16-Dia tidak mencintaimu

411 62 595
                                    


Terkadang, kita terlalu fokus pada kesedihan, hingga melupakan orang yang membawa kebahagiaan.

2000 word. Hati-hati bosen;

_____

Uhuk-uhuk.

Nara mendadak tersedak cilok, ia meraih botol air mineral di sampingnya dan meneguknya sampai habis.

Nara terkejut dengan video yang di putar Ghina. Video itu menampilkan Rama yang tampak kesal melihat kedekatan Nara dan Daffa di lapangan basket. Rama mengawasinya dari jarak jauh, di parkiran. Walaupun di ambil dari jarak jauh, video itu berhasil di abadikan cukup jelas oleh Ghina.

Nara menyentuh dadanya, berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. "INI BENERAN?"

Ghina tersenyum puas. "Bener dong, no settingan."

Mata Nara berbinar sempurna. "Makasih Ghina! Ini cukup sebagai bukti."

"Kalo lo mau, gue bisa cari tau lebih," sahut Ghina di sela aktivitas makannya.

Nara tersenyum lebar. "Enggak perlu, ini udah lebih dari cukup kok."

"Ya udah, kalo lo maunya gitu." Ghina menyengir sebelum melanjutkan. "Di tunggu traktirannya."

Nara mengangkat ibu jarinya ke atas. "Beres!"

"Oh iya, Rama harus tanggung jawab!"

Ghina mengernyit, ia menolehkan kepalanya 90 derajat pada Nara. "Tanggung jawab? Emang Rama buntingin lo?"

Nara celingukan ke penjuru kantin, matanya mengabsen setiap murid yang keluar masuk kantin.

"Lo cari siapa?" Tanya Ghina heran.

"Lo liat Rama?" Tanya balik Nara.

"Enggak deh, gue juga gak liat Naufal sama Alwi tuh," jawab Ghina.

Nara berdiri, ia mengeluarkan satu lembar kertas merah dari sakunya dan menaruhnya di atas meja. "Gue nitip bayar, sekalian traktir lo. Makan aja cilok gue, baru gue makan dua."

"Lo mau kemana, Ra?" Tanya Ghina yang makin heran dengan gelagat Nara.

Nara tidak menjawab, ia berlari kencang keluar kantin. Sangking semangatnya, Nara tidak sengaja menabrak lelaki yang masuk kantin.

Tanpa mendongak, Nara mengucapkan kata "maaf" dan melanjutkan larinya. Tujuannya hanya satu, hanya Rama.

***

Nara mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, ia tidak menemukan Rama. Kelas ini hanya berisi dua jamet yang sedang berdebat. Entahlah, mereka mendebatkan apa. Perkiraan Nara, mereka sedang mendebatkan kepala botak pak Ruslan yang tidak tumbuh-tumbuh.

"Naufal! Alwi!"

Kedua jamet itu menghentikan aktivitas debatnya dan beralih menatap Nara. "Apaan?"

Nara menatap mereka silih berganti. "Lo berdua liat Rama gak?"

Alwi tersenyum geli. "Wah gila sih! Baru aja istirahat, udah nanyain doi aja. Bucin lo."

"Ngaca, sahabat!" Naufal menyodorkan kaca spion motor Beat di depan muka Alwi.

"Widihhhh! hasil kemarin mantep juga fal! Perjuangan enggak pernah mengkhianati hasil!" ucap Alwi bangga.

"Yoii dong!" Timpal Naufal tak kalah bangga.

Nara bergidik ngeri, Mereka berdua mempunyai hobby yang aneh. Mencuri kaca spion orang. Entahlah, Nara juga tidak tahu apa faedahnya.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang