P2 | first for everything

3K 348 209
                                        

Ontario, California, US, 2008
Woodcrest Junior High School

"Hobi-ya, kamu pernah berciuman sungguhan enggak? Bagaimana rasanya?"

Choi Hoseok, seseorang yang akrab dipanggil Hobi di lingkungannya saat ini-sebab mereka kesulitan memanggilnya: Hoseok-hanya melempar pandangan ke kanan, menemui gadis yang biasa berada di sekitarnya nyaris selama sepuluh tahun lamanya, Song Karen, yang baru saja melontarkan pertanyaan aneh padanya. Well, tidak aneh juga, sih, hanya terkadang pertanyaan Karen ini memang sangat ajaib mendekati vulgar nyaris sinting. Si Choi tersebut bahkan pernah ditanyai cara bagaimana masturbasi oleh gadis itu. Untung saja kakak perempuannya pengertian, sehingga Karen sudah lebih dulu diseret paksa untuk mendapat ceramah panjang dari Jiwoo sampai nyaris lima jam lamanya.

Gadis nakal, Hoseok biasa berpikiran seperti itu semenjak ia menetap di California dan bertemu dengannya. Kendati sebenarnya bukan benar-benar nakal, Karen hanya banyak penasaran saja sampai hal seperti itu saja selalu ingin tahu, bahkan mencoba.

Masih dengan menyimpulkan tali sepatu untuk segera mengikuti latihan ekstrakulikuler olah raga tennis, pemuda itu lantas cuma mendengkus pendek dan membalas malas, "Mungkin belum, pacar saja enggak punya."

Karen yang sejak tadi berjongkok di hadapan Hoseok, kali ini memilih duduk sembarang dengan kedua kaki yang sedikit terbuka, sampai si Choi yang ada di hadaannya harus telan saliva susah payah lantaran rok pendek sekolah berwarna hitam milik gadis itu sedikit tersingkap. Gadis itu merengut memperhatikan air muka Hoseok. "Kalau begitu cari pacar, sana. Nanti kalau sudah berciuman, baru kamu kasih tahu aku bagaimana rasanya. Ya?"

Seenaknya, Hoseok juga tak kalah lupa dengan nama tengah gadis tersebut: Song Seenaknya Karen. Benar-benar menyebalkan, kendati Hoseok tidak benar-benar membencinya. Tidak sama sekali malah.

"Enggak mau."

"Kenapa?!"

Kali ini Hoseok mengusak surainya sendiri, lalu menyugarnya ke belakang, sebelum akhirnya memakai topi tennis-nya dan kemudian berdiri. "Enggak ada yang cocok, lagi pula mau apa pacaran?"

"Merasakan rasanya berciuman, dong." Karen ikut berdiri, membenarkan sekilas seragam sekolahnya yang hanya memiliki warna hitam putih dan dasi berwarna hijau. "Malah temanku bilang, kalau kamu hoki, kamu bisa merasakan seks dengan pacarmu juga."

Namun, merasa bahwa gadis di hadapannya itu hanya membersihkannya secara asal, Hoseok yang tak tahan dengan rumput-rumput kecil yang masih menempel di rok seragam milik Karen, lantas dengan tak keberatan mengulurkan seluruh jemari kanan mikiknya untuk menepuk beberapa kali bagian sisi paha sampai bokong milik si gadis Song itu. Jangan ditanya respon gadis itu, sebab itu sudah biasa mereka lakukan. Menyentuh satu sama lain.

"Kalau hanya itu alasannya, denganmu juga bisa, 'kan," katanya, "ciuman atau mungkin-seks juga."

Tumbuh di California-apalagi bergaul dengan makhluk semacam Song Karen, terkadang membuat Hoseok lupa tentang nasihat Jiwoo juga perbedaan kultur di Negara aslinya. Pemuda tersebut sudah telanjur hidup terlalu bebas di sini, yang sebenarnya masih dianggap aneh dan tak biasa jika Jiwoo, ayah atau ibunya tahu.

Karen mendengkus. "Ah, ayolaaaah, kamu lakukan saja dengan seseorang demi aku, ya, ya? Kamu kan sahabatku satu-satunya, Hobiii."

"Memang apa yang membuatmu putus asa sampai seperti ini? Pacarmu?"

"Mhm, dia ingin menciumku tapi aku bilang belum siap karena bingung. Aku sebenarnya enggak tahu caranya dan takut mengecewakannya. Hehe."

Yang ketiga, selain nakal dan juga seenaknya, Song Karen ini selalu membuat Hoseok menjadi objek yang bisa ia gunakan untuk kelakuan liarnya.

[M] 2. TEQUILA SUNRISE | BOOK VER. COMING SOONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang