 124
                                    

Eva POV

Sejauh mata memandang, hanya hamparan sawah hijau yang selalu setia menemani perjalananku ke kota kelahiran Mama ini, Yogyakarta si kota pelajar. Begini nih enaknya mudik naik mobil siang - siang, jadi bisa puas memandangi pemandangan sawah jawa yang indaaa...h banget.

Disetiap tahun, hanya momen ini yang aku tunggu; lebaran. Karena kalau hari biasa, nggak akan mungkin kami sekeluarga bisa pulang ke kampung, semua sibuk dengan urusannya masing - masing. Paling - paling kalau lagi ada acara penting yang mendesak baru kami bisa pulang. Dan itu juga jarang.

Makanya kesempatan ini yang paling aku tunggu - tunggu. Jujur, aku udah jatuh cinta banget sama kampung ini. Selain udara dan pemandangannya yang super top, kota ini punya cerita sendiri dihati aku. Sebenernya bukan cerita tentang aku sih, tapi cerita Mama dan Papa. Cuman, aku juga jadi sedikit berharap kalau suatu saat nanti, aku juga bisa menemukan cintaku disini, di kota ini.

"Yogyakartaaaa... i'm coming..." teriakku gembira dengan kepala yang setengah keluar dari jendela mobil.

Pletak.

Duh kepala ku... sakit, mami...

"Jangan teriak-teriak, awas ya kalau nanti ngerengek - rengek minta buka puasa lagi!"

Ampun Ma, galak bener sih.

Ibu-ibu yang tadi jitak kepala ku ini adalah Mama. Cantik, awet muda dan... semangat. Semangat mendzolimi aku, maksudnya. Mama ku yang wajahnya sebelas dua belas denganku ini masih aja cantik di umur nya yang baru bulan kemarin memasuki kepala empat, kalau Wulan Guritno doang sih cantik nya lewat dibanding Mama (cuma lewat doang tapi ya, haha), cuma jutek nya itu lho... kalah deh nenek sihir juga.

"Aduhh... emang siapa juga yang mau buka, sorry lah yaw," jawabku meringis sambil mengelus kepala ku yang kayak nya bakalan benjol nih.

"Prettt... paling bentar lagi juga minta beli dawet ayu."

Ohiya benar. Berhubung kita sedang melaju di-- entah di daerah mana sekarang, pokoknya di pinggir jalan sini banyak yang menjual es dawet ayu. Lumayan, tenggorokan aku emang udah kering nih. Siang bolong gini pula.

"Nah ide bagus! Papa, nanti minggir ya kalo ada yang jual es dawet ayu lagi. Kering banget tenggorokkan....aduhh duuhh..."

Belom juga selesai bicara, kepala ku sudah kena jitak Mama lagi. Dua kali! Apa aku bilang, Mama itu level galak nya udah di atas nenek nya si nenek sihir. Kebayang gak tuh?

"Kamu tuh puasa kok kayak gitu, sih, kebanyakan bolong. Malu sama umur!" seru Mama.

"Aku juga bolong baru berapa sih. Santai aja, Ma."

"Tiga belas! Tiga belas hari kamu udah bolong puasa. Padahal puasa nya aja baru jalan dua puluh hari. Berarti berapa hari kamu baru puasa nya?" tanya Mama.

Aku pun berpikir sambil merenggangkan jari - jariku untuk membantu menghitung. "Dua puluh dikurang tiga belas sama dengan tujuh. Jadi, aku baru puasa tujuh hari, Ma."

"Nah! Tu-juh ha-ri!" Mama berdecak sambil geleng-geleng kepala. Lagi dugem ya, Ma?

"Ya kan karena halangan, Ma," jawabku sambil mengerucutkan bibir. Tanganku menyilang di depan dada. Biasa..., gaya andalanku kalau lagi ngambek.

"Halangan masa lama banget, sih, apaan coba yang keluar? Itu darah masa nggak abis - abis. Kalau duit yang keluar sih enak."

Ih si Mama frontal banget, kan ada Papa. Malu banget ngomongin ginian didepan cowok.

Papa yang sedari tadi hanya geleng-geleng dengan aksi ngambek ku dan omelan Mama, kini akhirnya angkat bicara. "Sudah, sudah... Eva, kamu liat tuh adik kamu, dia puasa anteng - anteng aja tuh, nggak rewel. Masa kamu kalah sih."

Aku mendengus bosan. Mulai lagi deh dibanding - bandingkan sama adik sempurna ku itu, Eza. Entah kenapa, mungkin karena aku ini anak pertama jadi hasil produksinya masih tahap percobaan, jadi aku agak gak beres begini. Beda dengan Eza yang hampir seratus persen gak ada minus nya.

"Kalau dia mah emang biasa ngegembel, Pa. Nggak makan tiga hari juga kuat," jawabku asal.

"Huss... jangan bicara begitu sama adik kamu!" tegur Papa. Aku pun kembali memanyunkan bibir.

"Susah nasehatin dia. Percuma, Pa. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri," sambung Mama.

"Malah belum masuk kuping kanan udah keluar lagi, Ma," ceplosku sambil tertawa kencang.

"Evani Juliana Atmodjo!" bentak Mama yang langsung menghentikan tawaku seketika. Habislah sudah, kalau Mama sudah manggil nama ku lengkap begini, percayalah, ini bukan tanda - tanda baik.

"Kamu nih, jangan bikin puasa Mama batal ya!" bentak Mama lagi dan kini lebih berapi-api. Aw... serem sist kalau udah begini.

Si Papa ngelihat aku dimarahin Mama malah cuma cekikikan dibalik stir mobil. Bantuin aku kek, Pa...

"Ma, sabar ya. Istighfar. Ini masih siang lho, nanti kalau batal kan sayang. Mbak Eva kan juga cuma bercanda." Adikku menenangkan Mama, mengelus pelan bahu Mama dari kursi belakang.

Ahh, malaikat penolong ku datang. Thanks god...

Adikku yang paling manis ini sifat nya memang bertolak belakang banget sama aku dan Mama yang super bar-bar. Eza kalem dan lebih sabar, bisa bikin hati siapapun luluh kalau dengar dia ngomong. Lembut banget...

Tapi, kalau soal cantik sih aku dan Mama yang nomer satu. Eh, enggak ding, aku yang nomer satu. Mama nomor dua. Hihihi narsis boleh kan, ya?

Bukannya Eza tidak cantik, hanya saja Ia lebih manis, kulitnya lebih gelap dari aku dan Mama. Secara garis besar, aku dan Mama terlihat bukan seperti wajah orang pribumi, kami memiliki wajah khas orang China tapi mata kami tak sipit seperti mereka. Hanya saja bentuk muka, postur tubuh yang mungil dan kulit yang putih membuat kami terlihat agak 'beda' dari orang Indonesia kebanyakan.

Mama menghela napas panjang sambil ber-istighfar berulang kali. "Untung aja Mama punya anak satu yang manis begini. Udah baik, sopan santun, penyayang, lembut, rajin, pinter masak, perfect deh! Beda banget sama yang satu lagi tuh," ucap Mama setengah menyindirku.

"Uhuk! Nyindir, bu?" gumam ku sambil terus mengerucutkan bibir. Masih dengan aksi ngambek.

Seisi mobil lalu tertawa. Menertawakan ku yang sedang merajuk. Bahkan Mama tertawa paling kencang sampai mengeluarkan air mata. Pada jahat banget sih sama aku. Hiks..hiks.. Ibu peri tolongin cinderella, dong..

***

Ada kalanya, cinta tak harus berbalas. Ada kalanya, harapan atas kepemilikan hatinya harus kau kubur dalam - dalam bersama rasa itu. Hanya mampu mengagumi dan mencintai dalam diam, tanpa pernah berharap akan terbalaskan.

Seperti diriku, yang selalu mencintai dia tapi tak pernah terbalaskan. Bahkan dia pun tak tahu kalau aku mencintainya.

Kulirik Eza sekilas, Ia sedang tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Ditambah lagi, hari telah malam, didalam mobil pun gelap dan wajahnya tersorot layar ponsel jadi semakin membuat tawa nya semakin jelas. Aku jadi makin penasaran.

"Lihat apa sih kok ketawa - tawa sendiri?" tanyaku padanya. Tubuhku sedikit merapat ke tubuhnya, mengintip sedikit layar ponselnya.

"Ini, Mas Raskal lucu banget ngirim video lagi joget dangdut ke aku," jawab Eza masih sambil tertawa kecil. Ia pun menunjukkan ponselnya yang terputar video Raskal sedang berjoget itu kepadaku.

Dan saat itu pula, duniaku langsung terhenti. Dadaku kembali terasa nyeri, membuat sesak mendalam. Seharusnya aku sudah biasa dengan perasaan sakit ini, seharusnya aku sudah bisa mengatasi kecemburuan ini, tapi hatiku malah seakan tak mau berkompromi. Tetap saja sakit itu masih terasa.

Ternyata seperti ini rasa sakitnya melihat orang yang kita cintai mencintai oranglain. Apalagi, mencintai adik kandung sendiri.

***

Hai.... ini cerita pertama aku nih. Masih amatiran banget. Mohon maklum ya. Hihihi

Vomment nya ditunggu..

Kiss bye ~~

Our HopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang